Reliance Ambani Borong Minyak Venezuela, Sementara Investasi Kilang Trump Jalan
Baca dalam 60 detik
- Reliance Industries menjadi pembeli terbesar minyak mentah Venezuela di luar Amerika Serikat, dengan 76% impor India bulan September berasal dari perusahaan itu.
- Langkah ini bersamaan dengan komitmen Reliance berinvestasi di proyek kilang baru AS yang diumumkan Trump, menciptakan posisi unik di tengah tekanan sanksi.
- India terus mengimpor minyak Rusia dalam jumlah besar, memanfaatkan diskon, sementara pembelian dari Venezuela menjadi pelengkap strategi energi.

Reliance Industries, konglomerat milik miliarder India Mukesh Ambani, mencatatkan diri sebagai pembeli terbesar minyak mentah Venezuela di luar Amerika Serikat. Data dari Kpler yang dikutip CNBC menunjukkan bahwa pada September 2025, India mengimpor 257.000 barel per hari minyak Venezuela, dan 76% di antaranya diserap oleh Reliance. Kilang Jamnagar milik perusahaan itu menjadi tujuan utama pasokan tersebut.
Pembelian ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Reliance akan berinvestasi dalam proyek kilang minyak pertama di AS dalam 50 tahun. Trump menyebut investasi tersebut sebagai "investasi luar biasa" dan berterima kasih kepada Reliance. Kini, perusahaan yang sama justru menjadi penopang utama ekspor minyak Venezuela, negara yang masih dikenai sanksi AS.
Menurut Sumit Ritolia, analis riset utama di Kpler, kompleks Jamnagar memang dirancang untuk mengolah jenis minyak berat dan ekstra berat dari Venezuela. "Kilang Jamnagar akan tetap menjadi pembeli utama," ujarnya. Kapasitas kilang itu mencapai 1,4 juta barel per hari, menjadikannya kilang satu lokasi terbesar dan paling kompleks di dunia.
Langkah Reliance ini memperlihatkan dilema India dalam menjaga ketahanan energi. Di satu sisi, AS menekan India agar mengurangi ketergantungan pada minyak Rusia, bahkan memberikan wewenang kepada Trump untuk menjatuhkan tarif hingga 100% bagi negara yang membeli energi dari Moskow. Di sisi lain, India tetap membeli minyak Rusia dalam jumlah besar karena harga diskon, sementara pembelian dari Venezuela menjadi alternatif yang menguntungkan secara ekonomi.
Ritolia menambahkan bahwa penurunan pasokan Rusia ke India pada September dari puncaknya di Juni-Juli lebih disebabkan oleh persaingan dengan China, bukan ancaman tarif. India masih menjadi tujuan terbesar minyak Rusia dengan 1,82 juta barel per hari, jauh melampaui China yang sebesar 1,49 juta barel per hari.
"Reliance's Jamnagar complex has been the main destination for Venezuelan crude in India, and we expect it to remain the primary buyer." โ Sumit Ritolia, Kpler
Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan pelajaran tentang diversifikasi sumber energi. Sebagai negara yang juga mengimpor minyak, Indonesia menghadapi tantangan serupa dalam menyeimbangkan kebutuhan pasokan, tekanan geopolitik, dan harga global. Ketergantungan pada satu sumber atau satu blok politik dapat menjadi risiko, terutama jika sanksi atau tarif diberlakukan secara tiba-tiba. Strategi Reliance yang mengombinasikan pasokan dari Rusia, Venezuela, dan Timur Tengah bisa menjadi contoh bagaimana perusahaan energi besar mengelola risiko.
Ke depan, posisi Reliance akan terus menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan ini memperkuat hubungan dengan AS melalui investasi kilang, tetapi di sisi lain tetap membeli minyak dari negara yang dibatasi AS. Apakah Washington akan membiarkan dualisme ini, atau akankah tekanan politik memaksa Reliance memilih salah satu? Jawabannya akan menentukan arah pasar energi global dan kebijakan luar negeri AS terhadap India.



