Penerbangan di Soekarno-Hatta Berangsur Pulih, Antrean Penumpang Mengular Usai Abu Vulkanik Berlalu
Baca dalam 60 detik
- Bandara utama Indonesia kembali beroperasi penuh setelah sempat lumpuh akibat hujan abu vulkanik Anak Krakatau.
- Ratusan calon penumpang yang sempat tertahan mulai mendapat kepastian jadwal, meski sejumlah rute masih terdampak penundaan.
- Pemulihan bertahap ini menjadi sinyal bagi industri aviasi dan pariwisata nasional untuk mengantisipasi gangguan serupa di masa depan.

Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, mulai menunjukkan denyut normal kembali pada Selasa (8/9/2026) pagi setelah sempat lumpuh akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Keriuhan penumpang yang mengantre di area check-in Terminal 2D menjadi pemandangan yang kontras dengan keheningan beberapa hari sebelumnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejak pukul 10.30 WIB, lorong-lorong menuju konter bagasi drop untuk maskapai Batik Airโkhususnya jurusan Lampung dan Padangโkembali dipadati calon penumpang. Layar informasi penerbangan yang sebelumnya didominasi status merah kini mulai berganti menjadi indikator hijau dan biru, seperti "BERANGKAT", "GATE DIBUKA", hingga "SESUAI JADWAL". Namun, sejumlah penerbangan lain masih menampilkan status "TERLAMBAT" atau "DIBATALKAN", menandakan pemulihan belum sepenuhnya tuntas.
Kepastian untuk terbang kembali menjadi kabar lega bagi ribuan penumpang yang terdampar selama beberapa hari. Heri (31), seorang penumpang tujuan Sumatera, mengungkapkan rasa syukurnya meski harus bersabar dalam antrean panjang. "Yang penting ada kepastian berangkat," ujarnya, menggambarkan kelegaan yang juga dirasakan banyak calon penumpang lain di terminal.
Gangguan operasional bandara ini merupakan dampak langsung dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang menyemburkan abu ke atmosfer, memaksa otoritas penerbangan menutup sementara ruang udara di sekitar Selat Sunda. Penutupan ini bukan hanya menghentikan lalu lintas pesawat, tetapi juga memutus konektivitas bagi ribuan penumpang yang hendak menyeberang ke Sumatera maupun tujuan domestik lainnya.
Peristiwa ini menggarisbawahi kerentanan infrastruktur transportasi udara Indonesia terhadap bencana geologis. Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, merupakan gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat kembali bergejolak. Para pengamat kebencanaan menilai perlu ada protokol yang lebih matang dan sistem peringatan dini yang terintegrasi antara otoritas bandara, maskapai, dan badan geologi agar dampak terhadap mobilitas masyarakat dapat diminimalkan.
Dari sisi ekonomi, gangguan penerbangan yang berkepanjangan berpotensi merugikan sektor pariwisata dan logistik, terutama menjelang akhir pekan panjang. Para pelaku industri perjalanan berharap otoritas dapat segera memulihkan kepercayaan publik dengan memberikan informasi yang transparan dan akurat mengenai kondisi cuaca serta status operasional bandara.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa siap Indonesia menghadapi skenario serupa? Dengan posisi geografis yang berada di kawasan cincin api, kejadian seperti ini bukanlah yang terakhir. Investasi dalam teknologi pemantauan abu vulkanik dan koordinasi antarinstansi menjadi kunci untuk menjaga denyut konektivitas nasional tetap stabil di tengah ancaman alam yang tak bisa diprediksi.



