Rainmaker Klaim Ciptakan 19 Juta Galon Air dari Udara, Ilmuwan Soroti Risiko
Baca dalam 60 detik
- Rainmaker, startup asal California, mengklaim berhasil memproduksi 19 juta galon air dalam tiga jam melalui penyemaian awan di Homer, Alaska.
- Warga dan aktivis lingkungan mempertanyakan transparansi serta dampak penggunaan silver iodide terhadap ekosistem setempat.
- Lebih dari 50 negara mengembangkan teknologi modifikasi cuaca, tetapi efektivitasnya masih di bawah 10% dan memicu perdebatan etika.

Pada 23 Agustus lalu, langit di atas Homer, Alaska, menjadi laboratorium raksasa bagi sebuah eksperimen kontroversial. Tanpa sepengetahuan ribuan penduduk, sebuah startup bernama Rainmaker menyemprotkan senyawa perak ke awan untuk memicu hujan. Perusahaan yang berbasis di El Segundo, California, itu mengklaim telah menghasilkan 19 juta galon air dalam tempo tiga jamโsebuah angka yang mengundang decak kagum sekaligus kecurigaan.
Teknologi penyemaian awan (cloud seeding) sebenarnya bukan hal baru. Sejak 1946, ilmuwan telah menggunakan pesawat dan drone untuk menaburkan partikel seperti silver iodide ke dalam awan agar terbentuk kristal es yang kemudian jatuh sebagai hujan atau salju. Prinsipnya mempercepat kondensasi uap air alami, tetapi metode ini hanya efektif di wilayah dengan kondisi iklim tertentu, seperti pegunungan atau daerah dingin semacam Alaska.
Cooper Freeman, Direktur Alaska untuk Center for Biological Diversity, tidak hanya mempersoalkan kurangnya pemberitahuan kepada warga. Ia meragukan keamanan zat yang disemprotkan. "Tidak tampak adanya pemantauan lanjutan untuk memastikan silver iodide tidak mencemari lingkungan," ujarnya. Freeman menilai kehadiran perusahaan penyemaian awan justru mengalihkan perhatian dari solusi konservasi air yang mendesak.
Kekhawatiran Freeman beralasan. Laporan PBB pada Juli menyebut dunia menggunakan air tawar lebih cepat daripada kemampuan alam mengisinya. Lima tahun terakhir bahkan menjadi periode terkering bagi sungai-sungai global dalam lebih dari tiga dekade. Di tengah krisis itu, janji teknologi seperti Rainmaker terdengar menggoda, namun skalanya masih jauh dari cukup untuk mengatasi defisit air global.
Augustus Doricko, pendiri dan CEO Rainmaker, membantah potensi bahaya. Ia menjelaskan bahwa pihaknya melepaskan silver iodide hanya 20 gram per penerbangan, tersebar di ribuan kilometer persegi. "Peningkatan konsentrasi di tanah berada pada tingkat parts per quadrillion, jauh di bawah ambang batas FDA," klaimnya. Drone mereka dilengkapi flare silver iodide yang dibakar untuk mengatomisasi partikel air agar tetap tersuspensi di awan beku selama berjam-jam sebelum menjadi kristal dan hujan.
"Dengan kondisi yang tepat, penyemaian awan hanya menghasilkan tambahan 5 hingga 10 persen curah hujan," kata Jon Meyer, asisten klimatolog dari Utah Climate Center.
Meyer mengakui inovasi seperti drone membuka jalan baru karena lebih tepat sasaran. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi ini bukan solusi instan. Studi penting pada 2017 memang membuktikan silver iodide bekerja sesuai harapan, tetapi dampaknya tetap terbatas. Di sisi lain, Recast Systems dari San Francisco sedang menguji protein dari asam amino tanah sebagai alternatif yang diklaim aman, biodegradable, dan lebih efisien. "Ini safe, biodegradable, dan menukleasi es lebih efisien daripada silver iodide," ujar CEO Olivia Li.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan. Negara kepulauan ini kerap mengalami kekeringan di musim kemarau dan telah lama menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengisi waduk serta memadamkan karhutla. Namun, penggunaan bahan kimia seperti silver iodide perlu diawasi ketat agar tidak menimbulkan dampak ekologis jangka panjang. Regulasi yang jelas dan transparansi kepada masyarakat menjadi kunci agar inovasi ini tidak menuai resistensi.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah manusia bisa merekayasa cuaca, melainkan seberapa jauh intervensi ini boleh dilakukan tanpa merusak keseimbangan alam. Jika puluhan negara dan startup terus berlomba, akankah dunia menyusun tata kelola global untuk modifikasi cuaca, atau justru membiarkan langit menjadi medan eksperimen tanpa kendali?



