Kafe di Paju Jadi TKP Pembunuhan: Jasad Lansia Ditemukan di Freezer, Pemilik Ditahan
Baca dalam 60 detik
- Polisi Korea Selatan menangkap pemilik kafe berusia 30-an setelah jasad wanita 60-an ditemukan di dalam freezer kontainer di Paju.
- Korban diduga dibekukan hidup-hidup atau dibunuh di dalam freezer bersuhu puluhan derajat di bawah nol.
- Penyidik menemukan voucher palsu senilai puluhan miliar won di dalam freezer, yang diduga menjadi motif pertemuan korban dan tersangka.

Polisi Korea Selatan menahan pemilik kafe di Paju, Provinsi Gyeonggi, setelah seorang wanita berusia 60-an yang dilaporkan hilang ditemukan tewas di dalam freezer berukuran 30 meter persegi. Peristiwa ini mencuat pada Senin (7/9) dan mengguncang publik karena dugaan pembunuhan yang melibatkan voucher belanja palsu.
Tersangka, pria berusia 30-an, ditangkap pada 6 September setelah pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan. Ia diduga membujuk korban ke dalam freezer dengan dalih menyimpan voucher hadiah di sana. Dari lokasi, polisi menyita voucher department store palsu dengan nilai gabungan mencapai puluhan miliar won.
Korban dilaporkan hilang dari Seoul pada tengah malam 4 September. Berkat pelacakan sinyal ponsel, jasadnya ditemukan pada pukul 14.00 waktu setempat di dekat pintu masuk freezer. Suhu di dalam ruangan tersebut diperkirakan mencapai puluhan derajat di bawah nol, menjadikannya tempat yang mustahil untuk bertahan hidup lebih dari beberapa menit.
Menurut penyelidikan awal, korban dan tersangka baru pertama kali bertemu di kafe tersebut pada 3 September. Wanita itu datang untuk membahas penukaran voucher hadiah menjadi uang tunai, sebuah praktik yang kerap disalahgunakan di Korea Selatan. Tersangka, yang diketahui aktif dalam bisnis konversi voucher, diduga memanfaatkan pertemuan itu untuk melancarkan aksinya.
Polisi masih mendalami apakah voucher palsu tersebut menjadi motif pembunuhan atau hanya bagian dari operasi penipuan tersangka. Autopsi akan dilakukan untuk memastikan apakah korban dibunuh di dalam freezer lalu ditinggalkan, atau justru dikunci hidup-hidup hingga meninggal karena hipotermia. Tersangka sempat memerintahkan karyawannya untuk tidak masuk kerja dan menutup kafe sejak 3 September, memperkuat dugaan bahwa aksi ini telah direncanakan.
Fenomena kejahatan terkait voucher hadiah di Korea Selatan sebenarnya bukan hal baru. Praktik penukaran voucher secara ilegal sering menjadi pintu masuk penipuan dan kekerasan. Namun, kasus ini menyoroti bagaimana ruang usaha kecil seperti kafe bisa menjadi lokasi eksekusi yang mengerikan. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap transaksi voucher dan sertifikat elektronik yang marak digunakan di sektor ritel.
Di Indonesia, voucher belanja juga menjadi instrumen yang rentan dipalsukan. Otoritas terkait, seperti Kementerian Perdagangan dan kepolisian, perlu mewaspadai modus serupa yang mungkin menyusup ke platform digital. Regulasi yang ketat dan edukasi publik tentang risiko penukaran voucher di luar kanal resmi menjadi langkah preventif yang krusial.
Kasus di Paju ini juga memantik pertanyaan tentang keamanan tempat usaha yang sepi. Apakah pemilik kafe di Indonesia sudah cukup waspada terhadap potensi penyalahgunaan ruang mereka untuk tindak kriminal? Ke depan, kolaborasi antara pelaku usaha, aparat, dan platform digital menjadi kunci untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.



