Rumah di Chicago Jadi Oase Migrasi Kupu-Kupu Monarch, Perjuangan Seorang Ibu Imigran
Baca dalam 60 detik
- Claudia Galeno-Sánchez mengubah kediamannya di Pilsen, Chicago, menjadi suaka kupu-kupu monarch dengan menanam milkweed dan bunga liar asli.
- Populasi monarch terus menyusut akibat hilangnya habitat, cuaca ekstrem, dan pestisida; upaya perlindungan di AS tertunda hingga 2030.
- Gerakan serupa dapat menginspirasi kota-kota di Indonesia untuk memperkuat ruang terbuka hijau dan konservasi penyerbuk lokal.

Di tengah jalanan beton lingkungan Pilsen, Chicago, sebuah rumah dengan cat warna-warni mencolok mencuri perhatian. Di sanalah Claudia Galeno-Sánchez, 49 tahun, mengubah halaman depan dan belakang rumahnya menjadi suaka bagi kupu-kupu monarch—spesies yang setiap musim gugur menempuh perjalanan hampir 4.800 kilometer menuju Meksiko.
Galeno-Sánchez menanam milkweed dan bunga liar asli, tanaman yang menjadi tempat bertelur sekaligus sumber makanan bagi larva dan kupu-kupu dewasa. Ia tidak hanya menyediakan habitat, tetapi juga menjadikan rumahnya ruang edukasi bagi tetangga dan anak-anak sekolah. Bersama pelukis mural terkenal Héctor Duarte dan warga sekitar, ia menyulap fasad rumahnya menjadi kanvas raksasa yang mengundang rasa ingin tahu.
Kesadaran itu muncul dari pengalaman pribadi. Sepuluh tahun lalu, saat pulang ke kampung halamannya di Puebla, Meksiko, ia terkejut karena langit yang dulu penuh kupu-kupu kini nyaris kosong. “Sebelum menjadi ibu, saya tidak tahu banyak tentang lingkungan,” ujarnya dalam bahasa Spanyol. “Melihat spesies terus hilang dan planet memanas, saya merasa inilah saatnya berbuat sesuatu—bukan hanya untuk anak saya, tetapi untuk generasi mendatang.”
Meski populasi monarch timur sempat naik dalam beberapa tahun terakhir, para ahli memperingatkan bahwa laju penurunan masih lebih cepat daripada pertumbuhannya. Spesies ini tetap berada di ambang kepunahan. Kegagalan advokasi di tingkat federal membuat gerakan akar rumput seperti yang dilakukan Galeno-Sánchez menjadi semakin krusial.
Ia pun belajar dari kesalahan. Awalnya, ia mengira menyelamatkan monarch berarti beternak ulat di dalam ruangan lalu melepasnya. Ternyata, cara itu justru melemahkan kemampuan bertahan hidup di alam liar. “Kita harus menanam habitat alami mereka di luar, karena mereka bukan bayi manusia; mereka spesies lain,” tegasnya. “Mereka butuh sinar matahari, perubahan suhu, bahkan predator membuat mereka lebih kuat untuk bermigrasi.”
“Kupu-kupu monarch bermigrasi. Kami juga bermigrasi. Bedanya, monarch tidak butuh paspor.” — Claudia Galeno-Sánchez
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Galeno-Sánchez tiba di Chicago sebagai anak imigran tanpa orang tua, dan ia tidak bisa mendampingi ayahnya yang meninggal karena kanker akibat status imigrasinya saat itu. Kupu-kupu menjadi pelarian sekaligus jembatan emosional bagi banyak imigran yang merasakan hal serupa.
Sejak memulai suaka kupu-kupu, Galeno-Sánchez memperluas aksinya. Ia menanam tanaman asli di berbagai sudut lingkungan, memberi milkweed ke kebun komunitas di kawasan industri, dan melalui donasi membiayai warga yang membantu merawat tanaman. Delapan proyek tanaman asli telah berdiri, termasuk di sekolah-sekolah terdekat. Organisasi nirlaba “Women for Green Spaces” yang ia bantu dirikan berambisi menggandeng lebih banyak sekolah di Chicago untuk mengajarkan pentingnya merawat lingkungan.
Bagi Galeno-Sánchez, melindungi monarch adalah bagian dari misi besar: mengingatkan manusia akan keterkaitan antarspesies. “Dengan melindungi mereka, kita juga melindungi penyerbuk lain dan pada akhirnya melindungi manusia,” tuturnya.
Kisah ini relevan bagi Indonesia yang menghadapi tekanan serupa terhadap keanekaragaman hayati. Alih fungsi lahan, penggunaan pestisida berlebihan, dan perubahan iklim mengancam populasi penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu. Inisiatif warga di kota-kota besar—dari Bandung hingga Surabaya—dapat meniru pendekatan Galeno-Sánchez: menanam spesies asli di pekarangan, sekolah, dan ruang publik. Pemerintah daerah pun bisa memperkuat kebijakan ruang terbuka hijau yang ramah penyerbuk.
Pertanyaannya, akankah gerakan kecil dari halaman rumah mampu membalikkan tren kepunahan global? Ataukah kita hanya menunggu hingga spesies ikonik ini benar-benar hilang dari langit? Waktu yang akan menjawab, tetapi tindakan hari ini menentukan apakah generasi mendatang masih bisa menyaksikan keajaiban migrasi monarch.



