Pelindo Nyalakan Listrik Darat 500 kVA di Priok, Pangkas Emisi Kapal hingga 75%
Baca dalam 60 detik
- Pelindo resmi mengoperasikan fasilitas Onshore Power Supply berkapasitas 500 kVA di Dermaga 004 Tanjung Priok, memungkinkan kapal sandar mematikan mesin bantu dan beralih ke listrik darat.
- Uji coba menunjukkan potensi penurunan emisi gas buang sampai 75% dan penghematan biaya energi 40–64% dibanding genset, dengan target 24 unit di Priok pada 2027 dan 123 unit nasional pada 2050.
- Langkah ini memperkuat posisi Tanjung Priok sebagai pelabuhan hijau dan membuka peluang bisnis layanan energi bagi investor serta operator logistik di Indonesia.

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo resmi mengoperasikan layanan Onshore Power Supply (OPS) berkapasitas 500 kVA di Dermaga Serbaguna Nusantara, Terminal PNP Dermaga 004, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (16/9/2026). Fasilitas listrik darat ini memungkinkan kapal yang bersandar mematikan mesin bantu (auxiliary engine) dan menyedot pasokan listrik langsung dari jaringan darat.
Langkah tersebut bukan sekadar penambahan infrastruktur. OPS menjadi penanda awal transformasi Tanjung Priok menuju green port, sejalan dengan standar maritim global yang semakin ketat terhadap emisi di kawasan pelabuhan. Peluncuran ini dihadiri perwakilan Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, KSOP Utama Tanjung Priok, Polres Pelabuhan, Asosiasi Pemilik Kapal (INSA), PT PLN (Persero), dan jajaran Pelindo Group.
Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, menilai implementasi OPS di Priok dapat menjadi praktik terbaik yang direplikasi ke pelabuhan lain. "Kami yakin implementasi OPS di Pelabuhan Tanjung Priok dapat menjadi best practice dan menjadi bagian dari transformasi pelabuhan-pelabuhan di Indonesia menuju pelabuhan yang lebih hijau, efisien, berdaya saing dan berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menegaskan OPS merupakan langkah konkret menghadirkan energi yang lebih efisien, bersih, dan andal. "OPS bukan sekadar menggantikan sumber listrik kapal dari genset menjadi listrik darat. Ini merupakan langkah konkret dalam transformasi Pelabuhan Tanjung Priok menuju green port," kata Achmad. Ia menambahkan, ekosistem pelabuhan ke depan harus semakin produktif sekaligus berkelanjutan.
Dukungan PT PLN (Persero) menjadi krusial karena OPS bergantung pada keandalan pasokan listrik darat. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan kolaborasi ini mendorong produktivitas pelaku usaha maritim melalui penghematan energi sekaligus menekan emisi. Skema shore-to-ship power memungkinkan kebutuhan listrik kapal seperti hotel load, reefer, dan pompa dipasok dari darat, sehingga auxiliary engine dapat dimatikan selama bersandar.
"Sebagai operator, PT EPI memastikan keandalan pasokan listrik dan kesiapan teknis layanan di dermaga. OPS juga membuka pengembangan layanan energi yang lebih terukur bagi pengguna jasa berdasarkan konsumsi listrik dan tingkat layanan yang dibutuhkan," ujar Direktur Utama PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI), Andriyuda Siahaan.
PT EPI, bagian dari Pelindo Group, ditugaskan mengelola layanan OPS, termasuk distribusi listrik internal kawasan pelabuhan. Fasilitas di Dermaga 004 telah melalui Site Acceptance Test dan diuji coba pada kapal niaga pada Juli 2026. Pengukuran terhadap dua kapal uji menunjukkan potensi penghematan biaya energi sekitar 40% hingga 64% dibandingkan penggunaan genset, bergantung pada jenis mesin dan bahan bakar. Berkurangnya running hours mesin bantu juga menekan kebutuhan pemeliharaan dan memperpanjang interval overhaul.
Dari sisi lingkungan, pengujian memperkirakan OPS dapat memangkas emisi gas buang kapal hingga 75%. Emisi lokal seperti nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), dan partikulat dapat dihilangkan selama kapal sepenuhnya menggunakan listrik darat. Kebisingan dan getaran di area dermaga pun berkurang, menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik bagi pekerja pelabuhan dan masyarakat sekitar.
Bagi pembaca Indonesia, khususnya investor dan pelaku logistik, OPS membuka dua hal sekaligus: efisiensi biaya operasional kapal dan peluang bisnis layanan energi di kawasan pelabuhan. Dengan target 24 unit di Tanjung Priok pada 2027 dan roadmap nasional 123 unit pada 2050, kebutuhan investasi infrastruktur kelistrikan, teknologi shore-to-ship, serta sumber daya manusia teknis akan meningkat. Pelindo juga berpeluang menjadikan OPS sebagai model pendapatan baru berbasis konsumsi listrik dan tingkat layanan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah pelabuhan Indonesia akan beralih ke listrik darat, melainkan seberapa cepat regulasi tarif, insentif, dan kesiapan jaringan PLN di pelabuhan daerah dapat mengejar target tersebut. Jika Tanjung Priok berhasil, replikasi ke terminal multipurpose dan dermaga umum akan menjadi ujian berikutnya bagi ekosistem maritim nasional.



