Ostapenko Kembali Memicu Kontroversi di US Open: Protes Sikap Pelatih Lawan
Baca dalam 60 detik
- Petenis asal Latvia, Jelena Ostapenko, kembali menjadi sorotan di US Open setelah protes keras terhadap perilaku pelatih lawan pada laga ganda putri.
- Insiden ini menambah daftar panjang konflik yang melibatkan Ostapenko di lapangan, menyoroti temperamennya yang mudah tersulut.
- Pertandingan tersebut menyoroti pentingnya etika dan sportivitas dalam tenis, terutama di tengah tekanan kompetisi tingkat grand slam.

NEW YORK – Jelena Ostapenko, juara Prancis Terbuka 2017, kembali menjadi pusat perhatian di ajang US Open setelah terlibat perselisihan dengan pelatih lawan pada pertandingan ganda putri, Senin (7/9) waktu setempat. Momen ini terjadi tepat setelah ia dan pasangannya, Hsieh Su-wei asal Taiwan, memastikan tiket ke perempat final dengan kemenangan straight set.
Pasangan unggulan keempat itu menaklukkan duo Australia-Taiwan, Maya Joint dan Chan Hao-ching, dengan skor 6-4, 6-4. Namun, kemenangan tersebut ternoda oleh insiden yang terjadi di sela-sela pertandingan. Ostapenko terlihat menunjuk ke arah pelatih lawan dan mendesak wasit untuk turun tangan, menyusul protes yang sebelumnya disampaikan Hsieh saat pergantian pemain.
Menurut Ostapenko, pelatih lawan terus bertepuk tangan dan berteriak setiap kali mereka melakukan kesalahan, serta melontarkan pujian sinis dalam bahasa Mandarin yang kemudian diterjemahkan oleh Hsieh. “Mereka melakukan ini karena tahu mereka tidak bisa mengalahkan kami,” ujar Ostapenko kepada wasit, seraya menyebut perilaku tersebut “sangat tidak menghormati” dan meminta kehadiran penerjemah bahasa Mandarin.
Setelah wasit menyetujui untuk menangani situasi tersebut, pasangan Ostapenko-Hsieh kembali fokus dan berhasil mengamankan kemenangan. Namun, Ostapenko tak kuasa menahan emosi, ia berteriak ke arah kotak lawan sebagai selebrasi. Yang lebih mencolok, Hsieh dan Chan tidak saling berjabat tangan di akhir pertandingan yang berlangsung panas tersebut.
Insiden ini bukan yang pertama bagi Ostapenko. Pada US Open tahun lalu, ia terlibat pertengkaran verbal dengan petenis Amerika Serikat, Taylor Townsend, yang ia tuduh “tidak punya kelas” dan “tidak berpendidikan”. Ostapenko kemudian meminta maaf, dengan alasan pilihan katanya disalahpahami karena bahasa Inggris bukan bahasa ibunya.
Perilaku Ostapenko yang kerap meledak-ledak di lapangan memang sudah menjadi ciri khasnya. Meski demikian, aksinya kali ini kembali memicu perdebatan tentang batas antara semangat juang dan sikap tidak sportif. Di tengah turnamen sebesar US Open, tensi memang kerap meninggi, tetapi bagaimana seorang atlet mengelola emosi menjadi sorotan tersendiri.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa tekanan di level grand slam bisa memicu reaksi emosional yang tak terduga. Meski tenis Indonesia belum memiliki wakil di level tersebut, pertandingan seperti ini memberikan pelajaran tentang pentingnya sportivitas dan pengendalian diri, nilai-nilai yang juga dijunjung tinggi dalam olahraga bulu tangkis yang populer di tanah air.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Ostapenko akan mampu menjaga emosinya di sisa turnamen. Dengan reputasinya yang sudah dikenal, setiap langkahnya akan terus diawasi, baik oleh wasit maupun publik. Mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bisa tampil konsisten tanpa harus terlibat kontroversi? Atau justru temperamennya yang menjadi bahan bakar performanya di lapangan?



