Format Baru MotoGP 2027 Tuai Pro-Kontra: Bagnaia Dukung, Acosta Protes Keras
Baca dalam 60 detik
- MotoGP resmi mengumumkan format akhir pekan baru untuk musim 2027, memicu perdebatan di kalangan pembalap.
- Francesco Bagnaia dan Luca Marini menyambut baik tambahan sesi kualifikasi sprint, sementara Pedro Acosta dan Alex Marquez menolak karena beban fisik dan mental yang meningkat.
- Perubahan ini juga menghapus sesi pemanasan Minggu pagi dan menambah jumlah sesi kualifikasi menjadi dua per akhir pekan, yang dikritik karena memperpendek karier pembalap.

MotoGP secara resmi mengumumkan serangkaian perubahan format akhir pekan yang akan berlaku mulai musim 2027, dan keputusan ini langsung memecah belah paddock. Pembalap Ducati Francesco Bagnaia dan pembalap Honda Luca Marini menyatakan dukungan, sedangkan Pedro Acosta (KTM) dan Alex Marquez (Gresini) vokal menentang karena dinilai memperberat tuntutan fisik dan mental para rider.
Perubahan paling signifikan adalah penambahan sesi kualifikasi khusus untuk balapan sprint. Jika sebelumnya hanya ada satu sesi kualifikasi pada hari Sabtu, kini akan ada dua sesi kualifikasi terpisah—satu untuk grand prix dan satu untuk sprint. Selain itu, sesi pemanasan (warm-up) pada Minggu pagi dihapus, dan sesi latihan bebas kedua (FP2) dipangkas menjadi 30 menit. Keputusan ini diambil setelah pertemuan Safety Commission di Motegi, Jepang, beberapa waktu lalu.
Bagnaia, yang merupakan salah satu pembalap paling berpengaruh di paddock dan rutin menghadiri pertemuan Safety Commission, menilai perubahan ini sebagai langkah maju. Menurutnya, penambahan sesi kualifikasi adalah permintaan lama para pembalap sejak sprint race diperkenalkan. "Kami selalu meminta dua sesi kualifikasi. Dua start, bukan hanya satu, jadi bagi saya tidak masalah," ujarnya. Meski demikian, ia menyayangkan hilangnya sesi pemanasan Minggu pagi. "Saya suka format baru ini, tapi yang tidak saya sukai adalah hilangnya warm-up. Akan lebih baik jika tetap dipertahankan," tambahnya.
Bagnaia juga menyoroti rendahnya partisipasi pembalap dalam pertemuan Safety Commission. Menurutnya, hanya empat pembalap yang hadir dalam pertemuan terakhir di Motegi, dan mereka tidak keberatan dengan perubahan yang dijelaskan. "Jika ada 20 pembalap, kami bisa mempengaruhi keputusan. Tapi dengan hanya empat, sangat sulit," tegasnya.
Di sisi lain, Pedro Acosta justru menyuarakan kekecewaan mendalam. Pembalap KTM itu menilai keputusan ini diambil tanpa memberi ruang bagi pembalap untuk memilih. "Tidak peduli apa yang kami pikirkan, kami tidak diberi pilihan. Mereka memaksakannya begitu saja," kata Acosta. Ia menyoroti risiko cedera yang tinggi, terutama dengan dihapusnya sesi pemanasan setelah kecelakaan pada Sabtu. "Saya tidak tahu apakah menghilangkan warm-up ketika Anda jatuh pada Sabtu itu ide bagus; saya juga tidak yakin memasukkan 22 pembalap ke dalam sesi kualifikasi 15 menit adalah ide bagus," ujarnya.
Acosta juga mengaitkan absennya dirinya dari pertemuan Safety Commission dengan jadwal yang semakin padat. "Saya tidak hadir karena tidak ada waktu. Kami memiliki semakin banyak hal dan semakin banyak stres. Saya pikir kita harus bergerak ke arah yang berlawanan; berhenti sejenak dan berpikir bahwa pembalap perlu tenang, karena dari sini"—ia menunjuk kepalanya—"kita tidak baik-baik saja." Sebagai solusi, ia mengusulkan pengurangan jumlah balapan sprint menjadi setengahnya, atau sekitar 5-6 balapan, dengan alasan tidak semua sirkuit menghasilkan aksi yang menarik.
Alex Marquez juga mengkritik proses pengambilan keputusan. Menurutnya, keputusan ini diambil antara championship dan tim, tanpa melibatkan pembalap. "Anda menerimanya karena itulah yang ada. Tapi Anda memperkenalkan lebih banyak momen berisiko selama akhir pekan. Mereka menuntut lebih banyak dari kami. Ini adalah championship baru, dan Anda menerimanya atau pergi," ujarnya. Marquez mengaku tidak menyukai format baru karena menambah beban di tengah jadwal 22 balapan dan 22 sprint. "Kami sudah tidak setuju dengan banyaknya balapan, dan kami selalu ingin mengurangi sprint setengahnya. Tapi tidak ada yang akan berubah, tidak peduli seberapa banyak kami mengeluh," tegasnya.
Fabio Quartararo, yang akan pindah dari Yamaha ke Honda musim depan, juga menyoroti aspek teknis. Dengan motor 850cc dan ban Pirelli yang baru pada 2027, ia menilai penambahan waktu di lintasan bukanlah hal yang bijak. "Dengan motor dan ban baru, menambah menit tambahan bukanlah hal terbaik. Jika kita ingin meniru F1, kita bisa lihat berapa menit mereka berada di lintasan. Mereka tidak terus-menerus berkendara seperti kami," kata Quartararo. Ia menyarankan agar sesi latihan bebas diperpanjang menjadi satu jam, terutama untuk FP2 yang hanya 30 menit. Meski demikian, ia tidak terlalu mempermasalahkan hilangnya sesi pemanasan.
Luca Marini, yang hadir dalam pertemuan Safety Commission, lebih positif. "Ini adalah proposal dari tim untuk lebih meningkatkan tontonan dan popularitas. Saya pikir ini bisa menjadi perubahan yang positif," ujarnya. Marini menambahkan bahwa dua sesi kualifikasi adalah permintaan lama para pembalap sejak sprint race diperkenalkan. "Saya merasa kami melakukan hal yang benar agar MotoGP dapat berkembang pesat. Saya harap para penggemar juga menikmatinya dan memahami bahwa motorsport ini adalah yang terbaik di dunia," pungkasnya.
Perubahan format ini juga patut dicermati oleh penggemar MotoGP di Indonesia, terutama menjelang Grand Prix Indonesia yang menjadi tuan rumah. Dengan jadwal yang lebih padat dan sesi tambahan, para pembalap dituntut memiliki stamina ekstra. Jika keluhan para rider terus berlanjut, bukan tidak mungkin MotoGP akan mengevaluasi kembali format ini di masa depan. Akankah perubahan ini benar-benar meningkatkan kualitas tontonan, atau justru mengorbankan keselamatan dan kesejahteraan pembalap? Waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan dari para bintang lintasan tampaknya belum akan surut dalam waktu dekat.



