Towns dan Knicks di Ambang Kebuntuan: Tawaran Rp3,1 Triliun Tak Menyentuh Nilai Maksimal
Baca dalam 60 detik
- Karl-Anthony Towns menyebut negosiasi perpanjangan kontrak dengan New York Knicks berjalan tidak sesuai harapan.
- Tawaran Knicks senilai 200 juta dolar AS untuk empat tahun, terpaut hampir 77 juta dolar AS dari batas maksimal yang bisa diberikan.
- Kebuntuan ini berpotensi mengganggu stabilitas roster juara dan menjadi preseden bagi negosiasi pemain lain seperti Josh Hart dan Jalen Brunson.

Bintang New York Knicks, Karl-Anthony Towns, mengungkapkan bahwa pembicaraan perpanjangan kontrak dengan manajemen klub tidak berjalan mulus. Pernyataan itu disampaikan menjelang laga pramusim perdana Knicks melawan Philadelphia 76ers, Senin waktu setempat. "Itu tidak terlihat bagus," ujar Towns, seperti dikutip The Athletic. "Sederhananya, saya ingin melakukan sesuatu yang bisa menjaga tim tetap utuh, bekerja sama dengan Knicks, dan juga menghargai saya. Tidak ada satu pun dari hal itu yang mendekati kenyataan."
Kebuntuan ini bukan sekadar soal angka di atas kertas. Towns, yang menjadi salah satu pilar utama saat Knicks mengakhiri puasa gelar NBA selama lebih dari 50 tahun, berharap mendapatkan kontrak yang mencerminkan kontribusinya. Namun, tawaran yang diajukan manajemen dinilai terlalu jauh dari ekspektasi. Menurut laporan New York Post, Knicks menawarkan 200 juta dolar AS untuk empat tahun, sekitar 77 juta dolar AS lebih rendah dari nilai maksimal yang diizinkan aturan liga. Selisih itu setara dengan hampir Rp1,2 triliun, sebuah angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh pemain sekaliber Towns.
Yang membuat situasi ini rumit adalah kesediaan Towns untuk menerima bayaran di bawah maksimal. Ia menyatakan ingin mengikuti jejak Jalen Brunson, yang sebelumnya mengambil potongan gaji demi membangun kedalaman skuad. Namun, Towns juga menyadari bahwa ini bisa menjadi salah satu kontrak besar terakhirnya. Ia perlu menyeimbangkan antara mempertahankan inti tim dan memastikan nilai ekonominya sebagai pemain bintang. Sayangnya, menurutnya, Knicks belum menawarkan kompromi yang mendekati titik tengah.
Kebuntuan ini mencerminkan dilema yang dihadapi banyak tim juara di era CBA (Collective Bargaining Agreement) baru. Aturan second apron—yang membatasi fleksibilitas tim dalam berbelanja pemain—membuat manajemen Knicks sangat berhati-hati. Pemilik klub, James Dolan, dikenal tidak ingin melanggar batas tersebut. Ia bahkan langsung meredam euforia juara dengan menegaskan bahwa timnya tidak akan melewati second apron, sebuah garis keras yang menunjukkan bahwa mempertahankan seluruh inti juara bukan prioritas mutlak.
"Saya ingin melakukan sesuatu yang bisa menjaga tim tetap utuh, bekerja sama dengan Knicks, dan juga menghargai saya. Tidak ada satu pun dari hal itu yang mendekati kenyataan." — Karl-Anthony Towns
Bagi Knicks, negosiasi Towns bukan hanya tentang satu pemain. Ada pesan strategis yang ingin disampaikan ke seluruh roster. Josh Hart juga eligible untuk perpanjangan musim panas ini, sementara OG Anunoby dan Jalen Brunson akan memasuki tahun kontrak pada 2027. Jika Knicks bersikeras pada angka rendah untuk Towns, pemain lain akan melihatnya sebagai preseden tentang seberapa besar pengorbanan yang diharapkan manajemen. Sebaliknya, jika Towns pergi, fondasi juara bisa runtuh dalam sekejap.
Negosiasi masih bisa berlanjut selama musim berjalan, tetapi banyak pemain enggan membicarakan kontrak saat kompetisi sedang berlangsung. Situasi ini berpotensi menciptakan ketegangan di ruang ganti. Towns, yang seharusnya fokus membantu Knicks mempertahankan gelar, justru harus menghadapi ketidakpastian masa depan. Manajemen pun dihadapkan pada pilihan sulit: menunda pembicaraan hingga musim panas depan dan mengambil risiko kehilangan Towns tanpa kompensasi, atau kembali menjajaki opsi tukar guling sebelum batas waktu.
Dalam kebanyakan kasus, tim dan pemain terbaiknya akan menemukan jalan tengah. Namun, Dolan bukan tipe pemilik yang mudah terpengaruh tekanan publik. Jika Towns benar-benar hengkang pada musim panas mendatang, kemarahan penggemar Knicks mungkin tidak akan terlalu ia hiraukan. Pertanyaannya kini: apakah Knicks rela mempertaruhkan stabilitas juara demi disiplin anggaran, atau akankah mereka melunak sebelum kampanye 2026-27 dimulai?



