Status Gunung Kerinci Waspada: Aktivitas Seismik Tinggi, tapi PVMBG Pastikan Aman
Baca dalam 60 detik
- PVMBG menegaskan status Gunung Kerinci masih level II waspada dengan aktivitas kegempaan didominasi gempa permukaan, bukan tanda erupsi.
- Lebih dari 170 kali getaran terekam dalam sehari, didominasi gempa hybrid dan hembusan, sementara asap putih di kawah dipicu air tanah.
- Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada; potensi bahaya hanya di sekitar kawah, sementara pendakian masih dibuka dengan batasan.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Kerinci, Irwan Safwan, memastikan status Gunung Kerinci yang berada di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat masih berada pada level II atau waspada. Penegasan ini disampaikan menyusul hasil evaluasi berkala yang dilakukan setiap dua pekan, yang tidak menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Meski demikian, data pemantauan pada Senin, 7 September 2026, mencatat dinamika kegempaan yang cukup intensif. Sepanjang 24 jam, terekam 126 kali gempa hybrid dengan amplitudo 0,3โ5,9 milimeter, 28 kali gempa low frequency, 19 kali gempa hembusan, serta satu kali gempa tektonik jauh. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa, namun menurut Irwan, hal itu masih dalam kategori normal untuk gunung api bertipe strato seperti Kerinci.
"Aktivitas masih didominasi gempa permukaan, seperti gempa hembusan low frequency. Sekali-kali ada gempa tektonik yang terekam. Kalau dilihat dari hasil evaluasi, masih aman untuk saat ini," ujarnya saat dihubungi di Jambi, Selasa. Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran warga yang sempat melihat kepulan asap putih dari kawah beberapa hari terakhir.
Fenomena asap tersebut, menurut Irwan, adalah hal yang lumrah dan bukan indikasi erupsi. Asap putih muncul akibat interaksi air tanah dengan panas di sekitar kawah. "Kalau untuk asap itu ada saja, warnanya putih, itu tidak pengaruh, karena dipengaruhi air tanah, bukan erupsi. Secara umum gunung punya dapur magma sendiri, aktif atau tidaknya tergantung dapur magma tersebut," jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa aktivitas Gunung Kerinci tidak saling memengaruhi dengan gunung berapi lain di sekitarnya karena masing-masing memiliki sistem magmatik yang terpisah.
Secara visual, kondisi Gunung Kerinci pada periode pengamatan terpantau cerah hingga tertutup kabut tipis. Tidak ada asap yang terlihat keluar dari kawah utama, dan suhu udara di sekitar gunung berkisar antara 15 hingga 25 derajat Celsius dengan kelembapan 52 hingga 79 persen. Angin bertiup lemah ke arah barat laut. Namun, di balik ketenangan visual tersebut, seismograf justru merekam aktivitas yang dinamis di dalam perut bumi.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di sekitar kaki Gunung Kerinci, kabar ini memberikan kelegaan namun juga pengingat. Wilayah ini merupakan salah satu kawasan rawan bencana yang masuk dalam zona cincin api Pasifik. Kepala PGA Kerinci mengimbau warga untuk tidak mudah percaya pada isu yang tidak berdasar dan selalu merujuk pada informasi resmi dari PVMBG. Sementara itu, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) sebelumnya telah menutup jalur pendakian untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, namun bukan karena aktivitas vulkanik.
Para ahli vulkanologi menilai bahwa peningkatan jumlah gempa hybrid sering kali menjadi prekursor sebelum erupsi, namun dalam kasus ini, durasi dan amplitudo getaran masih di bawah ambang batas yang mengkhawatirkan. "Yang perlu dicermati adalah tren kenaikan energi seismik dalam beberapa pekan ke depan. Jika terus meningkat, status bisa dinaikkan," kata seorang pengamat gunung api yang enggan disebutkan namanya. Namun, hingga saat ini, data belum menunjukkan pola yang mengarah pada erupsi besar.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana respons masyarakat dan pemerintah daerah jika aktivitas seismik terus berlanjut. Apakah status waspada akan dipertahankan atau justru dinaikkan? Yang jelas, kewaspadaan tanpa kepanikan adalah kunci, dan koordinasi antara PVMBG, BBTNKS, serta pemerintah daerah akan menentukan kesiapan menghadapi skenario terburuk.



