Ekspor China Melonjak 25% di Agustus, Momentum KTT Xi-Trump Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Data bea cukai China mencatat pertumbuhan ekspor 25% year-on-year pada Agustus, didorong permintaan global untuk produk AI.
- Surplus perdagangan China mencapai US$805,5 miliar hingga Agustus, berpotensi melampaui rekor tahun lalu dan memicu ketegangan dagang.
- KTT Xi-Trump yang dijadwalkan bulan ini akan menjadi ujian bagi hubungan dagang kedua negara, terutama terkait teknologi AI.

Beijing โ Geliat perdagangan China kembali menunjukkan tajinya. Pada Agustus lalu, ekspor Negeri Tirai Bambu melesat 25 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, sementara impor tumbuh 28,2 persen. Lonjakan ini tak lepas dari derasnya permintaan global terhadap semikonduktor dan perangkat keras komputer, efek langsung dari hiruk-pikuk investasi kecerdasan buatan (AI) di berbagai negara. Angka ini dirilis tepat sebelum pertemuan puncak yang dinanti antara Presiden Xi Jinping dan mitranya dari Amerika Serikat, Donald Trump, di Washington bulan ini.
Kinerja ekspor Agustus sejatinya sedikit di bawah proyeksi para ekonom yang disurvei Bloomberg, yang memperkirakan pertumbuhan 25,9 persen. Namun, akselerasi dari 23,9 persen pada Juli menunjukkan daya tahan sektor manufaktur China di tengah lesunya permintaan domestik. Nguyen Hoang Nam, ekonom untuk China di Capital Economics, menilai pertumbuhan perdagangan tetap solid, meski ia menyoroti melemahnya momentum impor setelah penyesuaian musiman sebagai cermin masih rendahnya daya beli rumah tangga.
Menariknya, impor yang tumbuh pesat justru lebih banyak diserap untuk kebutuhan korporasi, bukan konsumsi masyarakat. Alicia Garcia-Herrero, kepala ekonom Asia-Pasifik di Natixis, mengatakan kepada AFP bahwa perbaikan impor lebih konsisten dengan belanja perusahaan untuk kapasitas komputasi, elektronik, dan investasi manufaktur. Ini sejalan dengan data aktivitas pabrik yang kembali terkontraksi pada Agustus untuk bulan kedua berturut-turut, menandakan sektor industri masih belum pulih sepenuhnya meski permintaan luar negeri menguat.
Ekspor produk komputer dan komponennya bahkan melonjak 49,4 persen secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus. Ini menegaskan bahwa AI telah menjadi mesin pertumbuhan baru bagi ekspor China, melengkapi kekuatan di sektor kendaraan listrik, barang konsumen, dan peralatan industri. "China terus mengandalkan eksportir untuk menopang ekonomi," tulis Zhiwei Zhang, presiden dan kepala ekonom di Pinpoint Asset Management. Surplus perdagangan China hingga akhir Agustus telah mencapai US$805,5 miliar, sebuah angka yang diprediksi akan melampaui rekor tahun lalu.
Namun, di balik gemerlap angka, tersimpan ganjalan politik. Ketimpangan neraca perdagangan dengan sejumlah mitra utama memicu kekhawatiran akan banjirnya produk China yang menekan industri lokal. Pengiriman ke AS sendiri melonjak 34,4 persen pada Agustus, hampir dua kali lipat dibanding Juli yang hanya 17 persen. Zhang mengingatkan bahwa pemerintah AS telah menyuarakan keprihatinan atas ketimpangan ini dalam pertemuan G20. Kondisi ini menjadi latar sebelum pertemuan Xi-Trump, di mana isu tarif dan akses teknologi diprediksi menjadi agenda panas.
Garcia-Herrero menegaskan, salah satu fokus AS adalah "menghentikan China menaiki tangga AI, tapi data menunjukkan mereka berhasil". Ini menjadi ironi, karena justru dorongan AS untuk membatasi teknologi China tampaknya memacu Beijing lebih agresif mengembangkan kapasitasnya. Sementara itu, pangsa ekspor langsung ke AS stabil di sekitar 10 persen, sedangkan pangsa ke ASEAN tetap tinggi. Surplus bilateral China dengan Uni Eropa dan Inggris juga dinilai "sangat besar", meningkatkan risiko tindakan proteksionisme lebih lanjut di kawasan tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, surplus China yang terus membengkak berarti produk-produk murah akan semakin membanjiri pasar domestik, menekan industri manufaktur lokal. Di sisi lain, perang dagang AS-China membuka peluang relokasi investasi dan diversifikasi pasar bagi eksportir Indonesia. Namun, jika ketegangan meningkat dan AS menerapkan tarif lebih tinggi, rantai pasok global akan terguncang, dan Indonesia yang ekonominya terkait erat dengan China akan ikut merasakan dampaknya.
Pertemuan Xi-Trump bulan ini akan menjadi penentu arah kebijakan perdagangan global. Apakah kedua raksasa ekonomi ini mampu meredakan ketegangan atau justru semakin memperuncing persaingan, terutama di sektor teknologi? Jawabannya akan menentukan tidak hanya nasib perdagangan China, tetapi juga stabilitas ekonomi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.



