Marc Marquez: Pembalap MotoGP Akhirnya Akan Bersatu Seperti di F1
Baca dalam 60 detik
- Marc Marquez yakin asosiasi pembalap MotoGP akan terbentuk, meniru GPDA di Formula 1, meski butuh waktu.
- Perubahan format sprint race musim depan memicu perbedaan pendapat dan menyoroti absennya suara kolektif pembalap.
- Upaya sebelumnya gagal karena biaya dan kepentingan individu; Marquez menilai solidaritas tetap sulit diwujudkan saat ini.

Pembalap Ducati, Marc Marquez, meyakini bahwa para pembalap MotoGP pada akhirnya akan membentuk sebuah asosiasi untuk memperkuat posisi tawar mereka, meniru Grand Prix Drivers' Association (GPDA) di Formula 1. Pernyataan ini muncul di tengah ketidaksepahaman mengenai format baru MotoGP musim depan yang diumumkan pekan lalu.
Federasi Internasional Sepeda Motor (FIM) dan penyelenggara MotoGP resmi mengonfirmasi perubahan jadwal akhir pekan, dengan tambahan sesi kualifikasi khusus untuk sprint race. Kebijakan ini memicu reaksi beragam: sebagian pembalap seperti Francesco Bagnaia dan Luca Marini menyambutnya sebagai hal yang menarik, sementara yang lain menilai format anyar itu justru menambah beban dan risiko bagi para pembalap yang sudah tampil hingga batas maksimal dari Kamis hingga Minggu.
Marquez termasuk dalam kelompok yang meragukan. Dalam konferensi pers di Mandalika, Kamis, ia menyatakan, "Yang menarik adalah mengetahui apa tujuan perubahan ini, karena bagi pembalap ini hanya akan lebih menuntut." Meski demikian, ia tidak bersikap konfrontatif, terlebih karena ia tidak menghadiri pertemuan Komisi Keselamatan di Motegi, tempat Wakil CEO MotoGP Carlos Ezpeleta menjelaskan perubahan tersebut kepada empat pembalap yang hadir.
Terlepas dari perbedaan pendapat, ada satu titik yang disepakati seluruh pembalap: mereka merasa tidak memiliki suara yang cukup, dan sebagian besar karena kesalahan mereka sendiri yang belum mampu mengorganisir diri dalam sebuah badan kolektif. Di F1, GPDA telah lama menjadi wadah aspirasi pembalap. Di MotoGP, beberapa upaya telah dilakukan dalam tiga tahun terakhir, bahkan Sylvain Guintoli sempat ditunjuk sebagai wajah publik asosiasi tersebut. Namun, proses yang dimulai akhir 2023 itu kandas karena beberapa pembalap menilai biaya operasional tidak sebanding.
Dengan jadwal yang semakin padat, isu absennya suara kolektif kembali mencuat di paddock Mandalika. Pedro Acosta mengungkapkan kekecewaannya, "Tidak peduli apa yang kami pikirkan, mereka tidak memberi kami pilihan." Senada, Marquez menambahkan, "Tim dan penyelenggara yang membuat keputusan; kau terima atau pergi. Format sudah diubah, resmi, dan pembalap hanya mendapat sedikit informasi." Alex Marquez, yang sependapat dengan sang kakak, menegaskan, "Keputusan dibuat antara kejuaraan dan tim; pembalap tidak dilibatkan. Kau terima karena memang begitu aturannya."
Marquez, yang dianggap sebagai pembalap paling berpengaruh, menolak kemungkinan memimpin asosiasi selama masih aktif membalap. "Saat kau masih pembalap aktif, mustahil memimpin komisi pembalap," ujarnya. Ia juga menyoroti penyebab kegagalan upaya sebelumnya: "Masalah di MotoGP adalah usia rata-rata sangat muda. Semua orang menjaga kepentingan sendiri, kami egois, dan sulit membuat orang mengerti." Namun, ia optimistis dalam jangka panjang: "Kami semua menginginkan hal yang sama: berada di sini, melaju cepat, menang, dan memiliki keamanan yang cukup untuk karier sepanjang mungkin. Aku menyadari itu selama bertahun-tahun."
"Cepat atau lambat, asosiasi akan terbentuk, seperti yang terjadi di Formula 1." โ Marc Marquez
Bagi penggemar MotoGP di Indonesia, dinamika ini relevan mengingat Mandalika menjadi salah satu tuan rumah seri dan sering menjadi panggung protes pembalap terkait jadwal padat. Jika asosiasi terbentuk, pembalap Indonesia yang menembus kelas premier, seperti yang tengah diperjuangkan Mario Aji, akan memiliki wadah untuk menyuarakan kepentingan mereka di level global. Selain itu, format baru berpotensi memengaruhi daya tarik dan keselamatan balapan di Sirkuit Mandalika, yang selama ini menjadi sorotan akan kondisi cuaca ekstrem dan jadwal ketat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah para pembalap muda yang mendominasi grid akan segera menyadari pentingnya solidaritas, atau justru semakin terpecah oleh kepentingan masing-masing. Jika Marquez benar, MotoGP mungkin akan segera memiliki suara kolektif yang setara dengan GPDA, tetapi jalan menuju ke sana masih panjang dan penuh ego yang harus diredam.



