Psithurism: Mengapa Poplar Jadi Pohon Paling 'Bicara' Saat Angin Bertiup
Baca dalam 60 detik
- Fenomena psithurism—bunyi angin yang berdesir di dedaunan—kini memasuki musim terbaiknya seiring angin segar bertiup di belahan utara.
- Poplar unggul karena anatomi daunnya yang lebar dan bertangkai panjang, membuat setiap helai berputar bebas dan menghasilkan gemerisik khas.
- Perubahan musim akan mengubah bunyi itu menjadi perkusi ranting kering, penanda transisi menuju musim dingin.

Memasuki Oktober, kawasan lembah di Frome, Somerset, Inggris, menghadirkan pertunjukan akustik yang jarang disadari orang: desir angin yang mengalir melalui dedaunan pohon poplar. Fenomena ini dikenal sebagai psithurism—istilah yang merujuk pada kualitas bunyi yang ditimbulkan angin saat melewati pepohonan. Bagi mereka yang jeli mendengarkan, momen ini menandai puncak musim terbaik untuk menikmati 'musik' alam yang gratis.
Dari sekian banyak spesies, poplar disebut sebagai contoh paling sempurna. Sepanjang musim tanam, pohon ek, alder, dan willow memang sempat menyita perhatian, tetapi tak satu pun mampu menandingi keriuhan poplar. Jika diibaratkan suasana di pub, poplar adalah sosok yang paling ingin diajak mengobrol—selalu bersuara, selalu bergerak.
Secara fisiologis, keunggulan poplar bukan kebetulan. Daunnya yang lebar menyerupai sekop kartu remi, tersusun terpisah di tangkai panjang. Konfigurasi ini membuat setiap helai daun seperti kain yang dijemur di tali—bebas berputar, berputar, dan berdesir begitu angin menyentuhnya. Semakin kencang angin, semakin ramai orkestranya.
Penjelajah sekaligus konservasionis John Muir pernah mencatat bahwa "angin adalah iklan dari apa yang disentuhnya". Pengamatan itu relevan untuk memahami mengapa poplar—termasuk kerabatnya, aspen—begitu ekspresif. Mereka bukan sekadar pohon; mereka adalah alat musik hidup yang peka terhadap perubahan cuaca.
Saat ini, kondisi angin di kawasan tersebut tergolong fresh breeze menurut klasifikasi meteorologi. Cukup untuk memunculkan goyangan dan desiran, mirip bunyi ombak kecil di atas kerikil halus. Batang atas pohon terlihat miring ke depan dan ke belakang mengikuti irama, sementara ratusan daun berputar serentak. Dari kejauhan, efeknya menyerupai bola disko hijau yang berkilau.
Jika diamati dari dekat, setiap daun tampak berputar antara siksa dan ekstasi—seolah berjuang melepaskan diri atau bertahan di tangkainya. Proses fotosintesis pun jadi terasa seperti keajaiban yang memusingkan: bagaimana mungkin sel-sel yang berputar tetap bisa menangkap cahaya matahari?
Namun, pertunjukan ini tidak akan berlangsung lama. Dalam beberapa pekan ke depan, 'lonceng angin' alami itu akan patah, dan daun-daun berguguran. Di puncak pohon yang tinggi, bunyi akan berganti menjadi perkusi baru: derit ranting yang saling bergesekan, genderang pembuka menuju musim dingin.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena psithurism mungkin terdengar asing, tetapi sebenarnya akrab. Di kawasan pegunungan seperti Puncak, Batu, atau Bedugul, angin yang bertiup melalui hutan pinus atau bambu juga menciptakan bunyi khas. Bedanya, poplar memiliki mekanisme daun yang lebih 'liar' sehingga menghasilkan variasi suara lebih kaya. Ini menjadi pengingat bahwa lanskap hijau bukan hanya soal visual, tetapi juga pengalaman auditif yang layak dilestarikan.
Ke depan, perubahan iklim diprediksi mengubah pola angin dan musim di banyak wilayah. Jika angin menjadi lebih kencang atau musim bergeser, 'musik' poplar pun bisa berubah nada. Pertanyaannya, apakah kita masih sempat mendengarkan psithurism sebelum kebisingan kota menenggelamkannya?



