Paus Bungkuk Muda Terjebak 11 Km di Sungai Clarence, Mati Terdampar dan Picu Peringatan Hiu
Baca dalam 60 detik
- Seekor paus bungkuk remaja ditemukan berenang 11 kilometer ke hulu Sungai Clarence, New South Wales, sebelum akhirnya mati dan ditarik ke laut.
- Otoritas setempat mengeluarkan peringatan aktivitas hiu meningkat di sekitar bangkai, sementara para ahli menduga paus mengalami penyakit kronis atau cedera.
- Insiden ini bukan yang pertama; pola serupa pernah terjadi di beberapa sungai Australia, memicu pertanyaan tentang kesehatan populasi paus bungkuk yang bermigrasi.

Seekor paus bungkuk muda ditemukan berenang sejauh 11 kilometer ke arah hulu Sungai Clarence di pesisir utara-tengah New South Wales, Australia, pada akhir pekan lalu. Setelah terdampar di gosong pasir, mamalia laut itu mati dalam waktu singkat. Otoritas setempat kemudian mengevakuasi bangkainya ke laut pada Minggu (4/10), sementara peringatan bahaya hiu dikeluarkan bagi pengunjung pantai di sekitar lokasi.
Menurut keterangan NSW National Parks and Wildlife Service, laporan pertama dari masyarakat tentang paus yang tampak sakit masuk pada Sabtu sore. Paus itu berenang ke arah sungai dekat Taman Nasional Bundjalung, lalu terdampar di perairan dangkal. “Dalam 30 menit, pengamat melaporkan paus tersebut telah mati,” ujar seorang juru bicara lembaga tersebut. Bangkai paus kemudian ditarik ke laut lepas untuk mencegah risiko kesehatan dan keselamatan publik.
Insiden ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya aktivitas hiu di perairan sekitar. SharkSmart NSW, program pemerintah negara bagian, mengimbau masyarakat untuk tidak berselancar, berenang, atau menyelam di pantai-pantai sekitar. Bangkai paus memang dikenal dapat menarik predator laut seperti hiu, sehingga kehadirannya di perairan terbuka berpotensi membahayakan manusia.
Dr Vanessa Pirotta, ilmuwan spesialis paus, menilai kejadian ini langka tetapi bukan hal yang mustahil. Menurutnya, paus kadang menjelajahi sungai dan muara karena rasa ingin tahu, kesalahan navigasi, atau kondisi kesehatan yang memburuk. Paus di Sungai Clarence terlihat “sangat tidak sehat”, sehingga kemungkinan besar masuk ke sungai akibat penyakit. “Saat ini, sebagian besar populasi paus di pantai timur dan barat sedang bergerak ke selatan menuju Antartika untuk mencari makan krill,” ujarnya, menjelaskan bahwa migrasi normal tidak mengarah ke sungai.
Organisasi penyelamatan mamalia laut Orrca menambahkan bahwa paus bungkuk memang kerap berenang dekat garis pantai NSW dan sesekali masuk ke teluk, pelabuhan, atau lingkungan muara selama migrasi tahunan. Berdasarkan banyaknya teritip dan organisme di kulit paus muda tersebut, Orrca menduga hewan itu mengalami penyakit kronis, cedera, atau masalah kesehatan lain. “Namun penyebab kematian tidak dapat ditentukan hanya dari gambar,” kata juru bicara Orrca. Mereka juga mencatat bahwa dalam populasi sebesar 50.000 paus yang bermigrasi setiap tahun, sebagian kecil memang rentan mengalami kondisi tubuh buruk.
“Paus bungkuk secara teratur melakukan perjalanan dekat dengan garis pantai NSW dan dapat memasuki teluk, pelabuhan, dan lingkungan muara untuk sementara selama migrasi tahunan mereka.” — Juru bicara Orrca
Kejadian ini bukan yang pertama. Pada April lalu, seekor paus terdampar di gosong pasir Danau Wallis setelah berenang di bawah Jembatan Forster Tuncurry. Tahun sebelumnya, dua paus bungkuk masuk ke muara Sungai Yarra melalui Jembatan West Gate Melbourne. Pada 2020, tiga paus bungkuk memasuki Sungai Alligator Timur di Taman Nasional Kakadu, dengan satu di antaranya mencapai 30 kilometer ke hulu, sebelum semuanya kembali ke laut. Pola ini menunjukkan bahwa meskipun jarang, paus dapat tersesat ke perairan tawar.
Meski mamalia bernapas udara ini mampu bertahan di air tawar untuk sementara, kondisi tersebut tidak baik bagi kulit mereka. Pirotta mengingatkan siapa pun yang melihat paus di lokasi tidak biasa atau dalam kesulitan agar segera melapor ke otoritas lingkungan. Insiden di Sungai Clarence terjadi kurang dari sepekan setelah bangkai paus bungkuk terdampar di pantai kota Perth dan menarik perhatian banyak hiu sebelum akhirnya disingkirkan pada Kamis.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah frekuensi paus masuk ke sungai akan meningkat seiring perubahan kondisi laut dan kesehatan populasi. Dengan sekitar 50.000 paus bungkuk melintasi pantai timur Australia setiap tahun, pemantauan ketat dan respons cepat terhadap laporan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko bagi hewan dan manusia. Apakah otoritas akan memperkuat sistem peringatan dini, ataukah kejadian ini akan tetap menjadi anomali musiman yang sulit diprediksi?



