Ariana Grande Terjebak di Lift Usai Konser Penutup Tur Eternal Sunshine, Sinyal Rehat dari Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Ariana Grande dan timnya terjebak di lift setelah konser terakhir tur Eternal Sunshine di The O2 Arena London, 1 September.
- Insiden tersebut diungkapkan melalui unggahan Instagram pribadinya, memperlihatkan upaya membuka pintu lift bersama anggota tim dan kekasihnya, Ricky Alvarez.
- Momen ini menandai awal masa rehat Grande dari dunia hiburan, yang ia tegaskan sebagai keputusan matang, bukan reaksi atas kritik publik.

LONDON โ Ariana Grande menutup rangkaian tur Eternal Sunshine dengan cara yang tak terduga. Beberapa saat setelah meninggalkan panggung The O2 Arena, London, pada 1 September, pelantun "7 Rings" itu bersama tim dan kekasihnya, Ricky Alvarez, terjebak di dalam lift. Insiden tersebut ia bagikan sendiri melalui unggahan di Instagram pada Sabtu (12/9), memperlihatkan foto hitam-putih saat ia dan anggota tim, CJ Robinson, berupaya membuka pintu lift yang tak kunjung bergerak.
Dalam keterangan foto, Grande menulis, "Terjebak di lift beberapa saat setelah pertunjukan terakhir kami." Pada foto berikutnya, Alvarez tampak ikut membantu, dan Grande menambahkan, "Lanjutan (aku hampir berhasil, jujur)." Alvarez pun menanggapi di kolom komentar dengan nada bercanda, "Tidak ada orang lain yang lebih ingin aku ajak terjebak di lift selain kamu."
Insiden ringan itu menjadi penutup yang kontras bagi perjalanan tur 41 pertunjukan yang melintasi Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Sebelum terjebak, Grande sempat menangis di atas panggung saat menyampaikan salam perpisahan kepada penggemar. Menurut laporan Daily Mail, ia terbata-bata mengucapkan terima kasih, "Ini adalah pengalaman paling indah dan luar biasa dalam hidup saya, dan saya hanya ingin menyampaikan rasa syukur tanpa harus menangis tersedu-sedu." Ia juga menyebut para penggemarnya sebagai yang terbaik di dunia, seraya mengenang perjalanan dari "Honeymoon Avenue hingga Hampstead".
Keputusan Grande untuk menepi dari dunia hiburan bukan hal baru. Dalam konsernya di United Center, Chicago, 3 Agustus, ia menyempatkan diri berbicara selama empat menit. "Bisakah kita sedikit jujur malam ini?" ujarnya. "Pengumuman yang dibuat kemarin bukanlah hal yang reaktif atau impulsif. Itu sudah saya rencanakan. Keputusan yang matang. Keputusan yang memberdayakan. Saya membuatnya diam-diam, jauh sebelumnya." Ia juga membantah anggapan bahwa kritik tentang tubuhnya di media sosial menjadi pemicu utama.
Yang menarik, keputusan Grande turut memengaruhi proyek teater musikal Sunday in the Park with George. Jonathan Bailey, yang sebelumnya dijadwalkan tampil bersama Grande, mengumumkan pengunduran dirinya dari produksi tersebut beberapa jam sebelum konser terakhir. Dalam unggahan di Instagram Stories, Bailey menyatakan dukungannya kepada "sahabat terdekatnya" yang memilih "menepi dari visibilitas". Ia menyebut musikal karya Stephen Sondheim dan James Lapine itu sebagai proyek yang sangat ia cintai, namun memilih mundur setelah pertimbangan matang. Produser Empire Street Productions memastikan pertunjukan tetap berjalan sesuai rencana pada musim panas mendatang di Barbican Centre, London, dengan proses casting ulang yang sedang berlangsung.
"Saya tidak akan membiarkan kebisingan di luar sana mendistorsi kenyataan saya. Cinta yang kita bagi jauh lebih nyata." โ Ariana Grande, saat konser di Chicago.
Bagi industri hiburan global, langkah Grande bisa dibaca sebagai bagian dari tren yang lebih luas: bintang pop memilih jeda di puncak karier untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Di Indonesia, fenomena ini resonan dengan meningkatnya kesadaran publik akan pentingnya batas antara kehidupan pribadi dan ekspektasi penggemar. Penggemar di Tanah Air yang telah menantikan tur dunia ke Asia mungkin harus bersabar lebih lama, sementara pelaku industri musik nasional dapat melihatnya sebagai pengingat bahwa keberlanjutan karier seorang artis tidak semata ditentukan oleh produktivitas, melainkan juga oleh ruang untuk pulih.
Dengan rehat yang telah direncanakan, pertanyaan berikutnya adalah seberapa lama Grande akan absen dan bagaimana ia akan kembali. Apakah jeda ini akan menghasilkan karya yang lebih intim, atau justru menandai babak baru yang lebih selektif? Yang jelas, bagi Grande, keputusan ini bukan pelarian, melainkan pernyataan bahwa ia memegang kendali atas narasi hidupnya sendiri.



