Suku Bunga KPR AS Melonjak ke Level Tertinggi 3 Tahun, Permintaan Anjlok
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata bunga KPR fixed 30 tahun di AS naik menjadi 7,30%, tertinggi sejak November 2023, menurut data MBA.
- Permintaan refinancing turun 9% dalam sepekan dan 56% lebih rendah dari tahun lalu, sementara pembelian rumah turun 4%.
- Tingginya bunga KPR dan harga properti yang terus naik memukul daya beli, mendorong pelamar beralih ke KPR adjustable-rate.

Bunga kredit pemilikan rumah (KPR) di Amerika Serikat kembali menanjak untuk pekan keenam berturut-turut, menyentuh level tertinggi sejak November 2023. Data Mortgage Bankers Association (MBA) menunjukkan rata-rata bunga kontrak KPR fixed 30 tahun dengan saldo pinjaman konformis (di bawah US$832.750) naik menjadi 7,30% dari sebelumnya 7,12%. Kenaikan ini memukul permintaan, baik untuk pembelian maupun refinancing, yang turun 6% secara mingguan.
Permintaan refinancing menjadi yang paling terpukul. Pengajuan refinancing anjlok 9% dalam sepekan dan 56% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Porsi refinancing dalam total aplikasi KPR menyusut menjadi 38,3% dari 39,3% pekan sebelumnya. Ekonom MBA, Joel Kan, mengungkapkan bahwa refinancing pemerintah turun 13%, dengan aplikasi FHA dan VA masing-masing mencatat penurunan dua digit.
Sementara itu, pengajuan KPR untuk pembelian rumah turun 4% secara mingguan dan 14% lebih rendah dari tahun lalu. Calon pembeli tidak hanya menghadapi bunga tinggi, tetapi juga harga rumah yang masih naik. Indeks S&P Cotality Case-Shiller mencatat harga rumah nasional naik 1,9% pada Juli dibanding tahun sebelumnya, mempercepat laju dari kenaikan 1,6% pada Juni. Kondisi ini memaksa pembeli mencari celah penghematan, termasuk beralih ke KPR adjustable-rate (ARM) yang bunganya sekitar 80 basis poin lebih rendah dari KPR fixed. Porsi ARM mencapai 10,3% dari total aplikasi, tertinggi sejak Oktober 2025.
Tekanan bunga terus berlanjut. Survei terpisah dari Mortgage News Daily mencatat rata-rata bunga KPR 30 tahun mencapai 7,58% pada Selasa (30/9), level tertinggi sejak November 2023. Matthew Graham, Chief Operating Officer Mortgage News Daily, menulis bahwa pasar obligasi masih menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi. "Pelemahan ini sangat menjengkelkan mengingat harga minyak turun cukup besar hari ini, tetapi pasar obligasi memiliki pertimbangan yang lebih besar daripada minyak," ujarnya.
Bagi Indonesia, lonjakan bunga KPR AS ini menjadi sinyal penting. The Fed yang masih belum melonggarkan kebijakan moneter dapat menahan arus modal asing masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi membuat Bank Indonesia enggan menurunkan suku bunga acuan, yang pada akhirnya berdampak pada bunga KPR domestik. Meski pasar properti Indonesia tidak terintegrasi langsung dengan AS, sentimen global dapat mempengaruhi ekspektasi investor dan konsumen. Perlambatan permintaan properti di AS juga bisa menjadi peringatan bagi pengembang di dalam negeri untuk lebih berhati-hati dalam meluncurkan proyek baru.
Ke depan, arah bunga KPR AS akan sangat bergantung pada data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang. Jika inflasi tetap tinggi, The Fed mungkin menunda penurunan suku bunga, yang berarti bunga KPR tetap mahal lebih lama. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda perlambatan, pasar obligasi bisa merespons positif dan bunga KPR berangsur turun. Pertanyaannya, seberapa lama calon pembeli rumah di AS mampu menahan diri sebelum permintaan kembali terkoreksi lebih dalam?



