Flávio Bolsonaro Menang Putaran Pertama, Lula Hadapi Jalan Terjal di Brasil
Baca dalam 60 detik
- Flávio Bolsonaro unggul tipis atas Lula pada putaran pertama pilpres Brasil dengan 47,03% suara berbanding 45,16%.
- Gelombang kanan jauh juga menguasai Senat dan kursi gubernur, memperkuat dinasti Bolsonaro meski Jair Bolsonaro sedang menjalani hukuman.
- Lula harus membalikkan keadaan pada putaran kedua 25 Oktober, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak demokrasi Brasil kembali pada 1985.

Flávio Bolsonaro, kandidat sayap kanan berusia 45 tahun, memenangi putaran pertama pemilihan presiden Brasil dengan perolehan 47,03% suara, mengalahkan Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva yang meraih 45,16%. Kemenangan mengejutkan ini menempatkan Flávio sebagai favorit kuat untuk putaran kedua pada 25 Oktober mendatang, sementara pendukung progresif dan basis Lula dilaporkan terpukul.
Selisih suara sekitar 2,3 juta—56,1 juta untuk Flávio berbanding 53,8 juta untuk Lula—menjadi pukulan telak bagi koalisi kiri yang berkuasa. Sejak Brasil kembali ke sistem demokrasi pada 1985, belum pernah ada kandidat peringkat kedua di putaran pertama yang berhasil membalikkan keadaan dan memenangi putaran final. Kondisi ini memberikan tekanan psikologis dan politis yang berat bagi Lula, yang kini berusia 80 tahun.
Gelombang dukungan terhadap keluarga Bolsonaro tidak hanya terjadi di kursi presiden. Klannya mencetak kemenangan di berbagai level: Michelle Bolsonaro, istri Jair Bolsonaro, terpilih sebagai senator; Carlos Bolsonaro, putra kedua, juga masuk Senat; sedangkan putra bungsu Jair Renan dan adik kandung Jair, Renato, melenggang ke Dewan Perwakilan Rakyat. Partai Liberal (PL) pimpinan Jair Bolsonaro kini menguasai 28 dari 81 kursi Senat, dan jika digabung dengan partai kanan keras lainnya, blok ini mengendalikan 43 kursi—mayoritas di majelis tinggi.
Kemenangan juga diraih tokoh-tokoh Bolsonarista di tingkat negara bagian, seperti Tarcísio de Freitas yang kembali menjabat Gubernur São Paulo dan Sérgio Moro yang memenangi kursi gubernur Paraná. Sementara itu, kandidat pro-Lula seperti Marina Silva, Benedita da Silva, dan Simone Tebet mengalami kekalahan pahit. Dua influencer muda Bolsonarista, Nikolas Ferreira dan Lucas Pavanato, bahkan mencatat rekor sebagai anggota kongres dengan suara terbanyak dalam sejarah Brasil, masing-masing melampaui 3 juta suara.
Menurut ilmuwan politik Miguel Lago, kemenangan ini adalah bagian dari revolusi kanan jauh yang terus menguat secara konsisten dari pemilu ke pemilu. Ia menilai Lula sempat menghentikan laju populisme Bolsonaro pada 2022 berkat memori positif publik terhadap masa jabatan pertamanya (2002–2010), ketika booming komoditas global memungkinkan program kesejahteraan besar-besaran. "Namun itu hanya interregnum," ujar Lago, seraya menyebut pemilu kali ini sebagai yang terburuk bagi partai progresif dan tengah moderat sejak akhir 1980-an.
Lago memperkirakan mayoritas di Senat akan memuluskan amnesti bagi Jair Bolsonaro, membebaskannya dari tahanan rumah di Brasília, dan mengembalikannya sebagai pemimpin de facto gerakan kanan jauh. "Saya pikir dia akan dibebaskan dan sangat berpengaruh di pemerintahan Flávio," kata Lago. "Flávio akan menjalankan negara, dan Bolsonaro akan melakukan apa yang selalu dia lakukan: memimpin revolusi."
Kemenangan ini juga membuka jalan bagi Eduardo Bolsonaro, putra ketiga Jair yang saat ini hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat, untuk kembali. Eduardo, yang memiliki hubungan erat dengan gerakan MAGA Donald Trump, dijatuhi hukuman empat tahun penjara in absentia tahun ini karena melobi pemerintahan Trump agar mengintervensi persidangan kudeta ayahnya. Ia dikabarkan berambisi menjadi menteri luar negeri jika Flávio terpilih.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dituduh berupaya memengaruhi pemilu Brasil, belum memberikan komentar resmi atas hasil putaran pertama. Namun ia menulis di Truth Social memuji kecepatan penghitungan suara. Kemenangan kanan jauh di Brasil menjadi dorongan besar bagi ambisi Trump memperluas gelombang konservatif di Amerika Latin, setelah sebelumnya sukses di Kosta Rika, Honduras, El Salvador, Chile, dan Kolombia. Presiden Argentina Javier Milei menyambut kemenangan "historis" Flávio melawan "komunis Lula", sedangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendoakan keberhasilan Flávio di putaran final.
"Dari besok kami akan meluncurkan kampanye baru. Dalam kampanye dengan hanya dua kandidat, kami akan menunjukkan perbedaan proposal kami untuk Brasil," kata Lula, berjanji mengekspos "masa lalu gelap" rivalnya.
Meski Lula berusaha tegar, suasana di markasnya pasca-pemilu dilaporkan muram. Flávio kini diunggulkan, terutama karena akan menyerap suara dari kandidat kanan lain—Ronaldo Caiado, Renan Santos, dan Romeu Zema—yang total meraih lebih dari 5,5 juta suara. Santos menyatakan tidak akan mendukung siapa pun, Zema menolak Lula, dan Caiado belum menentukan sikap.
Harapan Lula mungkin terletak pada 33 juta pemilih yang tidak menggunakan hak suara. "Dia harus memobilisasi pemilih apatis yang sudah merasa meninggalkan politik, dan itu tugas yang sangat sulit," kata Camila Rocha, ilmuwan politik yang meneliti kanan baru Brasil. Rocha menemukan apatisme tinggi di kalangan pemilih yang tidak sejalan dengan Bolsonarismo. Ia menambahkan bahwa bagi pemilih ragu, citra "pembaruan" Flávio menjadi daya tarik utama, meski ada dugaan keterlibatan korupsi dan kelompok paramiliter.
Lago menilai hanya perubahan dramatis dalam kampanye Lula—seperti mengganti kandidat atau skandal besar yang menimpa Flávio—yang bisa mengubah hasil. Namun ia meragukan hal itu akan terjadi. Putaran kedua pada 25 Oktober akan menjadi ujian bagi demokrasi Brasil: apakah mesin politik Bolsonaro yang kini kian solid dapat dihentikan, atau justru mempercepat pergeseran negara itu ke kanan jauh?



