Literasi 3S: Strategi Baru Kemendikdasmen Menyongsong Indonesia Emas 2045
Baca dalam 60 detik
- Mendikdasmen Abdul Mu'ti meluncurkan konsep literasi 3S (sesama, semesta, sejahtera) yang diadaptasi dari UNESCO untuk menjawab tantangan digital dan lingkungan.
- Konsep ini menekankan kemampuan kritis memilah informasi, literasi iklim, serta keterampilan finansial dan digital sebagai modal menuju Indonesia Emas 2045.
- UNESCO menilai literasi kini bukan sekadar akses baca, melainkan kemampuan menilai kredibilitas informasi dan menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan bahwa penguatan literasi dengan konsep 3S—sesama, semesta, dan sejahtera—menjadi pilar utama dalam menyiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Pernyataan ini disampaikan saat membuka Peringatan Hari Aksara Internasional secara daring di Jakarta, Selasa (8/9/2026). Konsep tersebut diadaptasi dari tema global UNESCO dan dirancang untuk menjawab tantangan sosial, lingkungan, serta digital yang semakin kompleks.
Mu'ti menjelaskan bahwa konsep 3S sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Menurutnya, literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan fondasi untuk menciptakan bangsa yang cerdas, peduli lingkungan, dan sejahtera. Ia menekankan bahwa di era perubahan sosial, krisis iklim, dan ledakan informasi digital, masyarakat harus mampu berpikir kritis, reflektif, serta terus belajar sepanjang hayat.
Lebih lanjut, Mu'ti menguraikan makna di balik setiap elemen 3S. 'Sesama' berarti memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari kesempatan belajar. 'Semesta' mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan melalui literasi iklim, konservasi, dan aksi keberlanjutan. Sementara 'sejahtera' menekankan pentingnya kecakapan hidup, literasi finansial, kewirausahaan, dan keterampilan digital agar setiap individu mampu bekerja dan berkarya dengan lebih baik. Konsep ini, menurutnya, menjadi payung gerakan yang ringkas dan kontekstual bagi satuan pendidikan, komunitas, dan masyarakat.
Senada dengan Mu'ti, Chief of Education UNESCO Regional Office in Jakarta, Santosh Khatri, menyampaikan bahwa literasi adalah hak fundamental manusia dan kunci untuk berpartisipasi dalam masyarakat global. Ia menggarisbawahi bahwa tantangan literasi saat ini tidak lagi sebatas penyediaan akses informasi, melainkan bagaimana memastikan setiap individu mampu menilai, memilih, dan memilah informasi yang kredibel, serta menggunakan teknologi digital dengan aman dan bertanggung jawab. Hal ini menjadi semakin relevan di tengah maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi.
Bagi Indonesia, konsep ini memiliki implikasi yang luas. Dengan bonus demografi yang masih berlangsung, peningkatan kualitas literasi menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi generasi muda. Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Berdasarkan data UNESCO, tingkat literasi Indonesia masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal literasi digital dan finansial. Rendahnya kemampuan berpikir kritis di kalangan pelajar menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi, terlebih dengan penetrasi internet yang semakin masif.
Mu'ti menambahkan bahwa penguatan literasi akan berhasil jika para pembelajar memiliki sikap kritis, menerapkan pembelajaran mendalam, dan belajar dengan gembira. Ia mengajak seluruh pihak untuk menjadi pembaca, pendengar, dan penulis yang baik. "Belajar yang reflektif, belajar yang kontekstual, dan belajar yang menggembirakan," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa literasi bukan hanya soal memahami kata, tetapi juga memahami realitas di sekitar.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat menerjemahkan konsep 3S ini ke dalam kebijakan yang konkret dan terukur. Akankah kurikulum nasional dirombak untuk mengakomodasi literasi iklim dan finansial? Bagaimana sekolah-sekolah di daerah terpencil dapat mengakses program ini secara merata? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menentukan apakah Indonesia benar-benar mampu mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui penguatan literasi.



