Aktivitas Fisik Intensitas Sedang-Tinggi Turunkan Risiko Diabetes Tipe 2, Studi Temukan
Baca dalam 60 detik
- Riset anyar yang menganalisis data hampir 88.000 partisipan UK Biobank mengungkap bahwa individu dengan volume aktivitas fisik sedang-berat (MVPA) rendah berisiko dua kali lipat terkena diabetes tipe 2 dibanding mereka yang aktif.
- Kelompok dengan MVPA tinggi rata-rata berolahraga 409 menit per pekan, sementara kelompok rendah hanya 121 menit; efek perlindungan paling mencolok pada orang dewasa di bawah 63 tahun.
- Temuan ini menegaskan pentingnya olahraga sebagai pilar pencegahan diabetes, terutama di Indonesia yang menghadapi lonjakan kasus diabetes tipe 2 pada usia produktif.

Sebuah studi berskala besar yang dipublikasikan di jurnal Diabetes, Obesity and Metabolism pada Agustus lalu menyimpulkan bahwa aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat (moderate-to-vigorous physical activity/MVPA) berkorelasi kuat dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 pada orang dewasa. Peneliti menganalisis data hampir 88.000 partisipan dari UK Biobank dan menemukan bahwa mereka yang tergolong kurang aktif memiliki risiko relatif dua kali lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit metabolik tersebut dibandingkan kelompok yang lebih aktif.
Rasio bahaya (hazard ratio) sebesar 2,07 menunjukkan bahwa volume MVPA yang rendah meningkatkan laju kejadian diabetes tipe 2 sekitar dua kali lipat setelah disesuaikan dengan berbagai faktor. Kelompok dengan MVPA tinggi rata-rata mengumpulkan 409 menit olahraga per pekan, jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menetapkan minimal 150 menit aktivitas aerobik sedang per pekan. Sementara itu, kelompok MVPA rendah hanya mencatat median 121 menit per pekan, dan hanya sekitar 37% di antaranya yang berhasil mencapai ambang batas WHO.
Yang menarik, hubungan antara kurang gerak dan risiko diabetes lebih menonjol pada partisipan berusia di bawah 63 tahun. Mereka yang berusia 62,7 tahun atau lebih muda dengan MVPA rendah memiliki kemungkinan 2,44 kali lebih besar terkena diabetes tipe 2, sedangkan pada kelompok usia di atas 62,7 tahun, risikonya 1,65 kali lebih tinggi. Meskipun angka relatif lebih kecil pada lansia, para peneliti mencatat bahwa perbedaan absolut dalam insiden diabetes justru melebar seiring bertambahnya usia.
Dr. Opel Baker, dokter umum di Mayfield Clinic yang tidak terlibat dalam studi, menilai temuan ini signifikan secara klinis. "HR 2,07 adalah angka yang bermakna. Namun, ini studi observasional, jadi menunjukkan asosiasi kuat, bukan bukti bahwa kurang aktivitas secara langsung menyebabkan diabetes," ujarnya kepada Medical News Today. Ia menambahkan bahwa pesan utamanya tetap sama: aktivitas fisik bukan sekadar pengobatan, melainkan komponen penting pencegahan diabetes. "Olahraga rutin meningkatkan sensitivitas insulin, mengendalikan lemak visceral, memperbaiki pengambilan glukosa oleh otot rangka, dan memengaruhi metabolisme lipid secara positif," jelasnya.
Dr. David Cutler, spesialis kedokteran keluarga di Providence Saint John's Health Center, menekankan bahwa angka HR tidak berarti probabilitas individu meningkat dua kali lipat secara harfiah. "Ini berarti laju perkembangan diabetes sekitar dua kali lebih tinggi pada kelompok dengan aktivitas rendah setelah penyesuaian," katanya. Ia juga menyoroti pentingnya kombinasi latihan aerobik dan resistensi. "Latihan resistensi sangat menarik karena otot rangka adalah lokasi utama pembuangan glukosa. Meningkatkan atau mempertahankan massa otot dan sensitivitas insulin otot dapat berdampak metabolik yang besar," tambahnya.
"Untuk pencegahan diabetes, ada alasan kuat untuk menggabungkan latihan aerobik (jalan cepat, bersepeda, berenang, joging, hiking) dengan latihan resistensi (beban, mesin resistensi, band, latihan berat badan)." โ Dr. David Cutler
Studi ini juga menyoroti manfaat MVPA bagi individu dengan prediabetes. Baker menegaskan bahwa olahraga pada kondisi prediabetes harus dipandang sebagai manajemen, bukan sekadar pencegahan. "Olahraga memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga tubuh lebih baik menggunakan glukosa. Bagi seseorang dengan prediabetes, peningkatan aktivitas dapat membantu mengembalikan glukosa darah ke kisaran normal dan mengurangi progresi ke diabetes tipe 2," paparnya. Ia menyarankan agar memulai dengan target yang realistis dan berkelanjutan, lalu meningkatkannya secara bertahap sesuai kebugaran dan tujuan.
Meskipun demikian, Baker mengingatkan agar angka 409 menit per pekan tidak dijadikan patokan wajib. "Saya tidak ingin orang melihat angka 409 menit dan merasa gagal jika tidak berolahraga hampir tujuh jam sepekan. Itu adalah median aktivitas kelompok MVPA tinggi dalam studi ini, bukan target rekomendasi," tegasnya. "Bagi orang dewasa rata-rata, 150 menit aktivitas sedang per pekan tetap menjadi target yang masuk akal dan dapat dicapai, disertai latihan penguatan otot setidaknya dua hari," imbuhnya.
Konteks Indonesia
Temuan ini relevan dengan situasi Indonesia yang tengah menghadapi beban diabetes tipe 2 yang meningkat pesat. Data International Diabetes Federation (IDF) menunjukkan bahwa pada 2021, sekitar 19,5 juta orang dewasa Indonesia hidup dengan diabetes, dan angka ini diproyeksikan terus naik. Gaya hidup sedentari, konsumsi makanan olahan tinggi gula, dan kurangnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama. Studi ini menegaskan bahwa intervensi sederhana seperti meningkatkan intensitas dan durasi olahraga dapat menjadi strategi pencegahan yang cost-effective, terutama di negara dengan cakupan layanan kesehatan terbatas.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah memiliki program seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang mendorong aktivitas fisik. Namun, implementasinya masih terkendala rendahnya kesadaran dan akses ruang publik yang aman untuk berolahraga. Temuan studi ini bisa menjadi amunisi bagi pembuat kebijakan untuk memperkuat kampanye preventif, misalnya melalui penyediaan fasilitas olahraga gratis di permukiman padat dan insentif bagi perusahaan yang mendorong karyawannya aktif bergerak.
Ke depan, pertanyaan pentingnya adalah bagaimana menerjemahkan bukti ilmiah ini menjadi aksi nyata di tingkat populasi. Apakah Indonesia siap menggeser paradigma dari pengobatan ke pencegahan, ataukah kita akan terus menunggu hingga lonjakan kasus diabetes membebani sistem kesehatan nasional? Waktu untuk bertindak adalah sekarang, sebelum biaya sosial-ekonomi penyakit tidak menular ini semakin tak terkendali.



