Gap Hadirkan Belanja Berbasis AI, 30 Tahun Setelah Situs E-commerce Pertamanya
Baca dalam 60 detik
- Gap Inc. meluncurkan perangkat belanja berbasis AI untuk seluruh mereknya, tiga dekade setelah situs e-commerce Gap pertama kali muncul.
- Dua platform pihak ketiga, Alta Daily dan Daydream, memungkinkan konsumen menemukan pakaian lewat bahasa sehari-hari dan rekomendasi kontekstual.
- Tantangan utama bukan teknologi, melainkan kepercayaan konsumen terhadap penggunaan data dan akurasi saran.

Gap Inc. resmi memperkenalkan serangkaian alat belanja berbasis kecerdasan buatan untuk seluruh mereknya, tepat 30 tahun setelah situs e-commerce Gap pertama kali diluncurkan. Langkah ini menandai babak baru dalam cara konsumen berinteraksi dengan ritel fesyen, sekaligus menjawab tekanan industri yang semakin bergantung pada personalisasi digital.
Mulai Senin, pelanggan Gap dapat menemukan produk melalui dua platform pihak ketiga yang ditenagai AI. Alta Daily menawarkan rekomendasi outfit berdasarkan jadwal, anggaran, dan prakiraan cuaca pengguna. Aplikasi ini bahkan dapat memadukan item dari lemari pakaian yang sudah dimiliki dengan koleksi merek. Sementara itu, Daydream memungkinkan interaksi dengan bahasa sehari-hari untuk mendapatkan ide fesyen, dengan akses ke seluruh portofolio Gap Inc. โ Gap, Banana Republic, Old Navy, dan Athleta.
Pelanggan Old Navy dan Banana Republic juga dapat menggunakan bahasa alami untuk mendeskripsikan kebutuhan mereka kepada agen belanja konversasional di situs dan aplikasi kedua merek tersebut. Inisiatif ini merupakan bagian dari SF Tech Week, ajang tahunan di San Francisco yang mempertemukan perusahaan teknologi, startup, dan investor.
Chief Technology Officer Gap Inc., Sven Gerjets, menyadari bahwa pengalaman belanja berbantuan AI bisa menimbulkan keraguan. Ia menyebut AI sebagai "evolusi penting dalam cara pelanggan menemukan dan berbelanja merek kami," serupa dengan kehadiran situs Gap pada 1996. Tujuan utamanya adalah mengurangi hambatan dan menghadirkan pengalaman yang benar-benar berguna. Jika teknologi ini tidak berhasil, Gap akan belajar dan memperbaikinya.
"Titik awal kami selalu pelanggan. AI harus membuat belanja lebih mudah dan intuitif, bukan menambah kerumitan atau mengambil pilihan dari pelanggan. Kami fokus pada rekomendasi yang relevan, pelanggan tetap memegang kendali, dan teknologi mendukung โ bukan menggantikan โ hubungan mereka dengan merek kami."
โ Sven Gerjets, CTO Gap Inc.
Meski antusiasme terhadap AI tinggi, adopsi di sektor ritel fesyen tidak lepas dari risiko. Survei SmartCustomer bulan lalu menemukan bahwa 45% pembelian yang disesali konsumen dengan bantuan AI adalah pakaian dan alas kaki. Ini menunjukkan bahwa akurasi rekomendasi dan ekspektasi pengguna masih menjadi pekerjaan rumah. Riset dari Synchrony dan Oxford Economics juga mencatat bahwa konsumen lebih cenderung berbelanja dengan AI di peritel yang sudah dipercaya, tetapi mereka waspada terhadap penggunaan data dan ingin mempertahankan kendali.
Bagi Gap, langkah ini bukan sekadar penambahan fitur. Ini adalah upaya untuk tetap relevan di tengah persaingan ritel yang semakin ketat, di mana pemain seperti Amazon dan Shopify telah lebih dulu mengintegrasikan AI dalam pengalaman belanja. Dengan menggandeng platform pihak ketiga, Gap dapat menguji coba berbagai pendekatan tanpa harus membangun semuanya dari nol. Namun, keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada seberapa baik perusahaan menyeimbangkan inovasi dengan privasi dan kenyamanan pelanggan.
Pada Rabu, Gerjets akan menjadi tuan rumah acara Tech Week bertajuk "Never Finished: The Next Chapter" di kantor pusat Gap Inc., bekerja sama dengan firma konsultan inovasi Silicon Foundry. Acara ini akan menampilkan pembicara seperti Jenny Wang (CEO Alta), Julie Bornstein (CEO Daydream), dan Megan Zapala (SVP E-Commerce Gap), dengan moderator Kevin Delaney dari The San Francisco Standard. Eksekutif pemasaran Apple, Arem Duplessis, dan CMO Rocket Companies, Jonathan Mildenhall, juga akan memberikan sesi utama.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah konsumen akan menerima belanja berbasis AI sebagai norma baru atau tetap memilih cara konvensional. Gap tampaknya siap bereksperimen, tetapi kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan algoritma, melainkan oleh kepercayaan yang dibangun secara bertahap. Jika berhasil, model ini bisa menjadi cetak biru bagi merek fesyen lain yang ingin bertahan di era ritel digital yang semakin personal.



