Taylor Sheridan dan Peter Berg Siap Angkat Sisi Manusiawi di Film Call of Duty
Baca dalam 60 detik
- Peter Berg memastikan adaptasi Call of Duty tidak sekadar aksi tembak-tembakan, melainkan menyoroti beban moral para tentara.
- Kolaborasi Berg dan Taylor Sheridan disebut mampu menghadirkan nuansa drama perang yang jarang ditemukan di film adaptasi gim.
- Film yang dijadwalkan tayang 30 Juni 2028 ini akan bersaing dengan proyek Battlefield garapan Christopher McQuarrie.

Film adaptasi Call of Duty yang digarap Activision dan Paramount Pictures dipastikan tidak akan menjadi tontonan popkor belaka. Sutradara Peter Berg mengungkapkan bahwa penulis naskah Taylor Sheridan membawa pendekatan berbeda: menggali dimensi kemanusiaan dari para karakter tentara yang selama ini dikenal lewat permainan video.
Berbicara kepada ComicBook.com saat mempromosikan film perang terbarunya, The Mosquito Bowl, Berg menjelaskan bahwa franchise Modern Warfare memiliki kedalaman naratif yang kerap diabaikan. Karakter seperti Captain Price, Soap, Ghost, dan Alex, menurutnya, bukan sosok kartun atau komik. โMereka manusia rumit dengan storyline yang nuansial. Ada jiwa nyata di semesta Modern Warfare,โ ujarnya.
Berg menegaskan bahwa di balik adegan kekerasan dan perangkat militer yang melekat pada gim, terdapat tema tentang harga sebuah perang. Tentara yang memilih berdiri di antara bahaya dan masyarakat sipil memikul beban berat. โAda jiwa di bawahnya, yang saya pahami dan Taylor Sheridan pahami. Akan ada jiwa yang kuat, dan konsekuensi perang di dalam film,โ tambahnya.
Rencana menghadirkan Call of Duty ke layar lebar sebenarnya sudah berumur lebih dari satu dekade. Pada 2015, Activision membentuk Activision Blizzard Studios dan mencanangkan pembangunan semesta sinematik berbasis waralaba tersebut. Stefano Sollima, yang menyutradarai Sicario: Day of the Soldado dari naskah Sheridan, sempat ditunjuk sebagai sutradara, tetapi proyek itu kandas. Kini, dengan Berg di kursi sutradara dan Sheridan sebagai penulis, ambisi itu kembali dinyalakan.
Presiden Activision, Rob Kostich, sebelumnya menyatakan bahwa film ini akan menghormati dan memperluas apa yang membuat franchise hebat, sekaligus menjangkau audiens baru. โTujuan kami sederhana: menciptakan pengalaman blockbuster yang tak terlupakan bagi komunitas, dan menggairahkan penggemar baru,โ katanya.
Di industri film Indonesia, adaptasi gim ke layar lebar masih menjadi wilayah yang jarang dijamah. Kesuksesan Call of Duty nanti bisa menjadi tolok ukur bagi rumah produksi lokal yang ingin mengangkat kekayaan naratif permainan video, terutama yang berlatar sejarah atau konflik. Namun, tantangannya bukan hanya soal anggaran, melainkan juga kemampuan meracik cerita agar tidak terjebak pada aksi belaka.
Persaingan di segmen film adaptasi gim militer pun memanas. Christopher McQuarrie dan Michael B. Jordan tengah menyiapkan film Battlefield, waralaba gim tembak-menembak rival. Dengan jadwal tayang Call of Duty pada 30 Juni 2028, publik menanti apakah pendekatan drama manusiawi yang diusung Sheridan dan Berg mampu membedakannya dari kompetitor. Jika berhasil, bukan tidak mungkin film ini menjadi standar baru bagi adaptasi gim yang selama ini sering dinilai gagal menangkap esensi cerita.



