Houthi Klaim Jatuhkan F-15 Saudi di Marib, Bantah Serang Makkah: Ancaman Baru bagi Energi RI?
Baca dalam 60 detik
- Houthi mengklaim menembak jatuh jet tempur F-15 Arab Saudi di Provinsi Marib dengan rudal buatan lokal, sementara Riyadh belum mengonfirmasi.
- Kelompok itu juga membantah menargetkan Makkah dan menegaskan serangan hanya di fasilitas minyak serta pangkalan militer.
- Eskalasi di Laut Merah dan Bab al-Mandab berpotensi mengganggu ekspor minyak Saudi, dengan implikasi pada harga energi dan inflasi Indonesia.

Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Arab Saudi di wilayah udara Provinsi Marib pada Rabu (16/9/2026). Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan pesawat itu dijatuhkan menggunakan rudal udara-ke-udara produksi lokal. Hingga berita ini diturunkan, otoritas Saudi belum memberikan konfirmasi resmi atas klaim tersebut.
Dalam pernyataan yang disebar melalui media sosial, Saree menyebut operasi penembakan terjadi saat jet tersebut menjalankan misi agresif untuk mendukung mobilisasi militer Saudi di Marib. Ia juga menuduh Riyadh telah melancarkan 450 serangan dalam periode yang sama. Klaim ini menandai eskalasi baru dalam konflik Yaman yang kembali memanas sejak Juli 2026.
Menanggapi tuduhan bahwa Houthi menargetkan Kota Suci Makkah, Saree membantah tegas. Ia menegaskan operasi mereka hanya menyasar fasilitas minyak dan pangkalan militer yang lokasinya jauh dari tempat-tempat suci. Bantahan ini muncul setelah Arab Saudi sebelumnya menuduh Houthi melancarkan serangan ke arah Makkah pada pekan ini.
Sejak perang saudara Yaman kembali berkobar pada Juli, Houthi terlibat pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Saudi. Kelompok yang didukung Iran itu juga mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan menargetkan kapal-kapal Saudi di Laut Merah. Pekan lalu, Houthi mengklaim telah menguasai seluruh pesisir Laut Merah Yaman serta Selat Bab al-Mandab.
Selat Bab al-Mandab merupakan jalur vital bagi ekspor minyak mentah Arab Saudi, terutama setelah perang yang lebih luas di Timur Tengah menghambat lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Penguasaan Houthi atas selat tersebut berpotensi mengganggu pengiriman energi dari Teluk ke pasar global, termasuk Asia.
"Operasi kami menargetkan fasilitas minyak dan pangkalan militernya, yang berada jauh dari tempat-tempat suci," ujar Yahya Saree.
Bagi Indonesia, eskalasi di Laut Merah dan Bab al-Mandab menjadi perhatian serius. Sebagai importir minyak mentah, gangguan pasokan dari Arab Saudi dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada gilirannya membebani anggaran subsidi energi dan memicu inflasi. Selain itu, jalur pelayaran alternatif melalui Selat Malaka dan Sunda bisa menjadi lebih padat, meningkatkan biaya logistik dan asuransi pengiriman.
Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dampak berantai ini, terutama dengan memperkuat diversifikasi sumber energi dan cadangan strategis. Investor di sektor energi dan komoditas juga patut mencermati perkembangan di Bab al-Mandab, karena ketegangan yang berlarut dapat mengubah peta perdagangan minyak global.
Ke depan, apakah Houthi akan memperluas blokade maritim ke kapal-kapal non-Saudi? Dan bagaimana respons koalisi pimpinan Saudi untuk merebut kembali kendali atas Bab al-Mandab? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan arah harga energi dan stabilitas kawasan.


