Daniel James, Bayangan Jack Harrison yang Harus Segera Dilepas Leeds United
Baca dalam 60 detik
- Daniel James hanya mencetak satu gol dalam 26 pertandingan terakhirnya untuk Leeds United di Liga Premier, memperlihatkan ketajaman yang merosot tajam.
- Kegagalan James meniru kebangkitan Brenden Aaronson membuat posisinya di skuad inti semakin terancam menjelang jendela transfer Januari.
- Manajemen Leeds disarankan tidak mengulangi kesalahan menahan pemain yang sudah tidak produktif, seperti yang terjadi pada Jack Harrison musim lalu.

Leeds United kembali dihadapkan pada dilema lama: mempertahankan pemain sayap yang sudah kehilangan ketajaman atau segera mencari pengganti. Daniel James, yang didatangkan dari Manchester United dengan ekspektasi tinggi, kini berada di persimpangan karier di Elland Road. Performanya yang jauh dari memuaskan membuat publik Leeds mempertanyakan kelayakannya bertahan, terutama setelah manajemen sukses menyingkirkan Jack Harrison ke New England Revolution pada bursa transfer musim panas lalu.
Sejak awal musim 2025/26, James hanya menyumbang satu gol, itupun terjadi saat melawan Nottingham Forest di Piala Liga pada Agustus. Catatan itu kian mempertegas inkonsistensinya di Liga Premier. Dalam 14 bulan terakhir, pemain berusia 28 tahun tersebut hanya mengoleksi satu gol dan nol assist dari 26 pertandingan di semua kompetisi. Angka ini bahkan lebih buruk dibandingkan Brenden Aaronson, yang meski sering dikritik karena penyelesaian akhir yang naik-turun, tetap mampu memberikan kontribusi nyata dengan empat gol dan tiga assist hingga akhir Januari 2026.
Kegagalan James meniru kesuksesan Aaronson menjadi sorotan utama. Pelatih Daniel Farke sebenarnya telah memberikan kepercayaan kepada James dengan memberinya menit bermain, namun eks pemain Manchester United itu tak kunjung menemukan konsistensi. Dalam penampilan penggantinya, ia bahkan tidak menciptakan peluang dan gagal mengarahkan satu pun dari enam tembakannya ke gawang. Statistik ini menegaskan bahwa James belum layak mendapatkan tempat di starting eleven, terlebih setelah jeda internasional.
"Aaronson mungkin bukan favorit semua orang, tetapi ia adalah pemain skuad yang berguna dan telah menunjukkan kemampuannya di Liga Premier. James, sebaliknya, belum membuktikan bahwa ia bisa menjadi ancaman serangan," demikian analisis tajam dari pengamat sepak bola Inggris.
Jika ditarik ke belakang, kebijakan transfer Leeds di lini depan memang minim investasi. Sejak promosi ke Liga Premier, hanya Noah Okafor yang didatangkan dengan mahar signifikan. Farke harus mengandalkan pemain yang naik dari Championship dan beberapa transfer gratis seperti Dominic Calvert-Lewin serta Lukas Nmecha. Kondisi ini membuat kesabaran terhadap pemain yang tidak produktif menjadi barang mahal. Manajemen tidak bisa terus menampung beban gaji pemain yang tidak memberikan dampak, terlebih dengan tuntutan bersaing di papan tengah yang semakin ketat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga Daniel James ini menjadi cermin betapa kejamnya persaingan di Liga Premier. Klub-klub seperti Leeds tidak bisa berlama-lama memberi kesempatan kepada pemain yang gagal berkembang. Keputusan tegas diperlukan agar tidak terjebak dalam siklus mediocrity. Bandingkan dengan bagaimana klub-klub Liga 1 yang kerap mempertahankan pemain asing di bawah performa karena alasan kontrak atau kedekatan personal. Leeds, dengan ambisi bertahan di kasta tertinggi, tidak punya kemewahan itu.
Melihat ke depan, jendela transfer Januari akan menjadi momen krusial. Jika James tidak segera menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dalam beberapa laga berikutnya, bukan tidak mungkin ia akan menyusul Harrison ke pintu keluar. Pertanyaannya, apakah Leeds akan bergerak cepat mencari pengganti, atau justru kembali terjebak dalam keterbatasan opsi di lini serang? Keputusan Farke dan manajemen akan sangat menentukan arah musim ini.



