Catherine Zeta-Jones: Rahasia Pernikahan Awet dengan Michael Douglas adalah 'Bekerja'
Baca dalam 60 detik
- Catherine Zeta-Jones mengungkap bahwa kesibukan syuting masing-masing menjadi perekat pernikahannya dengan Michael Douglas selama 25 tahun.
- Pasangan ini memilih pindah ke Bermuda untuk melindungi anak-anak dari sorotan media, sebuah keputusan yang mereka sebut sebagai langkah terbaik.
- Zeta-Jones juga menyoroti tekanan label 'nepo baby' yang dihadapi anak-anaknya, serta penolakannya tampil di acara Welcome to Wrexham karena kesetiaannya pada Swansea City.

Aktris senior Catherine Zeta-Jones menilai bahwa menjaga produktivitas di dunia akting justru menjadi fondasi utama keutuhan rumah tangganya dengan Michael Douglas. Pasangan yang menikah pada 2000 silam itu disebut tidak akan bertahan hingga seperempat abad jika keduanya terus-menerus bersama di rumah tanpa aktivitas profesional yang memisahkan mereka untuk sementara waktu.
Dalam wawancara dengan The Sunday Times Culture, perempuan berusia 56 tahun itu menjelaskan bahwa Douglas selalu mendorongnya untuk mengambil proyek akting. Pola hubungan semacam ini, menurutnya, menciptakan dinamika yang lebih sehat ketimbang rutinitas harian yang monoton. "Michael selalu berkata, 'Pergilah kerjakan proyek itu, itu luar biasa.' Lalu dia bisa terbang menemuiku untuk akhir pekan panjang. Jauh lebih baik daripada bangun tidur dan bertanya, 'Kamu mau sarapan apa, sayang?' Aku rasa pernikahan kami tidak akan bertahan lama jika seperti itu," ujarnya menirukan kebiasaan pasangan.
Keputusan untuk tidak selalu bersama itu bukan tanpa alasan. Ketika anak-anak mereka, Dylan (26) dan Carys (23), masih kecil, Zeta-Jones dan Douglas memilih meninggalkan New York dan menetap di Bermuda. Aktris kelahiran Wales ini mengaku tekanan hidup di bawah sorotan kamera di kota besar sangat berat, terutama saat harus mengantar anak ke sekolah. "Ada fotografer yang melompat ke kereta bawah tanah bersama kami. Itu mengerikan. Saat itulah kami memutuskan pindah ke Bermuda dan menyekolahkan anak-anak di sana. Itu keputusan terbaik yang pernah kami buat," kenangnya.
Meski telah lama berkecimpung di Hollywood, Zeta-Jones tidak menampik bahwa anak-anaknya kini menghadapi tantangan tersendiri saat merintis karier akting. Ia menyoroti label "nepo baby" yang kerap dialamatkan kepada anak-anak selebritas. Menurutnya, istilah itu tidak adil karena anak-anak tidak meminta dilahirkan dalam keluarga terkenal. "Frasa mengerikan 'nepo baby' itu buruk sekali. Anak-anak ini tidak minta dilahirkan di posisi seperti ini, mereka sedang mencari jalan hidupnya sendiri. Tapi mereka mencintai profesi ini dan mereka berbakat. Kalau tidak, Michael dan saya yang pertama akan berkata, 'Mungkin sekolah hukum terdengar bagus,'" tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Zeta-Jones juga menegaskan loyalitasnya terhadap klub sepak bola Swansea City. Meskipun tetangganya, Wrexham, tengah naik daun berkat serial dokumenter yang diproduseri Ryan Reynolds dan Rob McElhenney, ia menolak tawaran untuk tampil. "Mereka sudah tiga kali memintaku tampil di acara Wrexham itu. Aku ini dari Swansea. Bagaimana mungkin aku bisa berjalan di jalanan kalau aku muncul di Welcome to Wrexham?" ujarnya setengah bercanda.
Pernyataan Zeta-Jones ini menyoroti dinamika unik dalam industri hiburan global: bagaimana pasangan suami-istri sesama profesional seni mengelola waktu bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing. Di Indonesia, fenomena serupa juga mulai terlihat pada pasangan selebritas yang memilih tetap aktif berkarya di sela mengurus keluarga. Namun, tekanan publik dan ekspektasi terhadap anak-anak selebritas di Tanah Air seringkali lebih besar, terutama dengan maraknya istilah "anak sultan" atau "nepo baby" di media sosial.
Bagi pengamat industri hiburan, kisah Zeta-Jones dan Douglas bisa menjadi cermin bahwa jarak fisik tidak selalu merusak hubungan, asalkan ada komunikasi dan dukungan karier. Di sisi lain, pernyataan tentang "nepo baby" mengingatkan bahwa di balik gemerlap dunia selebritas, ada beban psikologis yang harus ditanggung generasi penerus. Ke depan, apakah publik akan semakin bijak dalam menyoroti karier anak-anak selebritas, atau justru sebaliknya?



