Prabowo Klaim Stok Beras Aman 10 Bulan, Antisipasi El Nino Diperkuat
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyatakan cadangan beras nasional cukup untuk sepuluh bulan ke depan meski ancaman El Nino membayangi.
- Pemerintah mempercepat pembangunan embung, waduk, dan bendungan serta pompanisasi di sentra pertanian guna menjaga pasokan air.
- Langkah ini krusial menahan lonjakan harga pangan dan menjaga inflasi, namun efektivitasnya bergantung pada eksekusi daerah dan realisasi anggaran.

Presiden Prabowo Subianto memastikan ketersediaan beras nasional aman hingga sepuluh bulan ke depan, seraya mengungkapkan sejumlah langkah antisipatif menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino. Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran global atas gangguan rantai pasok pangan dan fluktuasi harga komoditas.
Menurut Prabowo, pemerintah telah menyiapkan infrastruktur air seperti embung, waduk, dan bendungan di berbagai wilayah untuk mengairi lahan pertanian. Tak hanya itu, program pompanisasi juga digulirkan di sentra-sentra produksi guna memastikan pasokan air tetap tersedia saat musim kemarau panjang. Langkah ini dinilai sebagai respons cepat atas peringatan badan meteorologi internasional yang memproyeksikan El Nino tahun ini berpotensi mengganggu panen di Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, pernyataan ini bukan sekadar jaminan pasokan, melainkan juga sinyal politik bahwa pemerintah menaruh perhatian serius pada ketahanan pangan. Sektor pertanian menyerap sekitar 28% tenaga kerja nasional, dan beras merupakan komoditas strategis yang harganya sangat memengaruhi inflasi. Jika El Nino benar-benar menghantam, dampaknya bisa terasa pada kenaikan harga di pasar tradisional dan beban rumah tangga berpenghasilan rendah.
Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa klaim stok aman perlu diuji dengan data riil di lapangan. "Pemerintah harus transparan soal posisi cadangan beras di Bulog dan memastikan distribusi lancar ke daerah terpencil," ujar seorang analis pangan dari lembaga riset independen, seperti dikutip dari diskusi publik pekan ini. Ia menambahkan, pompanisasi memang solusi jangka pendek, tetapi tanpa perbaikan irigasi berkelanjutan, ketergantungan pada hujan tetap tinggi.
"Kita sudah siapkan embung, waduk, dan bendungan. Pompanisasi juga sudah jalan di sentra-sentra pertanian," ujar Presiden Prabowo Subianto dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Rabu (16/9/2026).
Di sisi lain, Kementerian Pertanian mencatat produksi gabah kering giling pada semester I 2026 mengalami kenaikan tipis dibanding periode sama tahun lalu. Namun, luas panen berpotensi menyusut jika curah hujan di bawah normal. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) juga telah memperingatkan bahwa El Nino dapat menekan produksi padi di kawasan Asia, yang memasok hampir 90% beras dunia.
Pasar beras domestik sendiri menunjukkan gejala kenaikan harga pada beberapa pekan terakhir. Berdasarkan panel harga Badan Pangan Nasional, harga beras medium di sejumlah provinsi naik 2-3% dari bulan sebelumnya. Meski belum mengkhawatirkan, tren ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan, terutama menjelang akhir tahun yang biasanya diwarnai permintaan meningkat.
Dari sisi fiskal, anggaran ketahanan pangan tahun ini dialokasikan cukup besar, termasuk untuk pembangunan infrastruktur air dan subsidi pupuk. Namun, realisasi di lapangan kerap terkendala birokrasi dan koordinasi antarlembaga. Pengamat menilai keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada kecepatan pemerintah daerah mengeksekusi program dan memastikan tidak ada kebocoran anggaran.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah stok beras cukup sepuluh bulan, melainkan bagaimana Indonesia membangun ketahanan pangan jangka panjang yang tangguh terhadap perubahan iklim. Jika El Nino datang lebih kuat dari perkiraan, apakah cadangan devisa dan jaringan distribusi mampu menahan gejolak harga? Publik menanti bukti nyata di lapangan, bukan sekadar klaim di atas panggung.



