Peacock Kini Tanpa Uji Coba Gratis, Tapi Ada Celah Berlangganan Lewat Prime Video
Baca dalam 60 detik
- Peacock telah menghentikan uji coba gratis langsung, namun pengguna masih bisa menikmati tujuh hari akses tanpa biaya melalui add-on Prime Video.
- Setelah masa percobaan, tarif berlangganan Peacock Premium menjadi $12,99 per bulan atau $129,99 per tahun, sementara paket bebas iklan Premium Plus dibanderol $19,99 per bulan.
- Langkah ini memperkuat tren layanan streaming yang mengalihkan akuisisi pengguna ke bundling dengan platform besar, sekaligus menekan churn di tengah persaingan konten yang semakin ketat.

Peacock, layanan streaming milik NBCUniversal, tidak lagi menyediakan uji coba gratis secara langsung bagi calon pelanggan di Amerika Serikat. Namun, celah untuk mencoba platform ini tanpa biaya masih terbuka melalui jalur tidak resmi: menambahkan Peacock Premium Plus sebagai kanal tambahan di akun Prime Video, yang menawarkan masa percobaan tujuh hari.
Langkah ini menandai pergeseran strategi akuisisi pelanggan di industri streaming. Alih-alih membuka pintu selebar-lebarnya, Peacock memilih mengintegrasikan uji coba ke dalam ekosistem Amazon—sebuah taktik yang menguntungkan kedua pihak. Amazon memperkuat posisinya sebagai aggregator layanan, sementara Peacock mendapatkan paparan ke basis pengguna Prime yang sudah besar tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar-besaran.
Setelah periode tujuh hari berakhir, pelanggan akan otomatis dialihkan ke langganan berbayar. Peacock Premium, yang masih menampilkan iklan dalam jumlah terbatas, dipatok $12,99 per bulan atau $129,99 per tahun. Sementara itu, paket Premium Plus yang bebas iklan naik menjadi $19,99 per bulan atau $199,99 per tahun. Pengguna dapat membatalkan kapan saja sebelum masa percobaan usai untuk menghindari tagihan.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini mencerminkan pola yang mulai terlihat di Asia Tenggara: layanan streaming global semakin enggan memberikan uji coba gratis mandiri dan lebih memilih bermitra dengan platform e-commerce atau telekomunikasi. Di Indonesia, misalnya, beberapa layanan telah menggabungkan langganan dengan paket data operator atau program loyalitas. Jika tren ini berlanjut, konsumen Tanah Air mungkin akan semakin sering menemukan akses streaming sebagai bundling, bukan produk terpisah.
Dari sisi konten, Peacock memang memiliki daya tarik yang luas. Platform ini menjadi rumah bagi sejumlah original seperti The Paper, Poker Face, Bel-Air, dan Jackal, serta program musik seperti Kings From Queens: The Run DMC Story dan The Effect: Bad Bunny. Untuk penggemar realitas, tersedia Traitors, Love Island: Beyond The Villa, dan The Real Housewives of Rhode Island. Katalog klasiknya juga tidak main-main, mulai dari Saturday Night Live, The Office, Yellowstone, hingga Law & Order: SVU.
Di ranah film, Peacock menawarkan judul-judul besar seperti Wicked: For Good, Five Nights at Freddy's 2, The Super Mario Bros. Movie, dan Hamnet. Selain itu, hak siar olahraga langsung menjadi magnet tersendiri: NBA di NBC, MLB, NFL, Premier League, dan Piala Dunia FIFA. Kombinasi konten hiburan dan olahraga ini menjadi alasan utama mengapa Peacock tetap kompetitif di pasar yang padat.
"Uji coba gratis bukan lagi alat akuisisi utama. Yang penting adalah bagaimana layanan bisa masuk ke dalam kebiasaan digital pengguna melalui kemitraan strategis," ujar seorang analis industri streaming yang tidak ingin disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah model bundling seperti ini akan menjadi standar baru di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Jika ya, konsumen mungkin perlu lebih jeli membaca syarat dan ketentuan agar tidak terjebak perpanjangan otomatis. Di sisi lain, penyedia layanan dituntut untuk terus menghadirkan nilai tambah—bukan sekadar konten, tetapi juga kemudahan akses dan fleksibilitas harga.



