Menolak Label Generasi Stroberi: Prof Pujiyono Tantang Anak Muda Buktikan Diri Lewat Aksi Nyata
Baca dalam 60 detik
- Ketua Komjak menilai stigma generasi stroberi tidak relevan dan mendorong anak muda fokus pada aksi nyata, bukan sekadar pencitraan di media sosial.
- Fenomena 'efek akuarium' disebut sebagai pemicu kecemasan generasi muda karena hanya menampilkan kesuksesan instan tanpa proses perjuangan.
- Forum diskusi di Sukoharjo menjadi ajang kolaborasi antara akademisi, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan pemuda.

Label "generasi stroberi" yang kerap melekat pada anak muda Indonesia mendapat perlawanan langsung dari Ketua Komisi Kejaksaan (Komjak) RI, Prof. Dr. Pujiyono Suwadi. Dalam forum diskusi bertajuk "Anak Muda Bagian Solusi Negeri" di Sukoharjo, Selasa (8/9/2026), ia menegaskan bahwa generasi muda bukanlah kelompok yang rapuh, melainkan motor penggerak utama perubahan bangsa. Pernyataan ini hadir di tengah meningkatnya diskursus tentang kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi bonus demografi 2030.
Prof. Pujiyono, yang juga akademisi hukum, menggarisbawahi bahwa kekhawatiran terhadap anak muda sering kali lahir dari cara pandang yang keliru. Ia menyebut media sosial sebagai biang munculnya "efek akuarium"โsebuah kondisi di mana publik hanya melihat kilau kesuksesan seseorang tanpa pernah menyaksikan proses jatuh bangun di baliknya. "Yang kita lihat adalah suksesnya, cantiknya, gantengnya. Perkara dulu jatuh bangunnya seperti apa, itu tidak menjadi hal menarik yang ingin kita lihat," ujarnya dalam paparan yang digelar di Mon Kopi, Gentan.
Fenomena ini, menurut Prof. Pujiyono, menciptakan tekanan psikologis yang tidak sehat. Anak muda kerap membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis, lalu merasa gagal ketika belum mencapai titik yang sama. Padahal, setiap individu memiliki jalan dan tahapan yang berbeda. Ia mengajak generasi muda untuk berhenti meniru orang lain dan mulai membangun otentisitas diri. "Kita tidak harus menjadi orang lain untuk mengejar cita-cita. Ketika ada kegelisahan, harus ada next step," tegasnya.
Senada dengan itu, Founder Gerakan Solusi Indonesia (GSI), Anas Syahirul, menepis anggapan bahwa anak muda sekarang gampang menyerah. Baginya, banyak bukti nyata anak muda yang sukses bergerak mandiri tanpa bergantung pada orang lain. "Sering kali kan anak-anak muda disebut sebagai generasi stroberi, yang gampang lembek. Padahal buktinya banyak anak-anak muda yang sukses bergerak sendiri," kata Anas. Forum yang digelar GSI bersama Bank Jateng Kantor Cabang Sukoharjo ini menjadi ruang bagi anak muda untuk berdiskusi dan berjejaring.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo yang berkomitmen menjadi mitra kolaborasi dalam memfasilitasi gagasan, kewirausahaan, dan aksi kreatif generasi muda. Langkah ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk menyiapkan talenta muda yang tidak hanya adaptif, tetapi juga inovatif di tengah disrupsi ekonomi digital. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan swasta menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.
Bagi Indonesia, isu ini bukan sekadar wacana. Dengan sekitar 64 juta penduduk berusia 16-30 tahun, kualitas generasi muda akan menentukan daya saing bangsa di kancah global. Jika anak muda terus dibayangi kecemasan dan perbandingan sosial yang tidak sehat, potensi besar ini bisa meredup. Sebaliknya, jika mereka diberi ruang untuk berkontribusi secara nyata, bukan tidak mungkin Indonesia akan melahirkan inovator-inovator baru yang mampu bersaing dengan negara maju.
Pertanyaannya, apakah institusi pendidikan dan dunia kerja sudah cukup adaptif untuk menangkap potensi tersebut? Atau justru masih terjebak dalam sistem yang menilai berdasarkan gelar dan pencitraan, bukan kapasitas riil? Momentum diskusi seperti di Sukoharjo ini diharapkan menjadi pemicu untuk perubahan yang lebih sistemik, bukan sekadar seremoni tahunan.



