Bitcoin Tertahan di $87.000 Tiga Kali, Sinyal Volatilitas Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin kembali ditolak di level $87.000 untuk ketiga kalinya sejak 23 September, memicu penurunan 1,2% ke sekitar $85.600.
- Analis FxPro menyoroti pola higher local lows, namun bulls belum mampu menembus resistensi horizontal yang membentuk segitiga.
- Pasar kripto global menyusut ke $2,93 triliun, tertahan di bawah resistensi $2,95 triliun, sementara saham AS justru mencetak rekor.

Bitcoin kembali gagal menembus level $87.000 pada perdagangan Selasa pagi waktu Asia, memicu koreksi 1,2% ke sekitar $85.600. Ini merupakan penolakan ketiga kalinya sejak 23 September, menandakan bahwa level tersebut telah menjadi tembok psikologis yang sulit ditembus oleh pembeli.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa aset kripto justru mencatat kenaikan. HYPE memimpin dengan lonjakan 3% ke sekitar $94, sedangkan BNB menjadi yang terlemah setelah turun 2,5%. Ether, XRP, SOL, dan DOGE masing-masing melemah antara 1% hingga 2%. Di luar jajaran utama, ADA melesat 11%, diikuti GRT dan NEAR yang naik sekitar 7%.
Analis FxPro, Alex Kuptsikevich, menilai bahwa Bitcoin sebenarnya telah membentuk tren higher local lows sejak awal pekan lalu. Namun, menurutnya, para bulls belum berhasil mengumpulkan momentum yang cukup untuk mendorong harga lebih tinggi. "Harga telah mendekati puncak segitiga yang dibentuk oleh resistensi horizontal dan support yang menanjak. Kita harus bersiap menghadapi peningkatan volatilitas jika harga menembus pola ini," ujarnya dalam catatan kepada CoinDesk.
Tekanan jual terjadi meskipun dolar AS menguat dan indeks saham bertahan di level tinggi. Nasdaq 100 ditutup pada rekor baru, S&P 500 berada dalam 0,5% dari puncak sepanjang masa, dan indeks MSCI Asia Pasifik naik tipis 0,1%. Pasar obligasi terus tertekan dengan yield Treasury 10 tahun naik satu basis poin ke 5,32%, sementara yield dua tahun naik dua basis poin ke 4,83%.
Miliarder Ray Dalio memperingatkan bahwa pasar Treasury rentan terhadap penurunan permintaan dari China dan Jepang. Peringatan ini menambah kekhawatiran di tengah yield yang sudah berada di level tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Bagi investor kripto, level $87.000 menjadi ujian penting. Setiap kali harga mendekati level tersebut, gelombang jual muncul dan menekan harga kembali. Untuk melewatinya, dibutuhkan pembeli yang mampu menyerap tekanan jual dan mempertahankan Bitcoin di atas $87.000. Jika itu terjadi, ini akan mengindikasikan bahwa tekanan jual di level tersebut telah mengering dan membuka jalan menuju harga tertinggi dalam delapan bulan.
"Kita harus bersiap menghadapi peningkatan volatilitas jika harga menembus pola segitiga ini," kata Alex Kuptsikevich, analis FxPro.
Di sisi lain, laporan terbaru menyoroti bahwa kawasan Asia Pasifik (APAC) semakin menjadi medan uji bagi stablecoin yang bergerak ke sektor keuangan teregulasi. Laporan tersebut memetakan aturan, kasus penggunaan, dan peran RLUSD di kawasan ini.
Dengan saham yang mencetak rekor dan obligasi yang terus melemah, pertanyaan besarnya adalah apakah Bitcoin mampu mempertahankan pola higher local lows atau justru menyerah pada tekanan jual yang berulang. Jika level $87.000 akhirnya ditembus, volatilitas bisa melonjak tajam, tetapi jika gagal lagi, koreksi lebih dalam mungkin tak terhindarkan.



