Seth Rogen Ungkap Nasihat Kontroversial Judd Apatow yang Mengubah Cara Ia Menulis Komedi
Baca dalam 60 detik
- Seth Rogen menerima Norman Jewison Career Achievement Award di TIFF dan membagikan pelajaran berharga dari Judd Apatow.
- Nasihat empat kata 'Less semen, more emotion' menjadi prinsip dalam menyeimbangkan humor dan emosi dalam film komedi.
- Rogen juga mempromosikan proyek terbaru Babies dan Tangles, serta serial The Studio, menandai fase baru kariernya.

Aktor sekaligus penulis naskah Seth Rogen mengungkapkan sebuah nasihat nyeleneh namun mendalam dari mentor sekaligus kolaboratornya, Judd Apatow, yang masih ia pegang teguh hingga kini. Dalam pidato penerimaan penghargaan Norman Jewison Career Achievement Award di Toronto International Film Festival (TIFF), Rogen mengenang momen saat syuting film komedi Knocked Up pada 2007 silam. Saat itu, Apatow yang dikenal sebagai sutradara dan produser komedi ternama, meneriakkan empat kata dari ruangan sebelah yang kemudian menjadi prinsip kerja Rogen: "Less semen, more emotion!"
Nasihat tersebut, meski terdengar kasar dan jenaka, bagi Rogen bukan sekadar lelucon. Ia menuturkan bahwa kalimat itu kerap muncul kembali saat ia menulis naskah bersama teman-temannya. "Saya sangat sering kembali pada 'Less semen, more emotion'," ujarnya, seperti dikutip dari sumber. "Saat kami sedang menulis dan tertawa sendiri, tiba-tiba kami sadar, 'Kamu tahu? Less semen, more emotion'." Prinsip ini, menurut Rogen, mengajarkannya tentang keseimbangan antara humor, emosi, realitas, dan komedi, serta bagaimana menavigasi tone yang tepat dalam sebuah film.
Hubungan profesional Rogen dengan Apatow sudah terjalin sejak awal kariernya. Ia pertama kali muncul dalam serial televisi kultus Freaks and Geeks, lalu bekerja sebagai aktor dan penulis di Undeclared. Sebelum terjun ke Hollywood, Rogen memulai karier sebagai komedian stand-up di Vancouver, Kanada, saat masih remaja. Ia bahkan sudah menulis versi awal Superbad bersama mitra kreatifnya, Evan Goldberg. "Pertunjukan pertama saya di sebuah bar lesbian bernama The Lotus. Berjalan sangat baik," kenangnya.
Perjalanan karier Rogen kemudian melesat lewat peran-peran ikonik dalam Knocked Up, Superbad, Pineapple Express, This Is the End, Neighbors, dan The Interview. Ia juga membuktikan fleksibilitasnya dengan peran dramatis sebagai Steve Wozniak dalam Steve Jobs, serta beradu akting dengan Olivia Wilde, Penรฉlope Cruz, dan Edward Norton dalam komedi hubungan The Invite. Di sisi lain, karier televisinya kembali menanjak lewat serial Apple TV+ The Studio, yang ia ciptakan bersama Evan Goldberg dan dibintanginya sebagai bos studio bernama Matt Remick.
Di TIFF tahun ini, Rogen juga hadir untuk pemutaran perdana Babies, film yang ditulis dan disutradarai oleh istrinya, Lauren Miller Rogen. Film ini dibintangi Rogen dan Anna Kendrick sebagai pasangan suami istri yang mempertanyakan apakah mereka ingin memiliki anak. Selain itu, ia dan Lauren memproduseri Tangles, adaptasi animasi dari memoar grafis Sarah Leavitt tentang pengalaman keluarganya menghadapi penyakit Alzheimer. Kehadiran Rogen di TIFF tidak hanya merayakan pencapaian kariernya, tetapi juga menunjukkan dukungannya terhadap proyek-proyek personal yang dekat dengan kehidupannya.
"Saya sangat beruntung sejak usia muda sudah tahu apa yang ingin saya lakukan. Begitu saya sadar bisa mencari nafkah dari melawak, dan saya mencintai film, saya ingin membuat film. Saya mendapat kamera video dan membuat film bersama teman baik saya, Evan, yang masih saya ajak bekerja sama hingga sekarang."
โ Seth Rogen
Bagi industri hiburan Indonesia, kisah Rogen ini bisa menjadi cermin tentang pentingnya mentor dan lingkungan kreatif yang mendukung. Nasihat nyeleneh dari Apatow menunjukkan bahwa terkadang arahan yang tidak konvensional justru mampu membentuk pendekatan artistik seseorang. Di Indonesia, beberapa komedian dan pembuat film juga mengandalkan kolaborasi erat serta improvisasi dalam menciptakan karya yang resonan. Prinsip "less semen, more emotion" jika diterjemahkan bebas menjadi "kurangi gimmick, perbanyak emosi" bisa menjadi pengingat bahwa komedi yang bertahan lama adalah yang menyentuh sisi manusiawi penonton.
Ke depan, Rogen tampaknya akan terus menjelajahi berbagai peran di balik dan di depan layar. Dengan The Studio yang mendapat sambutan positif dan proyek-proyek film yang beragam, ia membuktikan bahwa komedian bisa bertransformasi menjadi kreator serba bisa. Akankah prinsip dari Apatow itu juga menginspirasi generasi baru pembuat film Indonesia untuk menyeimbangkan tawa dan air mata? Waktu yang akan menjawab, tetapi jejak Rogen memberikan satu contoh nyata.



