Underdog Fantasy: Kode Promo, Bonus Deposit, dan Peta Regulasi DFS di AS
Baca dalam 60 detik
- Underdog Fantasy menawarkan bonus deposit 50% hingga $1.000 plus akses game Keep Your Million bagi pengguna baru di sebagian besar negara bagian AS.
- Platform ini beroperasi di 41 negara bagian, tetapi jenis kontes yang tersedia berbeda-beda karena regulasi setempat.
- Akuisisi Underdog oleh IG Group senilai $2,15 miliar menandai konsolidasi industri daily fantasy sports yang kian menarik perhatian investor global.

Underdog Fantasy kembali menjadi sorotan setelah platform daily fantasy sports (DFS) asal Amerika Serikat itu menawarkan bonus deposit 50% hingga $1.000 bagi pengguna baru di sebagian besar negara bagian. Bonus tersebut disertai akses ke permainan Keep Your Million, sebuah kontes virtual dengan modal awal $1 juta dalam bentuk Milly Bucks yang tidak dapat ditarik tunai.
Penawaran ini tersedia di hampir semua wilayah tempat Underdog beroperasi, kecuali Maryland, Michigan, New Jersey, New York, Ohio, dan Pennsylvania. Di enam negara bagian itu, Underdog tetap melayani pengguna, namun program bonus spesifik ini belum diaktifkan. Artinya, cakupan promosi tidak sepenuhnya setara dengan cakupan operasional perusahaan.
Yang membedakan Underdog dari pesaing seperti DraftKings Pick6 bukan sekadar besaran bonus. Struktur kontesnya menawarkan tiga format utama: Pick Em, Champions, dan Drafts. Pick Em meminta pengguna memilih proyeksi statistik pemain—lebih tinggi atau lebih rendah—dengan minimal dua pemain dari dua tim berbeda. Sementara Champions menggabungkan elemen Pick Em dengan sistem turnamen berbasis poin, dan Drafts mengadopsi mekanisme snake draft layaknya liga fantasi tradisional.
Dari sisi regulasi, Underdog berpegang pada pengecualian fantasy sports dalam Unlawful Internet Gambling Enforcement Act. Undang-undang federal AS tidak mengategorikan kontes fantasi sebagai perjudian selama memenuhi syarat tertentu. Namun, setiap negara bagian memiliki kebijakan sendiri. Di Connecticut, Hawaii, Idaho, Iowa, Maine, Montana, Nevada, dan Washington, misalnya, layanan Drafts tidak tersedia. Sementara Pick Em tidak beroperasi di sejumlah negara bagian tambahan seperti Maryland, Michigan, New Jersey, New York, Ohio, dan Pennsylvania.
Perbedaan aturan ini menciptakan lanskap yang terfragmentasi bagi operator DFS. Pengguna di satu negara bagian bisa menikmati seluruh format, sementara di negara bagian lain hanya sebagian. Underdog menyediakan tabel ketersediaan kontes per wilayah, tetapi detail teknis seperti struktur pembayaran dan skoring sering kali tersembunyi di submenu—sebuah titik yang dikritik dalam ulasan platform itu sendiri.
"Underdog adalah platform DFS yang sah dan teregulasi. Kami memegang semua lisensi dan izin yang diperlukan, termasuk untuk kontes fantasi di setiap negara bagian yang mensyaratkannya," demikian pernyataan resmi Underdog dalam materi promosinya.
Dari sisi bisnis, Underdog didirikan pada awal 2020 oleh Jeremy Levine dan sejumlah veteran industri. Perusahaan ini menarik investasi dari nama-nama besar seperti Mark Cuban, Kevin Durant, Trae Young, Odell Beckham Jr., serta musisi The Chainsmokers, Kygo, Steve Aoki, Nas, dan Future. BlackRock dan Acies Investment juga tercatat sebagai investor. Pada Juli 2026, Underdog dilaporkan diakuisisi oleh IG Group asal Inggris dalam kesepakatan senilai hingga $2,15 miliar.
Model pendapatan Underdog bertumpu pada dua sumber: rake dari kolam hadiah di kontes draft, dan pendapatan dari uang masuk kontes Pick Em yang kalah di sejumlah negara bagian. Dengan 300 karyawan di seluruh AS, perusahaan ini pernah menyelenggarakan Best Ball Mania IV, kontes fantasi terbesar dalam sejarah dengan total hadiah $15 juta.
Meski demikian, layanan pelanggan menjadi celah. Tidak ada nomor telepon atau live chat; komunikasi hanya melalui email. Ini berbeda dari standar industri yang mulai mengadopsi dukungan real-time. Untuk pasar Indonesia, model DFS seperti Underdog belum memiliki padanan legal karena kerangka regulasi yang berbeda. Namun, pertumbuhan industri ini di AS memberi gambaran tentang bagaimana teknologi, regulasi, dan perilaku pengguna bertemu dalam satu ekosistem.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi soal besaran bonus, melainkan seberapa jauh konsolidasi dan pengetatan regulasi akan membentuk ulang peta DFS global. Jika IG Group mulai mengintegrasikan Underdog ke dalam portofolio yang lebih luas, akankah model bonus agresif tetap bertahan—atau justru menjadi korban dari tuntutan transparansi yang semakin tinggi?



