Jenazah Serda Ahmad Lebam-lebam Diduga Dianiaya, Ayah: Bukan Pembinaan, tapi Pembinasaan
Baca dalam 60 detik
- Serda Ahmad Muzammin Fariza (22) ditemukan tewas dengan luka lebam di sekujur tubuh, diduga akibat kekerasan senior di lingkungan TNI AU.
- Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, mendesak evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan dan pengawasan prajurit, terutama di mess.
- Kasus ini menyoroti urgensi reformasi budaya senioritas di institusi militer agar tidak memakan korban jiwa berikutnya.

Kematian Serda Ahmad Muzammin Fariza (22), prajurit TNI Angkatan Udara, kembali membuka luka lama soal praktik kekerasan di lingkungan militer. Jenazahnya ditemukan dengan lebam di sejumlah bagian tubuh, memicu dugaan penganiayaan oleh senior. Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, secara tegas menolak jika insiden itu disebut sebagai bagian dari pembinaan. "Ini bukan pembinaan, tapi pembinasaan," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Almarhum dikenal sebagai sosok gigih. Ia beberapa kali mengikuti seleksi sebelum akhirnya diterima sebagai anggota TNI AU, bahkan sempat gagal masuk IPDN. Namun, perjuangan panjang itu harus berakhir tragis di dalam mess. Toni berharap kematian putranya menjadi titik balik bagi TNI AU untuk membenahi sistem pembinaan dan pengawasan, khususnya di lingkungan asrama prajurit.
Kasus ini bukan yang pertama. Beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden serupa di institusi militer dan kepolisian mencuat ke publik, mencoreng citra lembaga yang seharusnya menjadi teladan disiplin. Pola kekerasan senior-junior sering kali luput dari pengawasan karena dianggap sebagai tradisi. Padahal, menurut pengamat militer, praktik semacam itu justru kontraproduktif terhadap pembinaan karakter prajurit.
"Dengan berulangnya kembali kasus-kasus seperti ini, kami merasa prihatin. Harapan kami untuk institusi TNI mungkin perlu melakukan evaluasi dan penataan kembali terkait dengan pembinaan terhadap prajurit," kata Toni Eko Prasetyo.
Bagi pembaca di Indonesia, terutama investor dan profesional, stabilitas institusi keamanan adalah fondasi penting bagi iklim usaha. Ketidakpastian hukum dan lemahnya penegakan disiplin internal dapat menurunkan kepercayaan terhadap supremasi hukum, yang pada akhirnya berdampak pada risiko investasi. Selain itu, kasus ini menjadi cermin bagi perusahaan dan organisasi lain untuk mengevaluasi budaya kerja yang toleran terhadap kekerasan.
Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Udara belum memberikan pernyataan resmi terkait sanksi bagi pelaku. Namun, desakan publik semakin kuat agar kasus ini diusut tuntas melalui pengadilan militer. Transparansi proses hukum akan menjadi ujian bagi komitmen reformasi institusi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya siapa pelaku dan apa hukumannya, tetapi sejauh mana TNI AU mampu merombak sistem pembinaan yang selama ini membiarkan kekerasan bersemayam. Jika tidak, kematian Serda Ahmad hanya akan menjadi statistik kelam berikutnya.



