Transmart Pasang PLTS Atap di 13 Gerai, Efisiensi Listrik 8-10% per Tahun
Baca dalam 60 detik
- Trans Mall Group meresmikan instalasi panel surya atap di 13 gerai Transmart dengan total kapasitas 12,34 MWp.
- Langkah ini diklaim mampu memangkas biaya listrik tahunan hingga 8-10% sekaligus menekan emisi karbon 13 ribu ton CO2.
- Kemitraan dengan Xurya dan Mitsui menjadi penanda bahwa transisi energi di sektor ritel mulai bergeser dari wacana ke operasional.

Trans Mall Group resmi mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di 13 gerai Transmart, Selasa (15/9/2026), dengan kapasitas terpasang mencapai 12,34 MWp. Peresmian simbolik yang digelar di Trans Mall Cempaka Putih, Jakarta, itu menandai perluasan kerja sama perusahaan dengan PT Xurya Daya Indonesia (Xurya) dari sebelumnya hanya tiga lokasi di Trans Studio Mall.
Langkah ini bukan sekadar proyek hijau seremonial. Perusahaan memperkirakan instalasi panel surya seluas 90.600 meter persegi itu mampu memproduksi sekitar 16,8 GWh listrik bersih per tahun, setara dengan pengurangan lebih dari 13 ribu ton CO2. Bagi Trans Mall Group, dampak ekonominya juga konkret: efisiensi biaya listrik tahunan berkisar 8 hingga 10 persen.
Human Resources & Corporate Communications Director PT Trans Retail Indonesia, Satria Hamid Ahmadi, menegaskan bahwa implementasi di 16 lokasi—termasuk tiga proyek awal—merupakan pernyataan arah strategis. Menurut dia, komitmen ESG telah menjadi bagian dari DNA bisnis, bukan agenda pelengkap. "Kami ingin membuktikan bahwa ritel modern Indonesia mampu memimpin transisi energi," ujarnya dalam keterangan pers.
Dari sisi mitra penyedia solusi, VP Commercial Xurya Adhi Laksmanaputra menyebut kepercayaan Trans Mall Group sebagai indikasi bahwa pemanfaatan energi surya dapat diperluas mengikuti kebutuhan operasional. Xurya, yang merupakan afiliasi Mitsui & Co., Ltd., akan menangani pengoperasian dan pemeliharaan sistem agar nilai bisnis dan sosial PLTS tetap optimal. Model sewa tanpa investasi awal yang ditawarkan Xurya menjadi salah satu kunci adopsi di sektor ritel, di mana pemilik gedung biasanya enggan menanggung beban modal awal.
Bagi pembaca Indonesia, khususnya pelaku usaha dan investor, langkah Trans Mall Group memperlihatkan bahwa tekanan biaya energi dan target dekarbonisasi mulai bertemu di titik yang menguntungkan secara finansial. Sektor ritel dan properti adalah konsumen listrik besar dengan beban operasional yang terus naik. Jika efisiensi 8–10 persen bisa direplikasi di jaringan gerai lain, daya tarik model PLTS atap berbasis sewa akan meningkat, terutama di kawasan industri dan pusat perbelanjaan di Jawa.
Kendati demikian, skala adopsi masih menghadapi ganjalan klasik: kapasitas jaringan PLN untuk menyerap listrik surya, kejelasan regulasi net metering, serta durasi kontrak sewa yang harus sejalan dengan siklus investasi properti. Kemitraan lintas sektor antara CT Corp dan Mitsui menunjukkan bahwa pendanaan jangka panjang dari investor global diperlukan untuk mempercepat transisi energi di sektor padat modal seperti ritel.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah peritel mau beralih ke energi terbarukan, melainkan seberapa cepat mereka bisa meniru skala Trans Mall Group. Jika 13 gerai saja mampu menghemat biaya listrik dua digit, tekanan bagi kompetitor untuk mengikuti jejak serupa akan semakin besar—terutama ketika tarif listrik komersial terus menjadi sorotan.



