Pete Davidson Akui Kecanduan Narkoba Nyaris Hancurkan Hidupnya: 'Saya Tak Merasa Mabuk Lagi'
Baca dalam 60 detik
- Pete Davidson mengungkap masa kelam kecanduan ketamin, LSD, dan pil yang membuatnya kehilangan sensasi mabuk.
- Keputusan masuk rehabilitasi dipicu oleh ketakutan ibunya yang khawatir melihat kabar buruk tentang sang anak di berita.
- Kini dua tahun bersih dari narkoba, Davidson menjadikan putrinya sebagai alasan utama mempertahankan hidup sehat.

Komedian Pete Davidson membuka pengalaman pahit soal kecanduan narkoba yang hampir merenggut hidupnya. Dalam wawancara dengan Variety, mantan bintang Saturday Night Live itu menuturkan bahwa puncak kekacauan terjadi ketika ia mengolah ketamin cair menjadi bentuk yang bisa dikonsumsi, sambil mencampurnya dengan LSD, jamur, dan pil setiap hari. "Saya tidak merasa mabuk lagi. Justru saya merasa mabuk ketika tidak mengonsumsi apa pun. Di situ saya sadar ini masalah besar," ujarnya.
Kesadaran itu tidak serta-merta membuatnya berhenti. Davidson mengaku baru benar-benar tersadar setelah ibunya, Amy, menyampaikan ketakutan terbesarnya: bangun suatu hari dan melihat nama anaknya muncul di berita karena hal buruk. "Saya sampai pada titik tidak bisa melakukan itu lagi padanya," kata pria 30 tahun tersebut. Ia pun memutuskan meninggalkan serial Bupkis dan masuk rehabilitasi.
Masa rehabilitasi di usia 30 tahun menjadi titik terendah dalam hidupnya. "Karier tidak berjalan, saya merasa sial. Saya tidak sanggup lagi," kenangnya. Namun ia menegaskan bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan untuk orang lain atau demi pekerjaan. "Anda harus benar-benar menginginkannya. Ketika sudah selesai, ya selesai."
"Saya tidak main-main dengan narkoba lagi. Sudah dua atau tiga tahun bebas dari barang keras, dan sekitar satu tahun lebih dari ganja." — Pete Davidson
Yang menarik, zat yang paling sulit dilepaskan justru ganja. Davidson mengaku berat meninggalkan kebiasaan merokok ganja, tetapi kehadiran putrinya, Scottie, yang lahir tahun lalu, menjadi tameng ampuh. "Aneh, yang paling susah dihentikan adalah ganja. Sekarang mudah karena saya punya anak. Setiap kali muncul keinginan, saya lihat latar belakang ponsel, foto anak saya, dan langsung berpikir, 'Oh, tidak'."
Kisah Davidson bukan sekadar drama selebritas. Di Indonesia, data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan peningkatan signifikan penyalahgunaan narkotika di kalangan usia produktif, dengan ketamin dan psikotropika golongan baru mulai marak di kota-kota besar. Pola konsumsi campuran yang dilakukan Davidson—mengombinasikan stimulan, halusinogen, dan depresan—adalah salah satu bentuk polisubstansi yang memperbesar risiko kerusakan organ dan gangguan jiwa. Sayangnya, akses layanan rehabilitasi yang memadai masih terkendala stigma dan biaya.
Kisah Davidson juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan. Intervensi emosional dari ibunya menjadi pemicu utama perubahan, sejalan dengan temuan sejumlah studi yang menempatkan keluarga sebagai faktor protektif terkuat bagi pecandu yang ingin sembuh. Tanpa dukungan itu, niat berhenti sering kali hanya bertahan sebentar.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Davidson benar-benar konsisten menjaga sobriety di tengah tekanan industri hiburan yang tidak jarang menormalisasi penggunaan zat. Ia juga berpotensi menjadi suara baru bagi kampanye kesehatan mental dan anti-narkoba, terutama di kalangan generasi muda yang mengidolakannya. Namun, seperti ia sendiri akui, pemulihan adalah perjalanan seumur hidup—bukan proyek sesaat. Akankah kisahnya menginspirasi atau justru menjadi catatan kelam lain dari daftar panjang selebritas yang jatuh? Waktu yang akan membuktikan, tetapi langkah pertamanya sudah ia ambil.



