Rocky Gerung di Istana: 'Lagi Acara Radical Break' Saat Isu Wantimpres Menguat
Baca dalam 60 detik
- Rocky Gerung mendatangi Istana Negara pada Jumat (2/10/2026) saat kabar pelantikan Wantimpres mencuat, tetapi ia menolak menjelaskan maksud kedatangannya.
- Sejumlah tokoh senior seperti Pratikno, Budi Gunawan, dan Jusuf Wanandi lebih dulu tiba, memperkuat dugaan bahwa Istana tengah menata ulang lingkaran penasihat kepresidenan.
- Pernyataan 'radical break' milik Rocky berpotensi menjadi ujian transparansi bagi Prabowo dalam merangkul kalangan kritis tanpa kehilangan legitimasi reformasi.

Akademisi Rocky Gerung muncul di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026), tepat ketika kabar pelantikan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) beredar kencang. Alih-alih memberi penjelasan, ia melempar satu kalimat yang justru menambah teka-teki: โIni gue lagi acara radical break.โ
Rocky tidak menguraikan apa yang dimaksud dengan istilah tersebut. Ia memilih berjalan cepat meninggalkan awak media yang terus mendesaknya dengan pertanyaan soal kemungkinan dirinya masuk jajaran penasihat Presiden Prabowo Subianto. Sikap itu kontras dengan sejumlah nama lain yang datang lebih awal dan membiarkan kehadiran mereka berbicara sendiri.
Sejak pukul 13.30 WIB, sejumlah figur senior terlihat memasuki kawasan Istana dengan busana formal. Di antaranya mantan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia Philip Kuntjoro Widjaja, eks Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, pendiri Mayapada Group Dato Sri Tahir, serta aktivis dan peneliti senior Jusuf Wanandi. Komposisi itu menandakan bahwa Istana sedang menyusun ulang lingkaran penasihat di level tertinggi, bukan sekadar mengisi kursi kosong.
Masuknya Rocky ke dalam orbit kekuasaan akan menjadi sinyal politik yang tidak biasa. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai pengkritik tajam kebijakan pemerintah dan sering berselisih dengan narasi resmi Istana. Jika benar ia dilantik, langkah itu bisa dibaca sebagai upaya Prabowo memperluas basis legitimasi dengan menyerap suara kritis ke dalam struktur formal, bukan membiarkannya tumbuh di luar sistem.
Namun, strategi semacam itu menyimpan risiko. Kalangan reformis yang selama ini mendukung Rocky sebagai penjaga nalar publik berpotensi merasa ditinggalkan bila ia dianggap co-opted oleh kekuasaan. Sebaliknya, pendukung pemerintah bisa mempertanyakan konsistensi seorang kritikus yang tiba-tiba duduk di kursi penasihat. Ketegangan ini menjelaskan mengapa Istana belum memberi konfirmasi resmi soal nama-nama yang beredar.
โIni gue lagi acara radical break,โ ujar Rocky Gerung saat ditanya soal pelantikan, tanpa merinci maksud pernyataannya.
Frasa โradical breakโ sendiri menarik dicermati. Dalam wacana politik, istilah itu biasanya merujuk pada pemutusan mendasar dari tatanan yang ada. Dipakai di depan Istana, kalimat tersebut bisa berarti sindiran, kode politik, atau sekadar cara Rocky mengalihkan perhatian media. Tanpa penjelasan lanjutan, publik hanya bisa menafsirkan dari konteks: seorang akademisi yang lama berada di luar lingkar kekuasaan, kini berdiri di ambang pintu masuknya.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini bukan sekadar urusan elit. Komposisi Wantimpres menentukan arah nasihat strategis di bidang ekonomi, hukum, dan sosial yang pada akhirnya berdampak pada kebijakan publik. Kehadiran figur seperti Budi Gunawan dan Jusuf Wanandi, misalnya, mengisyaratkan bahwa Prabowo ingin menyeimbangkan kebutuhan stabilitas keamanan dengan masukan dari kalangan sipil dan dunia usaha.
Yang belum terjawab adalah apakah Istana akan merilis daftar resmi lengkap dengan tugas masing-masing anggota. Transparansi menjadi krusial karena Wantimpres, meski tidak memiliki kewenangan eksekutif, kerap menjadi cermin prioritas politik presiden. Selama ini, publik hanya mendapat bocoran dari pantauan media, bukan dari pernyataan resmi.
Jika Rocky benar masuk, pertanyaan besarnya bukan lagi soal kursi, melainkan soal peran. Apakah ia akan menjadi suara kritis di dalam sistem, atau justru kehilangan daya kritiknya begitu berada di dalam? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bagaimana publik menilai arah kepemimpinan Prabowo dalam beberapa bulan mendatang.



