Abu Vulkanik Anak Krakatau Surut, Delapan Bandara Kembali Layani Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Seluruh bandara yang sempat lumpuh akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah menyatakan operasional kembali per Selasa siang.
- AirNav menegaskan status NOTAM dibuka untuk delapan bandara, namun kewaspadaan pilot tetap ditingkatkan karena partikel abu masih terpantau di jalur penerbangan.
- Pemulihan layanan udara ini menjadi sinyal positif bagi mobilitas dan logistik di Sumatra bagian selatan serta Banten, dengan imbauan penumpang mengecek jadwal secara berkala.

Seluruh bandara yang sebelumnya ditutup akibat terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah kembali melayani penerbangan. Bandara Radin Inten II di Lampung menjadi yang terakhir menyatakan operasional pada Selasa (8/9/2026) pagi, menyusul tiga bandara lain yang telah lebih dulu dibuka sejak tengah malam.
Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama melalui keterangan resminya mengonfirmasi bahwa tidak ada lagi bandara yang berstatus tutup. Pembukaan bertahap ini berlangsung cepat: Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Husein Sastranegara telah beroperasi sejak pukul 00.00 WIB, disusul Pondok Cabe dan Budiarto beberapa jam kemudian. Kini, giliran Radin Inten II, Muhammad Taufiq Kiemas, dan Salakanagara yang menyusul sebelum pukul 10.00 WIB.
Keputusan ini diambil setelah pengamatan menunjukkan pergerakan awan abu mulai menjauhi area bandara, meski potensi gangguan belum sepenuhnya hilang. AirNav, melalui EVP Corporate Secretary Hermana Soegijantoro, menjelaskan bahwa pembukaan Radin Inten II mengacu pada NOTAM B1159/26 yang berlaku sejak pukul 09.45 WIB hingga 23.59 WIB. Status "AERODROME OPEN AND RESUMED OPERATIONS" menjadi dasar bagi maskapai untuk kembali menjadwalkan penerbangan.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha di Sumatra bagian selatan serta Banten, pemulihan ini meredakan kekhawatiran akan terganggunya rantai distribusi. Bandara Radin Inten II merupakan gerbang utama untuk komoditas pertanian dan industri manufaktur dari Lampung, sementara Salakanagara di Tanjung Lesung menjadi penopang sektor pariwisata Banten. Keterlambatan pembukaan bandara sempat memicu penumpukan penumpang di sejumlah terminal, namun kini alur perjalanan diharapkan kembali normal.
Meski demikian, AirNav mengingatkan bahwa abu vulkanik masih terdeteksi di beberapa titik. Para pilot diminta meningkatkan kewaspadaan saat proses pendekatan dan lepas landas, karena partikel abu dapat mengganggu kinerja mesin dan visibilitas. Maskapai pun diimbau untuk terus berkoordinasi dengan otoritas setempat guna memastikan keselamatan penerbangan.
"Seluruh Bandar Udara terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah dibuka kembali untuk operasional penerbangan," demikian pernyataan Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama.
Bagi calon penumpang, langkah bijak adalah memverifikasi status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara. Pasalnya, meski bandara telah dinyatakan buka, jadwal penerbangan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan arahan otoritas penerbangan. Hal ini penting untuk menghindari antrean panjang atau keterlambatan yang tidak diinginkan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat aktivitas vulkanik Anak Krakatau benar-benar mereda. Jika erupsi berlanjut, bukan tidak mungkin bandara-bandara ini kembali ditutup sewaktu-waktu. Pemerintah daerah dan operator bandara perlu menyiapkan protokol tanggap darurat yang lebih matang, termasuk jalur evakuasi dan komunikasi yang efektif kepada publik. Pemulihan hari ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi dinamika alam yang tak pernah bisa diprediksi sepenuhnya.



