Buku Baru Bongkar Mitos Kebangkitan Nazi: Hitler Bukan Jenius Politik, Hanya Penjahat Malas
Baca dalam 60 detik
- Philipp Ruch dalam buku 'Der Rückfall' mengungkap bahwa lonjakan suara NSDAP pada 1930 tidak disebabkan oleh karisma Hitler, propaganda Goebbels, atau krisis ekonomi semata.
- Data historis menunjukkan Hitler justru jarang berpidato dan lebih sering menghabiskan waktu di kafe, sementara propaganda Nazi saat itu dinilai amatir dan tidak efektif.
- Ruch memperingatkan bahwa pola serupa terlihat pada partai kanan ekstrem modern seperti AfD, di mana kekerasan dan retorika ekstrem justru menjadi daya tarik elektoral.

Sejarah kebangkitan Partai Nazi (NSDAP) selama ini dipahami sebagai hasil dari karisma gelap Adolf Hitler, mesin propaganda Joseph Goebbels, dan krisis ekonomi global. Namun, sebuah buku terbaru dari seniman dan penulis Jerman, Philipp Ruch, membantah narasi tersebut. Dalam Der Rückfall (Kemunduran), Ruch berargumen bahwa fokus berlebihan pada Reich Ketiga telah mendistorsi pemahaman kita tentang bagaimana fasisme meraih terobosan elektoral pertamanya.
Ruch meneliti pemilu Reichstag 14 September 1930, yang menurutnya jauh lebih penting daripada peristiwa 1932 dan 1933. Saat itu, Jerman masih sebuah demokrasi. NSDAP yang sebelumnya hanya memperoleh 800.000 suara dan 12 kursi pada 1928, tiba-tiba melonjak menjadi 6,4 juta suara dan 107 kursi. Kenaikan sembilan kali lipat dalam dua tahun ini mengejutkan banyak pihak, termasuk Goebbels yang sebelumnya hanya memperkirakan 50-60 kursi. Partai kecil dari pinggiran politik itu langsung menyalip tiga partai kanan mapan dan menempati posisi kedua setelah Sosial Demokrat.
Menurut Ruch, teori populer tentang karisma Hitler tidak didukung bukti sebelum pemilu 1930. Setiap partai saat itu memiliki kultus terhadap pemimpinnya masing-masing, termasuk Sosial Demokrat. Hitler bahkan tidak berada di surat suara karena bukan warga negara Jerman dan memiliki catatan kriminal akibat upaya kudeta. Ia juga sedang dalam masa surut: hanya berpidato 29 kali sepanjang 1929, separuh dari biasanya, dan sebagian besar di Bavaria. Goebbels bahkan menyindir bahwa kepemimpinan Reich hanya bisa ditemukan di kafe favorit Hitler atau bioskop. Ruch menyimpulkan, pada 1930 Hitler bukanlah seorang jenius politik, melainkan 'penjahat malas yang tidur sampai tengah hari'.
Ruch juga meruntuhkan mitos kehebatan mesin propaganda Nazi. Ia menelusuri setiap edisi surat kabar Illustrierter Beobachter dan menemukan gambar-gambar yang menurutnya memalukan, seperti anggota SA yang berpakaian seperti pilar iklan. Angka penjualan surat kabar Nazi sangat rendah. Sementara partai lain mampu memasang neon di sudut jalan dan menyewa pesawat untuk iklan udara, Nazi justru tertinggal dalam hal profesionalisme. 'Propaganda tidak menjelaskan kesuksesan NSDAP,' tegasnya.
Faktor ekonomi juga tidak sepenuhnya menjelaskan. Meskipun krisis Wall Street terjadi setahun sebelumnya, dampaknya baru terasa di Jerman pada Juli 1931. Hingga akhir 1930, PDB Weimar hanya menyusut 7,1%. Ruch mencatat bahwa di daerah dengan pengangguran tinggi, NSDAP justru tampil buruk. Hal serupa terjadi di wilayah dengan banyak pemilih pemula. 'Ada risiko mencampuradukkan sebab dan akibat,' ujarnya.
Yang lebih mengejutkan, Ruch menemukan bahwa partai-partai kanan mapan justru mencalonkan tokoh garis keras antara 1928-1929. Jika pemilih menginginkan kebijakan kanan yang tegas, mereka bisa memilih Partai Centre, DVP, atau DNVP. Namun, partai-partai itu kalah. Ruch menilai kredibilitas menjadi kunci. DNVP yang berkampanye lebih antisemit daripada Hitler justru kehilangan 7,3% suara. Ia membandingkan dengan CDU Jerman saat ini yang di bawah Merkel bersikap sentris, lalu memilih Friedrich Merz dari sayap kanan, dan kini ditinggalkan pemilih yang beralih ke AfD. 'Pelajaran utamanya, partai konservatif hanya bisa menang dari tengah,' kata Ruch.
"Fasisme historis tidak membuatnya menjijikkan, melainkan sangat menarik bagi banyak pemilih Jerman. Kita melihat hal serupa dengan AfD hari ini, di mana fantasi balas dendam kekerasan tampak menjadi bagian integral dari kampanye." — Philipp Ruch
Ruch menyoroti bahwa skandal korupsi tidak serta-merta menghancurkan partai kanan ekstrem. NSDAP pada 1930 penuh skandal, tetapi tetap kuat. Kini, investigasi jurnalistik mengungkap rencana remigrasi AfD dan memicu protes besar, namun partai itu tetap kebal. 'Mereka seperti penangkal petir: skandal adalah kilatan energi yang lewat begitu saja,' ujarnya. Ia mencontohkan skandal Ibiza yang sempat melumpuhkan Partai Kebebasan Austria, tetapi lima tahun kemudian mereka kembali dua kali lebih kuat.
Lalu, mengapa Nazi begitu kuat pada 1930? Ruch berargumen bahwa justru karena kecenderungan kekerasan mereka. Sejak awal Hitler selalu berbicara tentang mengeksekusi lawan politiknya. Menjelang pemilu 1930, NSDAP tidak menawarkan kebijakan sosial atau pembangunan autobahn, melainkan rencana pembunuhan. 'Dari perspektif modern sulit mengakuinya, tetapi hasrat kekerasan itulah yang membuat mereka menarik,' jelasnya. Ia melihat pola serupa pada AfD saat ini, di mana retorika kekerasan menjadi bagian dari kampanye. Ruch mempertanyakan apakah hukum pidana seharusnya berlaku ketika partai politik menyebarkan komunikasi semacam itu. 'NSDAP memiliki komunikasi dan rencana politik. AfD tampaknya ingin membersihkan Jerman secara etnis. Jika AfD berkuasa, ekonomi paling maju di dunia bisa mengalami hal serupa dengan Bosnia dan Herzegovina,' pungkasnya.
Buku Der Rückfall terbitan Penguin ini menjadi pengingat bahwa demokrasi bisa runtuh bukan karena satu faktor tunggal, melainkan kombinasi kompleks antara kekecewaan, kredibilitas partai mapan, dan normalisasi kekerasan. Pertanyaannya kini: apakah partai-partai demokratis saat ini belajar dari sejarah, atau justru mengulanginya?



