KM Virgo Transport 8: 67 Tewas, 68 Masih Hilang di Laut Jawa
Baca dalam 60 detik
- Basarnas mencatat 175 korban KM Virgo Transport 8 telah ditemukan, dengan 108 selamat dan 67 meninggal.
- Pencarian terhadap 68 orang yang belum ditemukan terus dilakukan dengan melibatkan penyelam dan helikopter.
- Tragedi kapal tenggelam di perairan Masalembo ini menyoroti pentingnya keselamatan pelayaran di jalur padat Laut Jawa.

Operasi pencarian korban kapal KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di perairan Laut Jawa masih berlanjut. Hingga Senin (28/9), tim SAR gabungan telah menemukan 175 orang, terdiri dari 108 korban selamat dan 67 orang meninggal dunia. Sementara itu, 68 penumpang lainnya masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus utama pencarian.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa seluruh elemen SAR dikerahkan secara maksimal, termasuk penyelam dari Basarnas Special Group (BSG) dan TNI AL. "Kami terus mengerahkan seluruh sumber daya dan berkoordinasi dengan seluruh unsur SAR untuk mencari korban yang masih dinyatakan hilang. Setiap temuan akan segera dievakuasi dan ditindaklanjuti sesuai prosedur," ujar Syafii dalam keterangan resminya.
Pada operasi hari ini, satu korban berhasil ditemukan oleh tim penyelam gabungan sekitar pukul 09.40 Wita dan langsung dievakuasi ke KRI Gusti Ngurah Rai. Selain itu, Basarnas mengerahkan helikopter HR-3604 untuk memindahkan dua korban yang sebelumnya ditemukan di Kabupaten Sukamara menuju Palangkaraya. Upaya ini menunjukkan koordinasi lintas instansi yang melibatkan unsur laut, udara, dan darat.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). Kapal mengalami cuaca buruk dan hilang kontak pada Minggu (13/9) dini hari. Tak lama setelah itu, kapal ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo. Insiden ini menjadi salah satu kecelakaan pelayaran terbesar di jalur Laut Jawa dalam beberapa tahun terakhir.
Kecelakaan ini kembali menyoroti risiko pelayaran di perairan Indonesia, terutama pada musim cuaca ekstrem. Laut Jawa merupakan jalur pelayaran padat yang menghubungkan pulau-pulau utama, namun seringkali dihadapkan pada gelombang tinggi dan angin kencang. Para ahli menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan kapal penumpang, termasuk kelaikan armada dan prosedur peringatan dini cuaca.
"Setiap temuan akan segera dievakuasi dan ditindaklanjuti sesuai prosedur," tegas Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.
Bagi Indonesia, tragedi ini bukan hanya duka nasional, tetapi juga panggilan untuk memperkuat regulasi transportasi laut. Kementerian Perhubungan diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap operator kapal, memastikan ketersediaan alat keselamatan yang memadai, dan memperketat izin layar saat cuaca buruk. Di sisi lain, masyarakat pengguna jasa angkutan laut perlu lebih waspada dan proaktif mengecek kondisi kapal sebelum berlayar.
Hingga berita ini diturunkan, tim SAR masih berpacu dengan waktu untuk menemukan 68 korban yang belum ditemukan. Harapan keluarga korban tetap menyala, meski peluang bertahan hidup semakin kecil setelah lebih dari dua pekan berlalu. Apakah insiden ini akan mendorong perbaikan signifikan dalam sistem keselamatan pelayaran nasional, ataukah kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi?



