Bandara Soekarno-Hatta Kembali Beroperasi Penuh, 896 Penerbangan Siap Layani 113 Ribu Penumpang
Baca dalam 60 detik
- Setelah sempat lumpuh akibat abu vulkanik, Soetta resmi beroperasi kembali sejak pukul 00.30 WIB dengan proyeksi 896 penerbangan hari ini.
- Pembersihan menyeluruh di sisi udara dan darat menjadi prioritas untuk memastikan keselamatan penerbangan pasca-penutupan.
- Penumpang diminta proaktif memantau jadwal melalui kanal resmi maskapai guna mengantisipasi keterlambatan sisa dampak erupsi.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kembali menggeliat setelah sempat ditutup total akibat hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Otoritas bandara memastikan operasional penerbangan telah berjalan normal sejak Selasa (8/9/2026) dini hari, dengan target melayani 896 pergerakan pesawat dan sekitar 113.001 penumpang sepanjang hari.
Keputusan pembukaan kembali ini mengacu pada Notice to Air Missions (NOTAM) yang diterbitkan AirNav Indonesia, efektif mulai pukul 00.30 WIB. Yudistiawan, Assistant Deputy Communication & Legal KC Bandara Soetta, menyatakan seluruh maskapai telah kembali beroperasi setelah bandara dinyatakan aman. "Semua maskapai sudah kembali beroperasi," ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Sebelum melayani kembali, manajemen bandara melakukan audit menyeluruh terhadap fasilitas di sisi darat dan udara. Di darat, pengecekan difokuskan pada terminal, konter check-in, area keamanan, ruang tunggu, serta kesiapan personel layanan. Sementara di sisi udara, pembersihan ekstensif dilakukan di apron, taxiway, dan runway untuk memastikan tidak ada sisa abu yang membahayakan operasi pesawat. Langkah ini merupakan protokol standar pasca-bencana untuk menjamin aspek keselamatan penerbangan.
Fase awal pemulihan ini sengaja dilakukan secara bertahap dan terukur. Manajemen bandara ingin memastikan arus lalu lintas udara tidak kacau, terutama untuk menangani penerbangan yang sempat tertunda atau dibatalkan selama penutupan. Pendekatan ini juga memberi ruang bagi maskapai untuk menyesuaikan kembali jadwal kru dan pesawat mereka.
Bagi para pelancong, imbauan keras disampaikan agar selalu memantau status penerbangan masing-masing melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara. Informasi lebih lanjut juga dapat diperoleh melalui Contact Center InJourney Airports di nomor 172. Langkah antisipatif ini penting mengingat potensi keterlambatan masih mungkin terjadi pada jam-jam sibuk.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur penerbangan Indonesia terhadap aktivitas vulkanik. Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda memang kerap memicu gangguan serupa. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi bandara dapat dioptimalkan untuk meminimalkan dampak ekonomi dari setiap erupsi. Dengan frekuensi kejadian yang tidak menentu, kolaborasi antara otoritas bandara, AirNav, dan maskapai menjadi kunci untuk menjaga konektivitas udara nasional tetap andal.



