Billy Corgan Tunda Cerita Dolly Parton, Billy Ray Cyrus Pamer Surat Terakhir
Baca dalam 60 detik
- Billy Corgan memilih menahan kisah pertemuannya dengan Dolly Parton hingga suasana duka mereda, bukan ikut arus unggahan media sosial.
- Billy Ray Cyrus merilis surat tulisan tangan Parton dari 1992 yang ia simpan sebagai kenang-kenangan berharga.
- Kedua musisi menyoroti warisan Parton di dunia literasi dan kemanusiaan, bukan sekadar gemerlap panggung musik.

Billy Corgan, vokalis The Smashing Pumpkins, mengungkapkan alasan dirinya belum bersedia membagikan cerita pertemuannya dengan mendiang Dolly Parton. Meski hanya bertemu satu kali, ia menilai kisah itu terlalu berharga untuk dibagikan di tengah riuhnya gelombang penghormatan di media sosial.
Parton, ikon country yang meninggal bulan lalu di usia 80 tahun, meninggalkan jejak mendalam di industri musik. Corgan mengaku terkesan dengan banjir penghormatan dari berbagai genre—dari metal hingga pop—setelah kepergiannya. Namun, ia enggan menjadi bagian dari fenomena yang ia sebut sebagai "social pile", di mana banyak orang berebut menceritakan kedekatan mereka dengan Parton.
"Saya tidak ingin menjadi orang lain yang ikut menumpuk cerita di media sosial dan berkata, 'Sekarang giliran saya,'" ujar Corgan kepada PEOPLE. "Saya merasa ketika semuanya sudah tenang dengan cara yang manis, saya akan menceritakannya."
Penyanyi berusia 59 tahun itu menyebut kisahnya sebagai sesuatu yang "singkat dan indah". Ia menahan diri karena menyadari bahwa cerita-cerita lain yang muncul mungkin lebih besar dan mengesankan. "Saya tidak ingin seperti, 'Oh ya, saya juga,'" tambahnya.
Sementara itu, Billy Ray Cyrus memilih berbagi kenangan melalui unggahan di Instagram. Ia memperlihatkan surat tulisan tangan Parton yang ia terima tak lama setelah pertemuan pertama mereka di Chicago pada musim semi 1992. Surat itu, menurut Cyrus, adalah salah satu barang paling berharga yang ia miliki, bersanding dengan surat dari Johnny Cash.
"Saya belum pernah membagikan ini... sampai sekarang. Ini adalah surat dari Dolly Parton, yang saya terima beberapa minggu setelah kami pertama bertemu. Saat itu 'Achy Breaky Heart' baru mulai naik daun," tulis Cyrus dalam keterangan unggahannya.
Dalam surat tersebut, Parton mengaku senang bisa bekerja sama dengan Cyrus dan memuji bakatnya. Ia bahkan menyebut dirinya gugup saat pertama bertemu. "Saya minta maaf jika saya terbata-bata saat bertemu Anda, tapi saya sama seperti gadis-gadis lain (hanya sedikit lebih tua! Ha!). Terima kasih atas tawaran menandatangani foto untuk penggemar saya. Sama-sama, jika Anda butuh sesuatu," bunyi surat itu.
Parton, yang merupakan ibu baptis putri Cyrus, Miley, meninggalkan warisan besar tidak hanya di musik tetapi juga di bidang literasi. Ia dikenal sebagai filantropis yang mendistribusikan ratusan juta buku melalui program Imajinasi Library. Corgan menyoroti hal ini sebagai alasan mengapa ia merasa ceritanya terlalu kecil dibandingkan kontribusi Parton.
Bagi publik Indonesia, kisah ini mencerminkan bagaimana budaya digital mengubah cara publik figur merespons kehilangan. Di tengah banjir konten di media sosial, menahan diri untuk tidak ikut arus menjadi bentuk penghormatan yang jarang. Fenomena ini juga relevan dengan industri musik Tanah Air, di mana penghormatan kepada legenda sering kali terjebak pada formalitas atau bahkan komersialisasi.
Kedua musisi ini menunjukkan bahwa mengenang seseorang tidak selalu harus dilakukan dengan segera. Corgan dan Cyrus memberikan contoh bahwa penghormatan bisa diwujudkan melalui tindakan personal, entah dengan menunggu waktu yang tepat atau membagikan artefak bersejarah. Warisan Parton, terutama dalam literasi, mungkin akan terus menginspirasi generasi mendatang, termasuk di Indonesia yang masih bergulat dengan tantangan literasi.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Corgan benar-benar membagikan kisahnya suatu hari nanti. Sementara itu, surat Parton kepada Cyrus menjadi pengingat akan kebaikan dan kerendahan hati seorang ikon. Bagaimana kita memilih mengenang mereka yang telah pergi?



