Dari Non-Liga ke Liga Champions: Francesco Farioli Siap Uji Taktik Lawan Manchester City
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Porto, Francesco Farioli, akan menjalani debut Liga Champions melawan Manchester City setelah membawa timnya meraih gelar liga musim lalu.
- Farioli membangun reputasi lewat filosofi sepak bola yang menekankan keseimbangan antara penguasaan bola dan pressing ketat, menghasilkan rekor pertahanan terbaik di tiga klub.
- Laga kontra City menjadi ujian besar bagi pendekatan taktis Farioli, sekaligus peluang membuktikan diri di panggung Eropa.

Francesco Farioli, pelatih berusia 37 tahun yang membawa FC Porto meraih gelar juara Liga Portugal musim lalu, kini bersiap menghadapi ujian terbesar dalam karier kepelatihannya: laga perdana di Liga Champions melawan Manchester City di Estadio do Dragao, Selasa (1/10/2024). Bagi Farioli, pertandingan ini bukan sekadar partai besar, melainkan puncak dari perjalanan tak lazim yang dimulai dari lapangan non-liga di Italia hingga panggung tertinggi sepak bola Eropa.
Nama Farioli sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan di kalangan pengamat sepak bola. Musim lalu, ia dikaitkan dengan sejumlah klub besar seperti Chelsea, Liverpool, dan Rangers. Namun, ia memilih bertahan di Porto dan menandatangani perpanjangan kontrak. "Saya tidak merasa bisa berada di tempat yang lebih baik," ujarnya kepada BBC Sport. Keputusan ini tak lepas dari hubungan erat dengan presiden klub, Andre Villas-Boas, mantan manajer Tottenham dan Chelsea, yang dinilai memiliki visi yang sejalan.
Perjalanan Farioli penuh liku. Sebelum menukangi Porto, ia pernah menjadi pelatih kiper di Benevento dan Sassuolo di bawah arahan Roberto De Zerbi, yang kini menukangi Tottenham. Dari sana, ia merambah manajemen di Turki bersama Fatih Karagumruk dan Alanyaspor, lalu sukses di Nice (Prancis) dan Ajax (Belanda). Meski demikian, masa di Ajax berakhir dengan kekecewaan setelah gagal merebut gelar Eredivisie di hari terakhir, imbas dari bursa transfer Januari yang dianggapnya kurang mendukung.
Farioli dikenal memiliki identitas taktik yang khas: penguasaan bola, struktur yang rapi, dan pressing agresif. Porto musim ini memulai liga dengan sempurnaโlima kemenangan beruntun dan hanya kebobolan satu gol. Catatan ini bukan kebetulan. Farioli menekankan bahwa pertahanan yang solid tidak bisa dipisahkan dari cara tim menyerang. "Anda tidak bisa memisahkan momen. Ini adalah fase dari siklus yang sama," jelasnya. "Rekor pertahanan ini banyak berasal dari cara kami menyerang, struktur yang kami inginkan saat menyerang, dan bagaimana kami bersiap saat kehilangan bola. Semuanya terhubung."
Filosofi Farioli tidak hanya soal taktik di atas kertas. Ia juga menaruh perhatian besar pada aspek manusiawi dalam melatih. Salah satu contohnya, ia memberikan kuesioner anonim kepada para pemain untuk mengevaluasi taktiknya dan memberi ruang bagi mereka memberikan masukan. Pendekatan ini mencerminkan keyakinannya bahwa kolaborasi antara pelatih dan pemain adalah kunci. "Banyak hal berkaitan dengan pemahaman, waktu, pemicu spesifik, dan kemampuan pemain untuk membaca momen permainan sesuai posisi di lapangan," tambahnya.
Menghadapi Manchester City asuhan Enzo Maresca, Porto tidak gentar. Sebagai mantan juara Eropa, mereka memiliki mentalitas pemenang. Farioli sendiri melihat laga ini sebagai kesempatan untuk menguji idenya melawan salah satu tim terbaik dunia. "Saya percaya sepak bola, dan kehidupan pada umumnya, dibuat oleh dua prinsip: entropi, yang berarti kekacauan, dan entropi negatif, yaitu niat untuk menciptakan keteraturan," tuturnya. "Sebagai pelatih, saya bisa membantu tim dengan membawa lebih banyak keteraturan, bahasa, dan mungkin kacamata untuk melihat realitas dan cara memandang permainan dengan cara yang sama."
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, laga ini layak disimak. Porto, yang kerap menjadi kuda hitam di Liga Champions, akan menunjukkan apakah pendekatan modern Farioli mampu meredam agresivitas City. Selain itu, keberhasilan pelatih muda seperti Farioli bisa menjadi inspirasi bagi perkembangan sepak bola nasional, yang tengah gencar membina pelatih-pelatih muda. Pertanyaannya, akankah Porto mampu mengulang kejutan seperti musim-musim sebelumnya, atau justru City yang akan mendominasi? Jawabannya akan mulai terlihat di Estadio do Dragao nanti malam.



