Ancaman Tsunami 2018 Tak Akan Terulang? Ini Kata Badan Geologi soal Erupsi Anak Krakatau
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi menegaskan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk pasca-erupsi 2018 masih kecil, sehingga potensi longsor pemicu tsunami dinilai rendah.
- Status Siaga Level III tetap bertahan dengan radius aman 3 kilometer, menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang memicu sebaran abu ke sejumlah wilayah.
- Masyarakat pesisir diimbau tetap waspada, namun tidak perlu panik karena pemantauan intensif terus dilakukan oleh PVMBG.

Kekhawatiran akan terulangnya bencana tsunami seperti 2018 kembali menghantui masyarakat pesisir Selat Sunda setelah Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas erupsi dalam sepekan terakhir. Namun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa kondisi gunung api tersebut saat ini tidak serupa dengan situasi menjelang tragedi yang menewaskan lebih dari 400 orang itu.
Melalui keterangan resmi yang disampaikan Selasa (8/9/2026), Badan Geologi mengungkapkan bahwa dimensi tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dahsyat 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Dengan demikian, potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala besar yang dapat memicu gelombang tsunami dinilai sangat rendah. Meski begitu, lembaga tersebut menggarisbawahi bahwa pemantauan terhadap perkembangan morfologi dan aktivitas gunung tetap dilakukan secara intensif.
"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, dimensi tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," tulis Badan Geologi dalam akun media sosialnya. Pernyataan ini menjadi jawaban atas spekulasi yang beredar di masyarakat setelah video erupsi yang disertai luncuran awan panas viral di berbagai platform.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi merekomendasikan radius aman sejauh 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Status ini mengindikasikan bahwa potensi erupsi masih tinggi, namun peningkatan aktivitas tidak bisa disimpulkan hanya dari satu kejadian erupsi atau video yang beredar. "Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara visual dan instrumental oleh PVMBG. Peningkatan aktivitas tidak ditentukan hanya dari satu erupsi atau video, tetapi dari berbagai parameter pemantauan," lanjut keterangan tersebut.
Di sisi lain, sebaran abu vulkanik yang mencapai sejumlah wilayah di Indonesia menjadi perhatian tersendiri. Badan Geologi menjelaskan bahwa material abu yang sangat halus dapat terangkat ke atmosfer dan terbawa mengikuti arah serta kecepatan angin pada ketinggian tertentu. Kondisi ini menyebabkan abu vulkanik bisa tersebar hingga jarak yang cukup jauh dari pusat erupsi, bergantung pada ukuran partikel dan kondisi meteorologi.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di sekitar Selat Sunda dan wilayah yang terdampak hujan abu, Badan Geologi memberikan imbauan praktis. Partikel abu yang mengandung silika dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. "Sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, gunakan masker dan kacamata, terutama saat hujan abu cukup pekat," pesan Badan Geologi. Imbauan ini relevan mengingat beberapa daerah di Provinsi Lampung dan Banten sempat dilaporkan mengalami hujan abu tipis.
Membandingkan kondisi saat ini dengan 2018, para ahli menilai bahwa karakteristik erupsi dan morfologi gunung berbeda secara signifikan. Pada 2018, sebagian besar tubuh gunung yang terbentuk dari akumulasi material erupsi sebelumnya runtuh ke laut, memicu tsunami. Kini, volume tubuh gunung yang jauh lebih kecil mengurangi risiko longsoran besar. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa gunung api ini tetap tidak bisa diprediksi secara pasti, sehingga kewaspadaan masyarakat dan kesiapsiagaan pemerintah daerah menjadi kunci.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana pola erupsi Anak Krakatau akan berkembang dalam beberapa minggu ke depan. Akankah aktivitasnya mereda seiring berkurangnya suplai magma, atau justru meningkat menuju fase erupsi yang lebih besar? Badan Geologi memastikan bahwa setiap perubahan status akan segera dikomunikasikan kepada publik. Masyarakat diimbau untuk tidak termakan hoaks dan selalu merujuk pada informasi resmi dari PVMBG dan BNPB.



