Imbal Hasil Obligasi AS Sentuh Level Tertinggi 24 Tahun, Wall Street Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan yield Treasury AS ke level tertinggi dalam 24 tahun menekan bursa saham global, dengan S&P 500 mundur dari rekor dan Dow Jones turun lebih dari 340 poin.
- Risalah rapat The Fed mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun, memperkuat ekspektasi pengetatan moneter yang lebih lama.
- Pasar Asia dan Eropa ikut melemah, sementara harga minyak naik akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam pasokan.

Bursa saham Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan pada Kamis (7/10/2026) setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Indeks S&P 500 mundur dari rekor tertinggi yang baru dicapai sehari sebelumnya, sementara Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 340 poin atau 0,7%. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap prospek suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Yield obligasi Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,3178%, level tertinggi sejak 2002. Sementara itu, yield obligasi 30 tahun juga menguat 4 basis poin ke 5,7064%. Lonjakan ini terjadi setelah lelang obligasi 10 tahun senilai US$39 miliar pada Rabu menarik permintaan solid, dengan pembeli tidak langsung—termasuk bank sentral global—menyerap lebih dari 80% penawaran, di atas rata-rata 10 lelang terakhir sebesar 72,4%. Meski lelang tersebut sempat menahan kenaikan yield, tekanan jual kembali muncul pada Kamis.
Di sisi lain, risalah rapat The Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan menilai kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan sebelum akhir tahun karena inflasi masih jauh di atas target 2%. Namun, risalah tersebut tidak memberikan petunjuk waktu pasti, menegaskan bahwa keputusan akan bergantung pada data ekonomi yang masuk. "Suku bunga yang lebih tinggi mungkin sudah melakukan sebagian pekerjaan The Fed, sehingga mereka tidak perlu menaikkan suku bunga," ujar Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise, kepada CNBC. "Itu mungkin membuat mereka bertahan untuk sisa tahun ini."
Tekanan tidak hanya terjadi di Wall Street. Bursa Asia dibuka melemah pada Kamis, dengan Nikkei 225 Jepang turun 0,4%, Kospi Korea Selatan turun 0,35%, dan S&P/ASX 200 Australia turun 0,4%. Indeks CSI 300 China daratan juga turun 0,43%, sementara Hang Seng Hong Kong melemah 0,69%. Di Eropa, Stoxx 600 turun 1,07% pada awal perdagangan, dengan sektor sumber daya dasar memimpin penurunan sebesar 2,02%. Sektor perbankan Eropa turun 1,82% dan kesehatan turun 1,45%. Hanya sektor minyak dan gas yang menguat 0,32%.
Kenaikan yield juga berdampak pada sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pinjaman. Saham industri menjadi salah satu sektor dengan kinerja terburuk pekan ini. Namun, sebagian investor masih optimistis bahwa musim laporan keuangan kuartal ketiga dapat menjadi katalis positif. Menurut FactSet, S&P 500 diperkirakan mencatat pertumbuhan laba gabungan sekitar 30% pada kuartal III, menandai kuartal ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan laba di atas 25%. "Jika laba tetap kuat, dan kemungkinan besar memang demikian, jika ekspektasi terpenuhi atau bahkan lebih tinggi, itu akan menopang reli ini—terlepas dari kenyataan bahwa suku bunga lebih tinggi," kata Courtney Garcia, penasihat kekayaan senior di Payne Capital Management.
"Kenaikan suku bunga mungkin sudah melakukan sebagian pekerjaan The Fed, sehingga mereka tidak perlu menaikkan suku bunga. Itu mungkin membuat mereka bertahan untuk sisa tahun ini." — Anthony Saglimbene, Ameriprise
Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Brent untuk pengiriman Desember naik 1,36% menjadi US$101,54 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) untuk November naik 1,04% ke US$89,32 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh laporan bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan operasi militer besar-besaran di Iran dalam beberapa pekan mendatang, termasuk opsi serangan sebelum pemilu paruh waktu bulan depan. Serangan Houthi yang didukung Iran terhadap bandara di Arab Saudi dan tanker di Selat Hormuz juga memperburuk sentimen pasar.
Gubernur Bank Sentral Prancis Emmanuel Moulin menyatakan bahwa inflasi Eropa "100%" didorong oleh energi, dan guncangan geopolitik kini merambat menjadi guncangan finansial. Ia menyoroti korelasi kuat antara harga minyak, suku bunga jangka panjang AS, dan suku bunga di Eropa. Namun, Moulin tidak melihat adanya efek putaran kedua. Rekan sejawatnya di Dewan ECB, Olaf Sleijpen, menambahkan bahwa ekspektasi inflasi jangka menengah hingga panjang tetap "terjangkar dengan baik."
Sementara itu, saham HSBC yang tercatat di Hong Kong turun 3,9% setelah laporan bahwa bank tersebut berencana melakukan pemangkasan besar-besaran di bisnis manajemen kekayaan di Inggris, termasuk pengurangan spesialis dan penasihat keuangan, sebagai bagian dari upaya memperluas integrasi AI. Levi Strauss juga turun 2% setelah menurunkan panduan pertumbuhan pendapatan bersih setahun penuh menjadi 7%, meskipun menaikkan proyeksi laba per saham menjadi US$1,54–US$1,56.
Bagi investor Indonesia, lonjakan yield Treasury AS berpotensi memperlebar spread dengan obligasi negara (SUN) dan menekan nilai tukar rupiah. Kenaikan yield global biasanya memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor beralih ke aset safe haven yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Bank Indonesia mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi impor, terutama jika harga minyak terus naik. Namun, permintaan global yang tetap kuat untuk obligasi AS juga bisa menjadi sinyal bahwa pasar masih memiliki kepercayaan terhadap prospek ekonomi global, yang pada akhirnya dapat menopang ekspor Indonesia.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data klaim pengangguran mingguan AS dan laporan keuangan PepsiCo yang dirilis sebelum pembukaan pasar. Selain itu, lelang obligasi 30 tahun senilai US$22 miliar pada Kamis akan menjadi ujian likuiditas di tengah yield yang sudah tinggi. Jika yield terus naik, tekanan jual di pasar saham global, termasuk Indonesia, diperkirakan berlanjut. Namun, jika data laba emiten AS sesuai atau melampaui ekspektasi, reli saham mungkin masih bisa berlanjut. Pertanyaannya, apakah The Fed akan menahan diri atau justru menaikkan suku bunga lagi sebelum akhir tahun?



