AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Ancaman Serangan Baru ke Iran Menguat
Baca dalam 60 detik
- Washington mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga dan pasukan amfibi ke Timur Tengah, sinyal eskalasi konflik dengan Iran.
- Sanksi baru menjerat sektor otomotif dan kereta Iran, sementara tanker di Selat Hormuz jadi sasaran proyektil misterius.
- Ketegangan di jalur pelayaran global berpotensi menaikkan harga minyak dan biaya logistik Indonesia.

Pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga, disertai pasukan amfibi yang membawa 2.000 Marinir. Langkah ini diambil saat Trump memberi sinyal akan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan sela November mendatang.
Menurut laporan Al Jazeera yang mengutip pejabat AS, kelompok tempur USS Theodore Roosevelt dan pasukan Makin Island telah meninggalkan San Diego. Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa penumpukan kekuatan penuh diperkirakan rampung pada November, bulan yang sama ketika Trump disebut berencana melanjutkan pemboman ke Iran. Konflik yang kini memasuki bulan kedelapan itu masih menemui jalan buntu; perundingan tidak langsung terhenti karena Washington menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan imbalan pencabutan blokade AS, sehingga harga minyak bertahan di atas level praperang.
Di Yaman, koalisi pimpinan Saudi menuduh milisi Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan drone terhadap pembangkit listrik di Medina yang memasok Masjid Nabawi. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, menyatakan serangan pada stasiun distribusi Taibah itu melumpuhkan satu transformator, tetapi jaringan listrik secara keseluruhan tetap berfungsi. Namun, staf militer Houthi kepada kantor berita Saba membantah tuduhan tersebut sebagai "kebohongan" untuk menutupi kegagalan Saudi membuktikan tuduhan sebelumnya bahwa Houthi menargetkan kota suci Mekah.
Departemen Keuangan AS pada Kamis memperluas sanksi ke sektor otomotif dan perkeretaapian Iran, termasuk perusahaan kereta milik negara serta pemasok di Uni Emirat Arab, Hong Kong, Turki, dan Indonesia. Sanksi juga menyasar jaringan A7, saluran keuangan terkait Rusia yang menurut Treasury digunakan Iran untuk menghindari sanksi. Menteri Keuangan Scott Bessent dalam unggahan di X mengklaim Iran memuat "nol minyak mentah" ke kapal tanker pada September.
Di jalur pelayaran, United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah tanker dihantam proyektil tak dikenal di Selat Hormuz pada Kamis, menyebabkan kebakaran meski awak dinyatakan aman. Insiden ini menambah kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang tampaknya tetap buntu. Menteri Luar Negeri Marco Rubio dilaporkan memerintahkan delegasi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan New York lebih awal dari rencana, setelah perundingan tidak langsung yang dimediasi Qatar gagal mencapai terobosan. Sikap diplomatik yang tidak biasa itu menggarisbawahi besarnya saling ketidakpercayaan antara kedua negara.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah bukan sekadar berita jauh. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia jika Selat Hormuz—jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak global—terganggu. Kenaikan biaya energi akan menekan anggaran subsidi, memperlebar defisit transaksi berjalan, dan pada akhirnya membebani daya beli masyarakat. Pemerintah perlu mengantisipasi skenario terburuk dengan memperkuat cadangan strategis dan mempercepat diversifikasi sumber energi.
Dengan penumpukan militer yang dijadwalkan tuntas pada November dan sinyal serangan baru, pertanyaannya bukan lagi apakah ketegangan akan mereda, melainkan seberapa besar guncangan yang harus disiapkan pasar energi dan pelaku usaha di kawasan Asia, termasuk Indonesia, dalam beberapa bulan mendatang.



