Longsor di China Timur Tewaskan Enam Orang, Sembilan Hilang
Baca dalam 60 detik
- Bencana longsor di Jiangxi akibat hujan deras dari Topan Saudel menewaskan enam orang dan menyisakan sembilan korban hilang.
- Upaya pencarian melibatkan lebih dari 170 personel penyelamat di tengah kerusakan rumah dan infrastruktur jalan.
- Peristiwa ini memperkuat kekhawatiran akan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di kawasan Asia seiring perubahan iklim.

Enam orang tewas dan sembilan lainnya masih dinyatakan hilang setelah serangkaian tanah longsor melanda kawasan timur Tiongkok, menyusul hujan deras yang dipicu Topan Saudel. Peristiwa ini terjadi di Provinsi Jiangxi, sebuah wilayah yang selama ini jarang terdampak bencana hidrologi ekstrem, sehingga memicu kekhawatiran baru tentang kesiapsiagaan daerah di luar zona risiko tradisional.
Menurut laporan kantor berita Xinhua yang mengutip pejabat setempat, longsor pertama melanda Desa Mingkeng pada Sabtu lalu, menewaskan lima warga dan meninggalkan tujuh orang dalam pencarian. Dua longsor tambahan di kawasan perkotaan Zuo'an dan Tanghu menambah satu korban jiwa serta dua orang hilang. Tim penyelamat yang dikerahkan ke lokasi mencapai lebih dari 170 personel, dengan fokus utama pada upaya menemukan korban yang tertimbun material longsor.
Hujan deras yang mengguyur selama berhari-hari telah melumpuhkan aktivitas di sejumlah kota, memaksa pemerintah setempat menghentikan sementara kegiatan kerja, sekolah, dan layanan transportasi. Di Desa Mingkeng, longsor tidak hanya merusak rumah-rumah warga tetapi juga mengganggu stabilitas jalan, mempersulit akses bagi kendaraan darurat dan logistik bantuan.
Bencana ini menjadi rangkaian terbaru dari dampak cuaca ekstrem yang melanda Asia. Sebelumnya, banjir glasial dahsyat di kawasan Himalaya pada bulan lalu menewaskan puluhan orang di Tibet dan lebih dari seribu jiwa di Nepal, dengan ribuan lainnya masih belum ditemukan. Para ilmuwan menilai pemanasan global mempercepat pencairan gletser dan meningkatkan frekuensi badai tropis, yang pada gilirannya memperbesar risiko bencana tanah longsor dan banjir bandang di berbagai belahan dunia.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan negara kepulauan terhadap bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi peningkatan intensitas hujan ekstrem yang dipicu fenomena La Nina dan perubahan iklim. Meskipun topan jarang mencapai wilayah Indonesia secara langsung, sisa-sisa siklon tropis kerap memicu cuaca buruk di sejumlah daerah, seperti yang terjadi pada awal tahun ini di Nusa Tenggara Timur.
"Perubahan iklim membuat siklus hidrologi semakin tidak menentu. Wilayah yang sebelumnya aman kini bisa menjadi zona rawan longsor," ujar seorang analis kebencanaan yang enggan disebutkan namanya.
Pemerintah Tiongkok sendiri telah meningkatkan sistem peringatan dini dan relokasi warga di daerah rawan longsor, namun kecepatan dan skala bencana sering kali melampaui prediksi. Pertanyaannya, apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah memiliki infrastruktur dan protokol yang memadai untuk menghadapi skenario serupa? Dengan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan tingkat kesiapsiagaan kawasan dalam melindungi warganya dari bencana yang semakin sulit diprediksi.



