Jürgen Klopp Mulai Rangkai Starting XI Jerman: Ter Stegen Kembali, Kimmich ke Tengah
Baca dalam 60 detik
- Jürgen Klopp memanggil 44 pemain dalam dua gelombang untuk laga melawan Yunani, Belanda, dan Serbia, memberi ruang kompetisi terbuka di hampir semua posisi.
- Marc-André ter Stegen dipatok sebagai kiper utama, sementara Philipp Treu dan Nathaniel Brown muncul sebagai solusi di sektor bek sayap.
- Kembalinya Joshua Kimmich ke poros ganda bersama Aleksandar Pavlović menjadi kunci arah permainan Jerman ke depan.

Jürgen Klopp belum lama menangani timnas Jerman, tetapi ia sudah mulai menegaskan arah: membangun tulang punggung berpengalaman dan mengelilinginya dengan pemain muda. Dalam jeda internasional pertama musim 2026/27, ia memanggil 44 pemain yang dibagi ke dalam dua skuad untuk menghadapi Yunani, Belanda, dan Serbia. Empat pertandingan telah usai, dan sejumlah nama mulai mengunci tempat di starting XI versi pelatih asal Swabia itu.
Di bawah mistar, Marc-André ter Stegen kembali dipercaya sebagai pilihan utama. Meski sempat bergulat dengan cedera dan sempat berada di bayang-bayang Manuel Neuer, Klopp menilai kiper Barcelona itu tetap kelas dunia. "Sebuah tim butuh stabilitas dan tulang punggung, baru kemudian Anda bisa menambahkan banyak pemain muda di sekitarnya," ujar Klopp, seperti dikutip dari laman resmi Bundesliga. Ia mengaku sudah mengenal ter Stegen sejak lama dan menegaskan bahwa kiper berusia 34 tahun itu tetap yang terbaik untuk posisi tersebut.
Namun, tekanan datang dari Jonas Urbig. Kiper muda Bayern Munich berusia 23 tahun itu mencatat dua penampilan meyakinkan dan dua clean sheet saat melawan Serbia (2-0) dan Yunani (0-0). Jika ia mampu menambah menit bermain di level klub, bukan tidak mungkin posisi ter Stegen akan tergoyahkan dalam beberapa bulan ke depan.
Di sektor bek kanan, Philipp Treu tampil menonjol. Bek Freiburg itu menyelesaikan 90 menit dalam tiga dari empat laga, sementara Josha Vagnoman hanya tampil sekali dan Ridle Baku tidak mendapat kesempatan. Klopp memang berencana mengembalikan Joshua Kimmich ke lini tengah, sehingga ia membutuhkan bek kanan murni. Treu menjawab kepercayaan itu dengan agresivitas dan umpan silang berbahaya.
Untuk posisi bek tengah, duet Jonathan Tah dan Nico Schlotterbeck masih menjadi pilihan utama. Dengan total lebih dari 80 caps, keduanya menawarkan pengalaman, ketenangan, dan kualitas distribusi bola. Schlotterbeck sempat terganggu cedera, tetapi saat bugar ia selalu tampil solid bersama Tah. Sementara itu, Waldemar Anton dan Malick Thiaw menjadi pelapis yang siap mendesak. Keduanya tampil sebagai starter saat melawan Serbia dan Yunani, mencatat dua clean sheet, dan membuat Klopp menyebut kombinasi mereka "sangat menarik".
Di sisi kiri pertahanan, Nathaniel Brown terus menanjak. Pemain muda Bayern itu tampil cemerlang di dua laga awal jeda internasional. Fleksibilitasnya bahkan membuat pelatih Bayern, Vincent Kompany, sempat memainkannya sebagai gelandang nomor 10. Klopp pun menyindir keputusan itu dengan nada bercanda. "Sekarang kami akhirnya punya bek kiri Jerman lagi, tapi malah dimainkan sebagai nomor 10," ujarnya. Meski demikian, hal itu justru menegaskan bahwa Brown adalah pilihan utama di sisi kiri. Maximilian Mittelstädt dan David Raum masih bersaing untuk posisi pelapis.
Di lini tengah, Klopp tampaknya akan memasang duet Joshua Kimmich dan Aleksandar Pavlović sebagai poros ganda. Keduanya belum pernah menjadi starter bersama di jeda internasional ini, tetapi kombinasi mereka di Bayern Munich membuat pelatih yakin. Pavlović mampu memecah garis pertahanan lawan dengan umpan-umpan progresif, sementara Kimmich lebih bertahan dan mengatur tempo. Felix Nmecha menjadi alternatif yang paling mungkin mendesak, terutama karena kemampuannya membawa bola dan naluri menyerang yang lebih tinggi.
Di sayap kanan, Karim Adeyemi menunjukkan performa impresif. Setelah pindah ke Barcelona pada musim panas, ia membawa performa apiknya ke level internasional. Meski tidak mencetak gol, ia menjadi ancaman konstan bagi pertahanan Belanda. Namun, bayang-bayang Jamal Musiala tetap ada. Meski masih berjuang dengan cedera dan penyakit, Musiala dianggap sebagai pembeda di level tertinggi. Klopp menegaskan bahwa kondisi Musiala tidak akan memengaruhi peluangnya di timnas. "Dia berada dalam situasi yang tidak diinginkan siapa pun, terutama untuk pemain muda seperti dia. Saya meyakinkannya bahwa ini tidak akan berdampak pada timnas," kata Klopp.
Di posisi gelandang serang, Florian Wirtz nyaris tak tergantikan. Golnya ke gawang Serbia membuktikan bahwa ia adalah kreator utama yang tidak bisa ditinggalkan. Wirtz bahkan dipercaya menjadi kapten saat melawan Yunani, menandakan statusnya sebagai salah satu pemain senior di skuad meski usianya masih muda. Sementara itu, di sayap kiri, Derry Scherhant menjadi kejutan. Pemain Freiburg itu tampil berani dan langsung, memanfaatkan kecepatannya untuk menusuk ke belakang pertahanan lawan. "Ini terasa sangat tidak nyata," ujar Scherhant setelah debutnya melawan Belanda. Serge Gnabry, yang lebih berpengalaman, tetap menjadi pesaing serius setelah tampil di tiga dari empat laga dan sempat memakai ban kapten.
Di lini depan, Kai Havertz masih menjadi pilihan utama Klopp meski sempat ditarik keluar karena cedera saat melawan Belanda. Kemampuan playmaking dan naluri golnya membuatnya menjadi striker andalan Arsenal di bawah Mikel Arteta. Namun, dengan adanya Younes Ebnoutalib, Jonathan Burkardt, dan Nick Woltemade yang memiliki karakter berbeda, bukan tidak mungkin Klopp akan merotasi posisi striker tergantung lawan yang dihadapi.
Bagi publik Indonesia, dinamika timnas Jerman ini bisa menjadi cermin bagaimana sebuah federasi besar merombak skuad pasca-turnamen besar. PSSI dan pelatih timnas Indonesia sering kali menghadapi dilema serupa: memadukan pemain senior berpengalaman dengan talenta muda yang sedang menanjak. Klopp memilih pendekatan bertahap, memberi menit bermain kepada 44 pemain sebelum memangkasnya menjadi starting XI ideal. Strategi ini bisa menjadi pelajaran berharga dalam pengelolaan transisi timnas, terutama menjelang kompetisi besar seperti Piala Asia atau Kualifikasi Piala Dunia.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Klopp menemukan keseimbangan antara stabilitas dan regenerasi. Dengan sejumlah nama muda seperti Urbig, Brown, dan Scherhant yang mulai menonjol, apakah Jerman akan kembali menjadi kekuatan dominan di sepak bola dunia, atau justru terjebak dalam siklus eksperimen yang berkepanjangan?



