Banjir Bandang Nepal: Keluarga Korban Terjebak di Terowongan PLTA Desak Percepatan Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Ratusan keluarga korban banjir glasial di Nepal menggelar protes di Kathmandu, menuntut pemerintah mempercepat evakuasi puluhan pekerja yang diduga masih terjebak di terowongan proyek PLTA Trishuli 3B.
- Militer Nepal mengaku kesulitan menembus lumpur tebal di dalam terowongan, namun keluarga korban menilai upaya yang dilakukan tidak maksimal dan meminta bantuan internasional.
- Bencana yang dipicu runtuhnya gletser ini menewaskan 1.300 orang dan menyebabkan 5.000 lainnya hilang, menyoroti kerentanan infrastruktur energi terhadap dampak perubahan iklim di kawasan Himalaya.

Hampir dua pekan pasca banjir bandang glasial yang menerjang permukiman di sepanjang sungai Trishuli, Nepal, harapan keluarga korban untuk menemukan kerabat mereka yang masih hilang perlahan berubah menjadi kemarahan. Sekitar 50 orang, kebanyakan ibu dan istri, menggelar aksi protes di kawasan Maitighar Mandala, Kathmandu, pada Senin (7/9), sambil membawa foto orang-orang yang mereka cintai dan mendesak pemerintah mempercepat proses pencarian.
Mereka adalah keluarga dari para pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sungai Trishuli, di mana sedikitnya 50 orang diduga kuat masih terjebak di dalam terowongan proyek Trishuli 3B. Sumana Chhetri Amatay, 50 tahun, yang suaminya Sumesh Amatay, seorang geolog senior, hilang sejak hari pertama banjir, melontarkan pertanyaan pedas: "Mengapa militer tidak memprioritaskan penyelamatan di dalam terowongan? Suami saya mungkin masih hidup dan bisa diselamatkan." Ia menambahkan, "Hari ini adalah hari ke-13, saat umat Hindu melakukan ritual pemakaman terakhir. Kami belum mendapat kabar baik maupun buruk."
Proyek Trishuli 3B merupakan bagian dari proyek PLTA run-of-the-river berkekuatan 37 megawatt di Nuwakot. Para pekerja yang bertugas di sana, termasuk Sumesh, telah ditempatkan sejak tujuh bulan terakhir. Sementara itu, Sagar Poudel, sepupu dari Somnath Poudel, seorang insinyur di proyek yang sama, mengaku masih berharap sepupunya selamat di dalam terowongan. Namun, ia pasrah dengan nasib istri dan dua anak kembar Somnath yang berusia dua tahun, yang berada di perumahan staf di tepi sungai. "Mereka mungkin tidak selamat tertimbun lumpur. Tapi sepupu saya, mungkin dia masih hidup di dalam terowongan. Kami harus tahu," ujarnya.
Keluarga korban telah membentuk grup WhatsApp beranggotakan 140 orang untuk berkoordinasi, berbagi informasi, dan saling mendukung. Mereka juga mengkritik pemerintah yang dinilai hanya mengerahkan peralatan kecil ke Trishuli 3B, sementara alat berat seperti ekskavator justru dikirim ke proyek lain. Brigadir Jenderal Subash Jung Thapa, juru bicara militer Nepal, membantah tudingan tersebut. Ia menjelaskan, medan yang sulit menjadi kendala utama. "Sejak awal kami telah mengirim tim ke Trishuli 3A dan 3B. Namun, alat berat justru tenggelam dalam lumpur. Di dalam terowongan pun penuh sedimen, tim manual tidak bisa menjangkaunya. Bahkan helikopter kesulitan terbang di lembah sempit," katanya. Meski demikian, Thapa memastikan timnya kini telah menemukan akses ke terowongan 3B melalui terowongan 3A dan akan bekerja lebih cepat.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser yang memicu banjir bandang dahsyat, menewaskan 1.300 orang di Nepal dan China, serta menyebabkan lebih dari 5.000 orang hilang, termasuk warga asing dari India, Australia, Malaysia, Singapura, dan negara lainnya. Sedikitnya 12 proyek PLTA rusak parah akibat terjangan air dan lumpur. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan risiko besar pembangunan infrastruktur energi di kawasan pegunungan yang rapuh terhadap perubahan iklim.
Bagi Indonesia, tragedi ini memberikan pelajaran berharga. Sebagai negara yang juga memiliki banyak sungai berarus deras dan proyek infrastruktur di daerah rawan bencana, penting untuk memiliki sistem peringatan dini yang andal dan protokol evakuasi yang jelas. Selain itu, kerja sama internasional dalam penanganan bencana, seperti yang diminta keluarga korban di Nepal, dapat menjadi model bagi negara-negara berkembang dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin ekstrem. Pertanyaannya, apakah pemerintah Nepal mampu mengatasi keterbatasan teknis dan logistik untuk menyelamatkan mereka yang masih menunggu di dalam terowongan, atau justru membuka pintu bagi bantuan asing yang lebih besar?



