Anak Krakatau Kembali Erupsi Dua Kali dalam Sehari, Abu Vulkanik Capai 2,1 Kilometer
Baca dalam 60 detik
- Gunung Anak Krakatau mencatat dua erupsi pada Selasa pagi dengan amplitudo maksimum 48 mm, memicu peringatan dini dari BPBD Lampung.
- Sebaran abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 7.000 kaki mengarah ke selatan-barat daya, menyentuh wilayah barat laut Banten dan Samudera Hindia.
- Badan Geologi memperpanjang larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif, menyoroti potensi bahaya bagi wisatawan dan penduduk sekitar.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat pada Selasa (8/9/2026) pagi. Dua erupsi tercatat dalam rentang waktu kurang dari tiga jam, dengan yang terbesar terjadi pukul 07.49 WIB, memicu kekhawatiran baru bagi warga pesisir dan pelaku pariwisata di Lampung serta Banten.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung, erupsi kedua terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 48 milimeter dan durasi 19 detik. Sebelumnya, pada pukul 05.34 WIB, erupsi pertama tercatat dengan amplitudo 44 milimeter dan durasi lebih singkat, yakni 10 detik. Meski tinggi kolom erupsi tidak teramati secara visual, data instrumental menunjukkan energi yang signifikan dari dalam perut gunung.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melalui analisis citra satelit Himawari-9 dan informasi dari PVMBG serta Darwin VAAC, mendeteksi sebaran abu vulkanik yang mencapai ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer di atas permukaan laut. Arah sebaran abu bergerak ke selatan-barat daya, meliputi sebagian barat laut Banten dan area Samudera Hindia di lepas pantai provinsi tersebut. Kondisi ini berpotensi mengganggu penerbangan domestik dan internasional yang melintasi Selat Sunda, meskipun belum ada laporan penutupan bandara.
Bagi masyarakat Indonesia, erupsi ini menjadi pengingat akan dinamika geologis yang terus berlangsung di kawasan yang sama dengan letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Para ahli vulkanologi menilai peningkatan aktivitas Anak Krakatau dalam beberapa tahun terakhir merupakan siklus alami, namun tetap memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama bagi nelayan, wisatawan, dan penduduk yang beraktivitas di sekitar gunung.
Badan Geologi telah mengeluarkan peringatan tegas agar masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati kawah atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer. Imbauan ini disampaikan melalui kanal resmi di media sosial, menekankan potensi bahaya berupa lontaran material pijar, awan panas, dan hujan abu yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dampak ekonomi dari erupsi ini patut dicermati. Kawasan sekitar Anak Krakatau, termasuk Pantai Anyer di Banten dan kawasan wisata di Lampung, selama ini mengandalkan kunjungan wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan gunung berapi dari kejauhan. Penutupan akses sementara dapat menurunkan okupansi hotel dan pendapatan masyarakat lokal, terutama menjelang akhir pekan. Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan langkah mitigasi dan komunikasi risiko yang efektif agar sektor pariwisata tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aktivitas ini akan berlanjut dan meningkat, atau mereda seperti pola sebelumnya. Pemantauan berkelanjutan oleh PVMBG dan koordinasi antarlebaga menjadi kunci dalam memberikan peringatan dini yang akurat. Masyarakat pesisir diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta selalu mengikuti arahan resmi dari otoritas terkait.



