Bantaran Sungai Klaten Disulap Jadi Kebun Hidroponik, Bupati Apresiasi
Baca dalam 60 detik
- Warga Kalikotes, Klaten, memanfaatkan bantaran sungai untuk budidaya hidroponik dan buah, memproduksi selada, pakcoy, kangkung, jambu kristal, dan belimbing.
- Inisiatif ini mendukung program ketahanan pangan pemerintah daerah dan menjadi sarana edukasi bagi warga sekitar.
- Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengapresiasi dan membeli produk dalam acara Sambung Rasa, mendorong kemandirian pangan desa.

Warga Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mengubah bantaran sungai menjadi lahan produktif melalui pengembangan tanaman hidroponik dan budidaya buah. Inisiatif yang digagas Central Hidroponik Tirta Arum di Desa Gemblengan ini mendapat apresiasi langsung dari Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, dalam acara Sambung Rasa pada Jumat (2/10).
Dalam kegiatan tersebut, Tirta Arum memamerkan hasil budidaya sayuran seperti selada, pakcoy, dan kangkung, serta buah-buahan seperti jambu kristal dan belimbing yang ditanam di sepanjang bantaran sungai. Bupati Hamenang bahkan membeli beberapa produk dan memuji kualitasnya. "Wah jambune ayu-ayu niki. Kulo nggih tumbas Jambu Kristal sama Belimbing. Joss," ujarnya.
Pengelola Tirta Arum, Paimin, menjelaskan bahwa partisipasi dalam acara Sambung Rasa merupakan ajang memperkenalkan potensi pangan yang dikembangkan masyarakat. "Kita menampilkan tanaman hidroponik dan hasilnya. Ada selada, pakcoy, kangkung. Buah kita tanam di bantaran sungai ada belimbing dan jambu," tuturnya.
Menurut Paimin, pengembangan hidroponik tidak sekadar berorientasi jual beli. Prioritas utamanya adalah memenuhi kebutuhan pangan warga sekitar. "Kami mengikuti program pemerintah yakni ketahanan pangan di lingkungan. Bagaimanapun sayuran di lingkungan wajib ada," tegasnya.
Selain produksi, Tirta Arum berfungsi sebagai pusat edukasi. Warga diajari teknik bercocok tanam hidroponik yang efisien lahan. "Kami edukasikan warga cara menanam hidroponik, untuk mencukupi kebutuhan sendiri dulu, baru dijual ke luar," jelas Paimin.
Pendekatan ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ketersediaan pangan dari lingkungan sendiri. Dengan memanfaatkan lahan terbatas, termasuk bantaran sungai, masyarakat membuktikan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari tingkat desa.
Acara Sambung Rasa juga menjadi ruang aspirasi warga kepada Pemerintah Kabupaten Klaten. Berbagai layanan dan bantuan diberikan, memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun kemandirian pangan.
Ke depan, model seperti ini berpotensi direplikasi di daerah lain. Pertanyaannya, sejauh mana dukungan kebijakan dan pendanaan dapat memperluas dampak inisiatif serupa? Pemerintah daerah dituntut tidak hanya hadir dalam seremoni, tetapi juga memastikan keberlanjutan program.



