Linkin Park Buka Luka di Film Unshatter: Joe Hahn Ungkap Cara Band Bertahan Usai Kehilangan Chester
Baca dalam 60 detik
- Joe Hahn menyutradarai Unshatter, dokumenter yang merekam proses Linkin Park merangkai kembali diri setelah kematian Chester Bennington pada 2017.
- Kehadiran vokalis Emily Armstrong dan drummer Colin Brittain disebut memberi energi baru yang mirip namun tak sama dengan era sebelumnya.
- Film tayang global 30 September, disertai album live dari konser Sรฃo Paulo yang dirilis 25 September.

Joe Hahn, pentolan turntable Linkin Park sekaligus sutradara film dokumenter Unshatter, mengungkap bahwa bandnya memilih tidak menutupi luka setelah kepergian vokalis Chester Bennington pada 2017. Ia menyebut proses kreatif film itu sebagai upaya memperbaiki diri tanpa berpura-pura semuanya sudah beres.
Dalam wawancara dengan BBC News, Hahn menjelaskan bahwa pendekatan emosional itu menjadi fondasi proyek tersebut. "Bagian terpenting bukanlah memperbaiki semuanya secara total, melainkan melakukan perbaikan dan tidak takut memperlihatkan bekas luka," ujarnya. Judul Unshatter sendiri diambil dari salah satu lagu mereka, yang dianggap mewakili etos saat menggarap materi baru.
Linkin Park kini diperkuat vokalis Emily Armstrong dan drummer Colin Brittain. Menurut Hahn, Armstrong membawa dinamika yang dalam beberapa hal mengingatkan pada Chester, meski tetap merupakan pribadi yang berbeda. "Begitu kami melihat percikan itu, kami langsung tertarik. Kami sadar ini bahan yang selama ini hilang," katanya. Brittain masuk setelah Rob Bourdon memilih menjauh dari band pasca-meninggalnya Chester dan masa vakum yang menyusul.
Film ini melacak perjalanan band dari sesi awal 2022, penggarapan album From Zero, hingga kembalinya mereka ke panggung dalam konser di Sรฃo Paulo, Brasil. Unshatter memadukan arsip langka, rekaman studio, momen di balik layar, dan penampilan live. Bagi penggemar di Indonesia, film ini berpeluang masuk jaringan bioskop nasional, mengingat format premium seperti 4DX sudah tersedia di sejumlah kota besar. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi soal jadwal tayang lokal.
Hahn juga menanggapi kritik yang kerap muncul terhadap arah baru Linkin Park. Ia menilai sebagian penggemar memproyeksikan ekspektasi pribadi mereka ke identitas band. "Kritik datang dari berbagai tempat. Berdasarkan sejarah dan hal-hal hebat yang pernah kami lakukan, orang menganggapnya milik mereka sendiri. Mudah bagi orang membentuk gagasan tentang apa itu band ini, seharusnya seperti apa, dan boleh melakukan apa," tuturnya. "Tapi pada akhirnya, biarkan saja, dan sesuatu yang hebat akan muncul."
"Ini momen yang sangat khas dalam sejarah Linkin Park. Saya harap penonton terhubung dengan tema persahabatan, ketangguhan, dan melangkah maju." โ Joe Hahn
Bagi industri musik Indonesia, langkah Linkin Park menunjukkan bagaimana band besar mengelola warisan dan ekspektasi publik tanpa terjebak nostalgia. Pendekatan dokumenter semacam ini bisa menjadi rujukan bagi musisi tanah air yang menghadapi transisi personel atau kehilangan figur sentral. Di sisi lain, perilisan album live lebih dulu dari film memperlihatkan strategi lintas platform yang makin lazim di pasar global, termasuk potensi pendapatan dari penjualan tiket bioskop dan streaming.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Unshatter mampu menarik penonton bioskop, tetapi juga seberapa jauh Linkin Park akan membawa identitas barunya ke panggung dunia, termasuk kemungkinan tur ke Asia Tenggara. Jika respons pasar positif, bukan tidak mungkin gelombang nostalgia dan pembaruan ini akan mengubah cara band-legenda mengelola transisi generasi.



