Zidane Dikepung Tifosi, Prancis Gagal Kalahkan Italia di Saint-Denis
Baca dalam 60 detik
- Prancis harus puas berbagi angka dengan Italia pada laga Nations League di Stade de France setelah gol pembuka Michael Olise dibalas Alessandro Bastoni.
- Kiper Italia Gianluigi Donnarumma tampil gemilang dengan serangkaian penyelamatan krusial yang menggagalkan dominasi serangan tuan rumah.
- Hasil ini membuka peluang Belgia untuk mengudeta posisi Prancis di klasemen Grup A1 menjelang matchday berikutnya.

Prancis gagal memaksimalkan dukungan penuh publik Stade de France setelah ditahan imbang Italia pada lanjutan Nations League Grup A1, Jumat dini hari WIB. Gol pembuka Michael Olise pada awal babak kedua dibalas Alessandro Bastoni, memaksa laga berakhir dengan skor 1-1 dan membuat persaingan menuju perempat final semakin ketat.
Ini adalah pertemuan pertama kedua tim sejak final Piala Dunia 2006 yang terkenal karena insiden Zinedine Zidane dan Marco Materazzi. Kini Zidane kembali ke kursi pelatih, menjalani laga kandang pertamanya sebagai arsitek Les Bleus. Dua kemenangan tandang 1-0 atas Belgia dan Turki menjadi modal, namun hasil imbang ini menghentikan laju sempurna sang pelatih anyar.
Prancis mendominasi penguasaan bola sejak menit awal. Ousmane Dembele, yang mengenakan ban kapten menggantikan Kylian Mbappe yang cedera, beberapa kali mengancam. Namun pertahanan Italia yang dikomandoi Donnarumma tampil solid. Kiper berusia 27 tahun itu melakukan penyelamatan ganda spektakuler pada menit ke-48, menepis tembakan Desire Doue dan langsung bangkit untuk menghalau bola muntah di depan gawang.
Keunggulan Prancis akhirnya tercipta pada menit ke-58 lewat eksekusi tendangan bebas Olise. Bola melengkung indah melewati pagar betis, menghantam bagian bawah mistar, memantul ke garis gawang, dan masuk. Donnarumma tidak berkutik. Gol tersebut menegaskan status Olise sebagai salah satu pemain paling bersinar di skuad Prancis saat ini, dengan kontribusi sembilan gol dan 11 assist dalam 23 penampilan terakhirnya.
"Kami kehilangan konsentrasi selama lima menit dan Italia menghukum kami," ujar Zidane dalam konferensi pers usai laga, seperti dikutip media Prancis. "Kualitas individu sudah ada, tetapi kami perlu lebih klinis di depan gawang."
Namun keunggulan itu tidak bertahan lama. Kesalahan Rabiot yang memberikan bola terlalu mudah kepada Lucas Da Cunha dimanfaatkan Bastoni. Bek Inter Milan itu merebut bola, menggiringnya ke kotak penalti, dan melepaskan tembakan kaki kiri tenang yang menaklukkan Mike Maignan. Gol tersebut menjadi pukulan telak bagi tuan rumah yang tengah berusaha mengendalikan permainan.
Roberto Mancini, yang kembali menangani Italia untuk periode kedua, tampak puas dengan hasil ini. Meski timnya lebih banyak bertahan, Gli Azzurri beberapa kali menciptakan peluang berbahaya lewat Moise Kean dan Davide Frattesi. Sebuah gol Kean bahkan dianulir karena offside pada menit ke-41, sementara tembakan Frattesi dari jarak dekat membentur pemain Prancis dan melebar tipis.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi cerminan bagaimana sepak bola Eropa terus menjadi tolok ukur taktik dan pengembangan pemain. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) tengah gencar melakukan naturalisasi pemain keturunan untuk meningkatkan daya saing Timnas. Model pembinaan Prancis yang mengandalkan akademi seperti Clairefontaine dan Italia yang konsisten melahirkan bek kelas dunia menjadi referensi penting. Namun, tanpa kompetisi domestik yang kompetitif dan infrastruktur pembinaan usia dini yang merata, upaya meniru kesuksesan mereka akan sulit terwujud dalam waktu singkat.
Hasil imbang ini membuat persaingan di Grup A1 semakin terbuka. Belgia yang menang 3-0 atas Turki kini memuncaki klasemen dengan 6 poin. Prancis dan Italia sama-sama mengoleksi 4 poin, sementara Turki belum meraih angka. Pada matchday berikutnya, Prancis akan bertandang ke Belgia, sementara Italia menjamu Turki. Laga tersebut akan menjadi penentu siapa yang berhak melaju ke perempat final dan siapa yang harus puas bermain di play-off degradasi.
Pertanyaannya, apakah Zidane mampu menemukan keseimbangan antara kreativitas dan ketenangan di lini belakang sebelum menghadapi Belgia? Ataukah Mancini yang justru akan memanfaatkan momentum ini untuk membawa Italia kembali ke puncak sepak bola Eropa?



